Hayo, Yang Rukun dan Damai

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Sekarang kita banyak mendengar, ormas-ormas agama, tokoh-tokoh agama, menghimbau rakyat Indonesia bersatu kembali. Beberapa elite, orang pinter-pinter, juga menghimbau agar kita menyudahi segala macem ceclometan di medsos mengenai Pemilu, utamanya Pilpres. 

Enak aja! Lha selama ini kalian ngapain? Kok tiba-tiba sok bijak, sok alim, sok paling berhak ngatur tabiat manusia? Negara ini telah 70an tahun merdeka, tapi belum lama kita menguak iklim demokrasi. Dari dunia politik, kita juga tak menemukan tokoh seperti Sukarno, Hatta, Tan Malaka, yang menyusup jauh ke lubuk hati rakyat, melakukan pendidikan politik. Kemarin dalam Pileg 2019, banyak caleg tak berani menemui calon pemilihnya.

 

Tentu jaman berubah. Namun ujug-ujug meminta rakyat sebagaimana yang dikehendaki; Lhah, selama ini sampeyan-sampeyan ke mana saja? Kok tiba-tiba meminta rakyat rukun, bersatu, jangan terpecah belah? Bukankah kemarin rakyat sudah diminta suaranya? Tapi apa balasannya? Ada orang ngeklaim kemenangan, padahal itu melanggar aturan, dan kalian diam saja. Ada orang MUI ngomong agar quickcount ditiadakan karena mudharat, kalian juga diam saja. Bijimana?

Ada orang memakai dalil agama yang justeru dipakai untuk menghina orang, situnya juga diam saja? Waktu yang bernama Amien Rais mengatakan Tuhan akan malu kalau nggak ngabulin doa agar Prabowo menang? Situ diem saja. Bahkan waktu Neno Warisman bilang Prabowo adalah utusan Allah, dan kalau kita nyoblos dia bakal masuk sorga? Situnya juga membiarkan ‘kan? 

“Kalau kita ingin mulia, tetapi tidak mau payah,” berkata Mbah Kyai Wahab Chasbullah di Magelang, 5 Juli 1939, “maka kita (seperti) menanti turunnya air embun pada waktu panas hari.” Mbah Wahab Chasbullah di depan para nahdliyin waktu itu, bahkan menyampaikan otokritik, “... Kebaikan orang Islam jaman dulu, telah pindah tangan orang bukan Islam. Dulu yang terkenal maju itu orang Islam, tetapi sekarang yang terkenal mundur dan tak berharga itu mereka itulah (maksudnya umat Islam)!”

Sudah begitu, yang sekarang ini, sibuk ngomongin agama untuk milih presiden, tapi tak bisa membedakan mana emas mana loyang. Bagaimana di hadapan politik agama menjadi tampak begitu bodoh? Hus, bukan agamanya yang bodoh. Tentu saja penghayatnya. Bagaimana coba, jika Prabowo tak dimenangkan, kemudian Neno Warisman khawatir tak akan ada lagi yang bakal menyembah Tuhan? Kayak gitu kita juga diam saja? Tidak nganggep sebagai penistaan? Beragama kok tidak adil!

Rakyat jelata sudah mengerti Jokowi menang. Terus yang ribut siapa? Di medsos ramai. Tapi di dunyat situasi kembali normal. Perubahannya, yang tidak mutu jadi agak mutu, yang mutu jadi nggak mutu. Yang mau people power juga cuma berani koar-koar di media. Celakanya, awak media mau-maunya diperalat. 

Daripada cuma ngimba-ngimbau rakyat rukun damai, ajarkanlah agama dengan baik dan benar. Lagian, jangan cuma tiap lima tahun sekali! Agar rukun dan damai bersemai di lubuk hati, bukan lubuk kedunguan kita.

 

(Sumber: facebook Sunardian W)

Tuesday, April 23, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: