Hati Saya Hancur

ilustrasi
Oleh : Sari Muzdar
 
Hati saya hancur ketika melihat di TV seorang kapolres memohon berkali - kali ke sekelompok anak muda dengan pakaian seolah2 relijius untuk menghentikan aksi mereka. 
 
Di TV saya lihat anak-anak muda ini melempar batu lalu di belakang mereka ada api. 
 
Penyiar TV menjelaskan sebagian peserta demo melemparkan batu dan petasan ke barisan polisi. 
 
Saya pernah ikut aksi di tahun 1998, tapi saya lihat polisi sekarang berbeda dengan polisi di tahun 2019. 
 
Anak2 muda ini bagai kesetanan tidak mempedulikan himbauan KAPOLRES, tetap melemparkan barang ke polisi. 
 
Hati saya hancur, karena mereka masih muda, mereka berpakaian gamis dan kupluk putih, tapi berlaku seperti preman. 
 
Hati saya hancur melihat mereka menodai kesucian bulan Ramadhan. 
 
Hati saya hancur ketika capres yang kalah di Pilpres berkoar-koar telah terjadi kecurangan di PILPRES, hingga membuat pendukung mereka EMOSI. 
 
Bahkan seorang dosen, lulusan S2 hukum, dengan lugunya penuh emosi menulis banyak kecurangan padahal dia tidak punya bukti dan tidak tahu seperti apa proses rekap formulir C1. 
 
Padahal sebagai lulusan S2 mestinya yang dia lakukan sebelum membuat legal opinion adalah due diligent research dasar2 hukum. 
 
Seorang akademisi harusnya mencerahkan bukan latah dan emosional 
 
Hati saya hancur melihat seorang akademisi lebih mendahulukan emosi dibanding obyektivitas berdasarkan keahlian dia. 
 
Sebagai calon pemimpin, mestinya secara elegan pasangan Capres dan cawapres 02 mengajak pendukungnya untuk kalem dan menunggu hasil pengumuman KPU bukan malah setiap hari nyinyir di medsos. 
Pemimpin harus bisa menciptakan suasana harmoni anggotanya. 
 
Mestinya mereka mengajukan keberatan secara konstitusional ke MK dengan bukti-bukti yang disyaratkan UU Pemilu dan  Peraturan KPU, bukan berteriak tidak mempercayai KPU, BAWASLU dan MK. 
 
Hati saya hancur ketika ustadz2 dadakan secara narsis sering tampil live di akun medsos mereka menghasut 'umat'nya untuk benci presiden dengan kata2 kasar seperti preman. 
 
Hati saya hancur ketika seorang yang mengaku budayawan ikut latah nyinyir dan menghina presidennya.
 
Budayawan yang tak berbudaya. 
 
Hati saya hancur karena di bulan Ramadhan ini sebagian Muslim  takluk kepada setan dalam darah mereka yang menghembuskan godaan melalui ego mereka
 
Iblis pun yang dulu ahli ibadah terperosok karena EGO 
 
C U K U P. 
S U D A H I 
 
Elite politik mestinya tidak egois
Elite politik mestinya meredam emosi orang2 yang ada di bawahnya. 
 
Hanya sekedar berebut posisi presiden, kalian biarkan rakyat panas berhadap-hadapan dengan polisi, yang juga rakyat kecil.
 
Untuk kalian anak2 muda yang terhasut atau tergoda bayaran sekian ratus ribu, yang kalian lakukan sia-sia, tidak akan mengubah hasil keputusan KPU. 
 
Jangan melakukan kebodohan, kalau kalian tertangkap, atau celaka, kalian mesti menerima resikonya. 
Jangan salahi rezim Jokowi. 
Kalau cerdas, kalian tidak terjun ke jalan. 
 
Untuk kalian yang masih menyebarkan hoax, mohon stop, karena kalau negara ini rusuh, percayalah, kita rakyat kecil sama-sama sengsara. 
 
Sedangkan orang2 yang kalian bela, bisa dengan mudah kabur ke negara lain. 
 
Stop. 
Sudahi sampai di sini
 
Belum tentu tahun depan kita bertemu bulan Ramadhan, mohon hargai kesucian bulan ini
 
Sumber : Status Facebook Sari Muzdar
Friday, May 24, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: