Hati-Hati Survei Ngibul

Oleh: Sunardian Wirodono

 

"Dari 100 persen pemilih yang tidak tamat SD, ada 55,1 persen yang memilih Jokowi-Ma'ruf, 31,3 persen memilih Prabowo-Sandi, 13,6 persen undecided," kata Rico Marbun, Direktur Eksekutif Median di warung Bumbu Desa Cikini, Jakarta, Senin, 21 Januari 2019.

Rico juga menuturkan dari 100 persen pemilih yang tamat Perguruan Tinggi (PT), sebanyak 58,0 persen memilih Prabowo-Sandi, sedangkan 35,9 persen memilih Jokowi-Ma'ruf, dan 6,1 persen masih undecided.

 

 
 

Demikian dua paragraf di atas saya kopas dari tempodotco (21/1), sementara judul berita: “Survei: Jokowi Unggul di Kalangan Lulusan SD, Prabowo di Sarjana”. Dari sumber dua kutipan itu (media online dan paparan lembaga survei pada sebuah diskusi), pesan saya harap hati-hati membacanya.

Dalam penulisan berita, antara judul dan isi bisa melenceng jauh. Kutipannya menyebut ‘yang tidak tamat sd’, padahal pada judul ‘lulusan SD’. Data BPS teranyar (2/2018), dari penduduk usia 15 tahun ke atas, ada kategori (1) ‘tidak atau belum pernah sekolah’, (2) ‘tidak atau belum tamat SD’, dan (3) ‘lulus SD’. Dan itu menyangkut selisih angka.

Selisih angka antara yang tidak tamat SD dengan lulusan SD, sangat besar, mencapai 16 jutaan. Ketidaksesuaian judul berita dengan isi berita, bisa menyesatkan. Isi berita menyebut ‘tidak tamat sd’ tapi judul berita menyebut ‘lulusan sd’. Padahal kita tahu, ‘tidak tamat sd’ dan ‘lulusan sd’ berbeda. Sama dengan isi berita menyebut ‘lulusan perguruan tinggi’, sementara judul berita menyebut ‘di sarjana’.

Tamat Perguruan Tinggi dari lembaga survei tidak menjelaskan apakah mencakup semua lulusan akademi/diploma, atau hanya universitas? Jika mengikuti judul berita ‘di sarjana’, bukankah lulusan akademi/diploma juga disebut sarjana? Karena data BPS mengelompokkan data lulusan akademi/diploma dan lulusan universitas terpisah, dan itu menyangkut selisih sekitar 9 jutaan.

Bagaimana pula dengan yang lulus SD, SMP, SMA/SMK, akademi/diploma? Karena kalau mengikuti judul berita liputannya, dengan menyebut lulusan SD, persentase pemilih akan menunjukkan Jokowi unggul, sedangkan jika hanya membandingkan yang tidak tamat SD (versi lembaga survei), lawan Jokowi yang unggul.

Lagi pula, pertanyaannya, kenapa diperbandingkan yang tidak tamat SD dengan yang lulusan perguruan tinggi? Kesan yang ingin dimunculkan survei, lebih merupakan upaya pendelegitimasian capres tertentu. Yang satu didukung pemilih tidak terdidik (tidak tamat SD), satunya didukung berpendidikan tinggi (tamat perguruan tinggi). Bagaimana membandingkan dua hal yang tak sebanding dalam jumlah (berselisih jutaan), sementara angka yang dimunculkan adalah persentase?

Lembaga survei ngibul dan dipublikasikan oleh media tidak correct (media apapun namanya), adalah pengawuran memprihatinkan. Di mana peran media dan lembaga publik, dalam meng-edukasi warga atas nama demokratisasi? Sila bersilatpena atas nama profesi.

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)
Tuesday, January 22, 2019 - 17:45
Kategori Rubrik: