Hati-Hati Pada Ulama Yang Dikit-Dikit Ndalil

Ilustrasi

Oleh : Lantip Wicaksono

Sebagai umat muslim kita harus meneladani Rasulullah SAW yang menjadi tauladan bagi kita. Ada beragam panduan hidup secara Islami dalam Al Qur’an, Hadits, Kitab para ulama besar yang Insya Allah akan menyelamatkan kita baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai muslim yang awam, tentu kita sangat suka belajar dengan kitab suci kita, dengan hadits Rasulullah, dengan cerita para sahabat nabi, maupun para Tabiin dan ulama-ulama besar.

Tahun 70an hingga akhir 2000an kita begitu teduh mendengar banyak ulama berceramah mensyiarkan agama Islam. Bukan hanya melalui televisi, radio bahkan di berbagai masjid sekitar kita. Dan para dai itu lebih banyak menuturkan cerita-cerita yang damai nan sejuk. Bahkan dalam 1-2 jam ceramahnya hanya beberapa ayat atau hadits yang dikutip. Mereka lebih menekankan pada keberadaan kita, perilaku kita, tindakan kita. Namun sejak awal 2010, mulailah banyak dai, ulama, kyai di Indonesia yang berkhotbah, ceramah atau syiar justru membuat permusuhan. Jika digali, mereka bukan ulama-ulama NU, dan jargon utama mereka selalu “kembali pada Al Qur’an dan Hadits”.

Ini yang patut disesalkan. Mengapa? Sebut saja mereka kelompok intoleran yang ingin menyerang NU, yang ingin merusak Islam seperti apa yang dibangun walisongo. Perbedaan mencolok para dai kelompok intoleran ini lebih banyak mengutip Al Qur’an dan Hadits, lebih suka mengupas amaliyah NU plus menyesatkan tradisi NU, berkutat pada halal haram dan sekarang ini semua seakan-akan tidak sesuai dengan Islam Nabi Muhammad.

Mereka tahu mayoritas umat Islam di Indonesia memang kurang dalam pemahaman atas Al Qur’an dan Hadits. Mengapa? Jelas karena bahasa yang digunakan adalah bahasa dimana Islam diturunkan. Oleh para Ulama-ulama NU, apa yang ada dalam Al Qur’an dan Hadits serta kitab-kitab sudah diolah dan disampaikan secara sederhana. Sehingga masyarakat awam tinggal menjalankan saja. Mengapa begitu? Memahami Al Qur’an dan Hadits tidak boleh dilakukan sembarang orang sebab ada prasyarat yang harus dipenuhi agar tidak disalahfahami. Sayangnya saat ini banyak dai yang hanya mengandalkan nalar tanpa ilmu yang lengkap.

Berkembangnya teknologi informasi menyebabkan orang bisa dianggap punya kapasitas keagamaan padahal masih jauh dari mumpuni. Sebut saja Jonru, Felix Siaw, Irene Handoko, Nanik Deyang, Sugi Nur Raharja dan masih banyak yang lainnya. Bagaimana bisa mereka yang kemampuan agamanya terbatas diminta ceramah, khotbah diberbagai kesempatan bahkan diakui kebenarannya. Mereka tidak punya sanad keilmuan yang jelas seperti dimiliki oleh kaum nahdliyin. Jangankan kyai NU, generasi muda NU saja jauh lebih mumpuni untuk adu keilmuan dengan mereka.

Sebagai ilustrasi, muslim awam seperti kita sebaiknya mengkonsumsi santan yang sudah siap olah saja. Biarkan kelapa di pohon dipetik oleh para ulama-ulama besar untuk diolahnya. Sebab memahami ilmu Al Quran dan Hadits butuh banyak cabang ilmu lain. Ingat, terjemahan Al Qur’an jelas tidak bisa dimaknai dalam bahasa Indonesia begitu saja. Kita butuh menguasai ilmu alat, ilmu Tafsir, Ilmu Mustholah dan Syarah Hadits, Ilmu Kitab Rijal, Ilmu Kitab Tarikh dan Ilmu Qur’an. Tiap Ilmu tadi masih punya turunan sendiri atau cabang ilmu. Para Ulama NU cenderung berhati-hati dengan itu semua sehingga menyampaikan dakwah selalu menyesuaikan audiens serta tempat. Tidak menggeneralisir disamakan. Dakwah itu mengajak, merangkul, membuat orang nyaman menjalankan. Bukan justru menakut-nakuti bahkan was-was dalam beragama.

 

Monday, February 5, 2018 - 00:15
Kategori Rubrik: