Hati-Hati Memobilisasi Kebencian, Kematian Taruhannya

http://www.nytimes.com/2016/03/13/opinion/sunday/my-fathers-killers-funeral.html?action=click&pgtype=Homepage&clickSource=story-heading&module=opinion-c-col-right-region&region=opinion-c-col-right-region&WT.nav=opinion-c-col-right-region&_r=0

Oleh Made Supriatna

Salman Taseer adalah bekas gubenur propinsi Punjab di Pakistan. Dia diangkat menjadi gubernur tahun 2008 dan dibunuh tahun 2011. Penyebabnya adalah karena dia menentang hukum penodaan agama yang amat keras di Pakistan. Penentangan itu dia ucapkan dalam satu talk-show di TV lokal.

Kasus penodaaan agama ini bermula dari hal yang sangat sehari-hari. Adalah sekelompok perempuan desa sedang memanen bersama. Salah satu dari perempuan itu adalah Aasiya Noreen atau yang lebih dikenal dengan nama Asia Bibi. Kebetulan pula, perempuan yang bekerja sebagai buruh tani dan suaminya buruh pembuat batu bata ini, beragama Kristen (Katolik). Sebagaimana umumnya kaum Kristen di Pakistan dan Asia Selatan yang kebanyakan dari kelas dan kasta terendah.

Kejadiannya berawal dari sesuatu yang sangat sepele. Bibi minum dari gelas yang sama dengan perempuan-perempuan lain yang Muslim. Terjadilah percekcokan karena mereka yang Muslim menganggap Bibi yang bukan Muslim itu kotor sehingga tidak boleh minum dari gelas yang sama dengan mereka. Hingga disinilah percekcokan itu berubah menjadi soal agama. Dalam adu mulut Bibi dituduh mengatakan sesuatu yang menghina Nabi. Otomatis, ini adalah soal penghinaan agama. Di Pakistan hal yang demikian juga ini berarti surat kematian yang sudah ditandatangani.

Kasus ini memancing kemarahan yang meluas di masyarakat Pakistan. Provokasi terjadi dimana-mana. Mereka yang merasa saleh merasa terhina kesalehannya. Mereka yang taat pada Tuhan yang menganjurkan jangan membunuh, justru merasa perlu untuk membunuh. Demi membela Tuhan!

Bibi pun diadili. Seperti kehendak masyarakat luas, pengadilan pun menghukum mati dirinya karena melakukan penodaan agama.

Kekerasan pun meledak dimana-mana. Seorang menteri Kristen, Shahbaz Bhatti, dibunuh. Demikian juga Salman Taseer, yang mengajukan petisi agar Asia Bibi dibebaskan.

Taseer dibunuh ketika dalam perjalanan keluar makan siang bersama temannya. Pembunuhnya adalah pengawalnya sendiri, Malik Mumtaz Qadri, yang menghujani dia dengan 27 kali tembakan memakai AK-47.

Proses pengadilan Malik Mumtaz Qadri pun berbelit. Dia lama tidak ditahan. Namun akhirnya pengadian memutuskan dia dihukum mati. Pada tanggal 29 Pebruari kemarin, Malik Mumtaz Qadri akhirnya menjalani hukuman mati.

Reaksi publik Pakistan sangat mengejutkan. Ratusan ribu orang turun ke jalan untuk mengiringi pemakaman Malik Mumtaz Qadri.

Aatish Taseer, putra salman Taseer, hari ini menulis sebuah esei di New York Times tentang pemakaman pembunuh ayahnya. Ini adalah salah satu prosesi kematian paling besar di Pakistan setelah Benazir Bhutto dan si Bapak Pakistan, Muhammad Ali Jinah.

Sekaligus ini mungkin adalah prosesi kematian terbesar untuk seorang pembunuh. Orang-orang ini, demikian keluh Aatish Taseer, "terdorong bukan oleh cinta mereka kepada yang mati namun kebencian mereka kepada yang dibunuh."

Kita melihat kasus unik ini dimana negara berusaha tegak dengan akal sehatnya, yakni menghukum mati dia yang membunuh. Namun, masyarakat memiliki normanya sendiri: hukum harus mendukung kebencian mereka. Inilah yang mereka pertunjukkan dengan mobilasasi kebencian besar-besaran. Dalam hal ini, pemuka-pemuka agama dan politisi yang mengeksploitasi agama bersatu mengorganisasi kebencian ini.

Haruskah kita bersyukur bahwa hal seperti ini tidak terjadi di Indonesia?

Siapa bilang tidak terjadi? Tidakkah kita ingat akan kebencian-kebencian kepada minoritas yang terjadi dimana-mana? Tidakkah kita ingat bahwa demagoguery, politik menebarkan kebencian dan prasangka untuk memobilisasi massa, sudah menjadi sangat rutin di negeri kita? Bagaimana dengan kebencian terhadap Syiah? Bagaimana dengan pengusiran paksa terhadap Jemaah Ahmadiyah? Bagaimana dengan kebencian terhadap kaum LGBT? Kemudian, yang paling besar, bagaimana dengan penindasan hingga ke akar-akarnya terhadap orang-orang PKI dan keluarga serta keturunannya?

Demikian lemah kita sebagai bangsa sehingga kita menyempitkan pandangan dan takut melihat diri kita sendiri. Kita selalu menyangkal kesempitan berpikir kita dan berilusi tentang betapa tolerannya kita. Sedemikian rendah diri kita sebagai bangsa sehingga kita menolak untuk melihat kebaikan di pihak yang kita yang kita tidak setujui, pihak yang kita anggap sesat, pihak yang memuja Tuhan dengan cara lain seperti kita.

Anda mungkin akan marah kalau saya katakan ini, "Kepercayaan yang tidak pernah diragukan, tidak layak untuk diyakini."

Demikian rendah diri perasaan diri kita sehingga kita selalu berprasangka bahwa pihak luar melakukan 'proxy wars' kepada kita.

Kita tidak lebih baik dari Pakistan!

(Diambil dari status Facebook Made Supriatna)

Sunday, March 13, 2016 - 09:45
Kategori Rubrik: