Hati-Hati, Jangan Ulamakan Orang Bodoh

Ilustrasi

Oleh : Alyssa Nazila

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Sinan] telah menceritakan kepada kami [Fulaih bin Sulaiman] telah menceritakan kepada kami [Hilal bin Ali] dari ['Atho' bin Yasar] dari [Abu Hurairah] ra. mengatakan; Rasulullah SAW. bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya; 'bagaimana maksud amanat disia-siakan? ' Nabi menjawab; "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (HR. Bukhari No. 6015)

Mengaji domain agama tanpa sanad yang jelas dan sahih, dengan tempo yang sesingkat-singkatnya adalah efek paling mengerikan dari tumbuhnya teknologi informasi. Belajar agama mestinya melalui para pakarnya seperti kiai-kiai di berbagai pondok pesantren atau para ulama yang menjadi dosen di sebuah univeraitas, yang jelas-jelas memiliki kualifikasi dan bahkan “ijazah” kelimuan di bidangnya.

Ibnul Mubarak berkata:
”Sanad Merupakan bagian dari Agama, 
Kalaulah bukan karena Sanad, Maka pasti akan Bisa berkata Siapa saja yang Mau apa saja yang diinginkannya, (dengan akal pikirannya sendiri).” 
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah Kitab Shahihnya 1/47 No. 32)

Tashawwuf tidak berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, ia memiliki sanad yang bersambung hingga Rasulullah. Adapaun yang dimaksud khirqah secara bahasa adalah "pakaian" atau "kain". Bahasa-bahasa dengan penyebutan fisik semacam ini hanya sebagai ungkapan atau "lambang" dari ilmu-ilmu yang berkembang dikalangan kaum Sufi, yang hal tersebut terjadi secara turun temurun dari guru ke murid sebagai sanad.

Jika kita mendengar ceramah Habib Ali al-Jifri, maka silsilah khirqah itu dipakaikan kepadanya oleh gurunya Syaikh Abdul Qadir al-Segaf, dari Ahmad bin Abdurrahman al-Seqaf, dari gurunya Ali bin Muhammad al-Habsyi, dari gurunya Abubakar bin Abdillah al-Attas, dari gurunya Hasan bin Sholeh al-Bahri al-Jufri, dari gurunya Umar bin Segaf Ashafi al-Segaf, dari gurunya Hasan bin Ali al-Jufri, dari gurunya Ahmad bin Zain al-Habsyi, dari gurunya Abdullah bin Alawi al-Haddad, dari gurunya Umar bin Abdurrahman Alattas, dari gurunya Husain bin Syaikh Abibakar bin Salim, dari gurunya al-Fakhr Abubakar bin Salim, dari gurunya Syihabuddin al-Akbar, dari ayahnya Abdurrahman bin Ali, dari ayahnya Ali bin bin Abibakar, dari ayahnya Abubakar bin Abdurrahman Assegaf, dari ayahnya Muhammad bin Ali Mauladdawilah, dari ayahnya Ali bin Muhammad, dari ayahnya Ali bin Alwi, dari ayahnya Alwi al-Ghuyur, dari ayahnya Muhammad al-Faqih al-Muqaddam, dari ayahnya Ali, dari ayahnya Muhammad Shahibul Mirbad, dari ayahnya Ali Khali’ Qasam, dari ayahnya Alwi, dari ayahnya Muhammad, dari ayahnya Alwi, dari ayahnya Ubaidillah, dari ayahnya Ahmad al-Muhajir, dari ayahnya Isa al-Naqib, dari ayahnya Muhammad Jamaluddin al-Naqib, dari ayahnya Ali al-Uraidhi, dari saudaranya Musa al-Kadzim, dari ayahnya Ja’far al-Shadiq, dari ayahnya Muhammad al-Baqir, dari ayahnya Ali Zainal Abidin, dari ayahnya al-Husain bin Ali, dari ayahnya Ali bin Abi Thalib, dari Nabi Muhammad SAW.

Sumber : Status Facebook Alyssa Nazila

Sunday, December 31, 2017 - 18:15
Kategori Rubrik: