Hati-Hati, Jadi Muslim Yang Kaffah Tidak Terperosok Teroris

Ilustrasi
Oleh : Johan Wahyudi
 
1. Mereka ini awalnya adalah orang² baik yg berusaha jadi lebih baik dg ikut kelompok-kelompok pengajian. 
 
2. Oleh guru ngaji kelompok pengajiannya ditanamkanlah mana sikap² yg sesuai sunnah nabi (berdasarkan versi mrk) , mana yg tidak nyunah. Mulai dari makan minum sambil duduk, tidur berbaring ke kanan. Kalo ada laler masuk ke minuman tuh laler dicelupin dulu ke air baru airnya bisa diminum. 
Ngerembet ke celana cingkrang,  pake jenggot,  jidat item, kalo ngobrol dg lawan jenis gak boleh kontak mata. Wal hasil itu ditanamkan terus hingga mereka yg melakukan itu semua merasa lebih "nyunnah" dari yg lain. 
 
Belajar agama dg orang² ini adalah SAMI'NA WA ATO'NA. nurut dg ajaran mrk sama dg nuruh ajaran Nabi. Kritis dilarang. Beda cara beragama berarti ngga sesuai sunnah nabi. Krn sumber sunnah Nabi harus berasal dari golongan yg sepemikiran dg mrk. Mau dia kiyai,  mau dia profesor lulusan Mesir,  gak peduli.  Beda = Ngga sunnah. 
 
Jangan heran kalau ulama besar sekaliber Quraish Shihab,  KH Said Aqil,  Gus Mus, dll dianggap kalah ilmu dg ustad² yg ngajinya seminggu sekali dg murobi yg ilmunya 1 tahun di atas dia. Sekalipun dia mualaf (orang yg baru kenal Islam beberapa tahun saja). 
3. Dari sikap paling sesuai sunnah,  ngerembet ke sikap lebih Islami dari yg lain. Kalau uda begini anda beda pilihan/pendapat dg mereka langsung dianggap sesat,  kafir, bid'ah. Kadang thd orang tua/keluarganya sendiri sering konflik hny krn beda cara beragama. 
 
4. Dari menolak perbedaan, sampai menganggap mereka yg beda itu musuh. Walau pun mereka satu agama. Mereka merasa mewakili "Umat Islam" yg sedang dizolimi hingga harus melawan.   Musuh kelompok dianggap musuh  agama. Hingga membuat isu hoax/fitnah/kebencian thd kelompok2 yg beda dianggap bagian dari perjuangan agama. 
 
5. Kebencian yg mendalam thd kelompok yg berbeda,  yg dianggap kafir, dianggap dzolim,  berubah menjadi perilaku keras yg berujung terorisme. Membunuh mereka dianggap jihad dan mereka bangga melakukannya.
 
Embrio kelompok-kelompok ini mulai dari Rohis di sekolah² , kampus², kegiatan² masjid. 
Sasarannya adalah orang² baik yg polos. Mereka memilih serius belajar agama dan ingin jadi pribadi yg lebih baik.  Mereka mengira guru² yg mengajarkan agama adalah orang² tulus, ikhlas & tidak punya kepentingan apa pun spt dirinya. Guru yg sama yg mengajarkan ma'rifatullah,  ma'rifaturrasul,  akhlaq,  shirah nabawi,  tauhid adalah orang yg sama yg juga mengajarkan kebencian dan membunuh saudaranya yg tidak sepaham sbg ibadah. Sehingga ajaran kebenaran dan kebatilan terlihat sama. 
 
Saran saya,  gunakan "AKAL" mu saat akan berguru ke mana pun. Dengan akal kita bisa membedakan mana yg baik yg bisa diambil ibroh/pelajaran, dan mana yg penting untuk dikritisi.  Meski pun itu keluar dari GURU NGAJI.  Akal itulah yg membedakanmu dg makhluk lainnya,  hingga ketika kamu belajar kamu menjadi "Manusia" bukan malah menjadi "Domba" yg dicocok hidungnya. Hidupmu spt zombie yg dikendalikan orang lain. 
 
Kamu diperintahkan Belajar Agama untuk menjadi menusia yg berilmu.  Karna ciri orang berilmu itu PASTI BIJAK & TUJUAN AKHIR ilmu agama adalah BERAKHLAQ thd sesama. Bukan malah semakin buas.
 
Sumber : Postingan Johan Wahyudi di group Whatsapp
Sunday, May 13, 2018 - 12:45
Kategori Rubrik: