Hati-Hati Dengan Cerita Hoax Yang Kamu Dapatkan

ilustrasi

Oleh : Septin Puji Astuti

Ceritanya, beberapa minggu lalu saya diminta teman-teman menyuarakan isi hatinya ke pimpinan tentang masalah keuangan. Padahal saya paling anti ngomong urusan duit. Tapi karena ditodong sebagai 'senior' yang biasa bersuara dan kemungkinan didengar, akhirnya saya mau saja dikasih amanah.

Selesai bersuara, besoknya kok kebetulan urusannya sudah beres. Karena memang aslinya sudah beres, tinggal tunggu waktu saja. Tapi kok pas sehari setelah saya bersuara.

Suatu saat saya ketemu teman yang memang baru beberapa tahun ini gabung di kampus. Karena tahu saya habis 'mengaum', teman ini ngajak ngobrol,
"Lha iya bu, gara-gara dikasih Pajero dan Fortuner aja jadi kayak gini".

Saya sudah tahu gosip yang tersebar, dan saya tahu betul status mobil Pajero dan Fortuner itu. Ya, ada gosip ada yang diberi mobil. Sebelum teman saya tanya, saya cari tahu siapa pejabat yang mobilnya baru. Ternyata gak ada. Adanya ya mobil dinas Pajero dan Fortuner yang gak baru itu 
Saya kemudian menjelaskan ke teman saya, "Nggak, Mas. Itu mobil dinas",kata saya.

"Nggak, Bu. Ceritanya ... bla bla bla", kata teman saya menjelaskan panjang.

"Sampean wis yakin?", tanya saya.
"Lha ceritanya gitu. Njenengan gak tahu ta?", katanya.
Saya bilang saya tahu. Tapi saya jelaskan dianya tetep ngeyel. Ya wis, akhirnya,
"Kalau itu pemahaman sampean yo wislah. Wis kasih tahu", kata saya yang kemudian kami berpisah.

Hoax, itu memang kejam. Dari masalah ini, yang kena dampak cerita buruk gak cuma dua orang yang menggunakan mobil Pajero dan Fortuner, tapi bagian lain yang ngurusi keuangan juga kena. Ini hanya di lingkungan kampus yang (katanya pendidikannya tinggi) yang gak lebih besar dari desa. Apalagi kalau negara, akan sulit menghindari hoax.

Kalau saya di sini posisinya memerangi hoax. Kalau ternyata penyebar hoax itu dari 02, ya apesmu saja tak perangi. Kalau 01 nyebar hoax ya bakal urusan dengan saya. Itu teman saya yang saya ceritakan itu pendukung 01. Tapi isu hoaxnya hanya level kampus dan bukan pilpres.

Kalau baca tulisan, bedakan opini dan berita. Bedakan humor dan opini, meski humor seringnya dimaksudkan menyampaikan gagasan/opini. Jangan humor dianggep fakta/berita. Kebolak-balik itu.

Di dunia maya, heboh sekali pilpres seolah-olah dianggap sebagai perang ideologi non-Islam vs Islam. Katanya ini perang antek asing/aseng vs pribumi. Padahal bukan itu.

Saya share foto ini. Bu Noto alias Bu Sugiatmi ibunya Jokowi di tengah, yang kiri saya tidak tahu, dan yang kanan yang bercadar itu adik teman saya. Dia Sunni tapi saya gak menyebut afiliasinya ya. Yang jelas bukan HTI karena HTI tidak bercadar. Salah kalau ada yang bilang orang cadaran itu HTI. Termasuk benderanya. Itu bendera Al Liwa' dan Ar Raya memang sering dibawa HTI. Tapi ormas lain juga menggunakan itu, seperti FPI. Kalau sekarang malah tambah jahil menggunakan bendera itu untuk mancing emosi yang gak suka. Balik ke mbaknya, mbak di kiri dan kanan itu bukan orang jauh. Masih orang Solo saja. Jelas yang tahu silsilah Jokowilah.

Orang-orang seperti mbak dua itu diam dan tidak menunjukkan sikap. Saya beberapa kali menemui orang seperti itu. Masih banyak yang diam seperti mereka. Baik diam mendukung 01 atau mendukung 02. Katanya, "Gak usah menunjukkan, nanti tinggal dicoblos saja". Beda ya biasa saja. Salut saya dengan mereka yang kalem dan punya sikap.

Beda dengan yang emosian dan fanatik. Ada yang berkerudung biasa tapi semangat membela Islamnya luar biasa. Senggol bacok katanya.

Nah, jika ada yang mengatakan pilpres kali ini peperangan non Islam vs Islam adakah yang percaya?

Lha wong Kyai Ma'ruf Amin keilmuan agamanya jelas level atas, masih aja ini dianggep perang ideologi non-Islam vs Islam.

Ulama itu dari dulu dimanfaatkan saja dan gak dikasih kekuasaan. Kok malah dibilang menistakan ulama. Ini lho ulama langsung dikasih tempat duduk, wakil presiden, bukan cuma dijanjikan sebagai menteri. Memanfaatkan ulama? Saya kira gak hanya memanfaatkan, tapi memberi kepercayaan kepada ulama untuk membantu membenahi negeri. Bukan disuruh ceramah dan cari pendukung aja untuk menggaet pemilih, kemudian waktu bagi-bagi kekuasaan malah ulama disuruh minggir dan nonton saja.

Dulu ada ulama jadi presiden aja langsung diturunkan oleh teman muslimnya sendiri to? Bukan orang kafir atau orang yang gak ngerti agama yang menurunkan Gus Dur, tapi orang muslim. Beliau itu dianggap taat berIslamnya.

Sekarang, DKI 2 dulu diPHP katanya dikasihkan Partai Islam. Ternyata sampai sekarang belum beres kan? Bahkan terkesan tidak akan dikasih ke partai Islam. Koreksi saya kalau saya salah melihat kasus DKI 2.

Nggihpun itu saja.
Sugeng enjing nggih sederek.

Kalau jengkel dengan status saya, mohon unfriend saja ya. Saya baik-baik saja kok.

Sumber : Status Facebook Septin Puji Astuti

Thursday, April 4, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: