Hasil Pertemuan Menkominfo dengan Pendiri Google Sergey Brin

 

REDAKSIINDONESIA - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara bertemu pendiri Google Sergey Brin. Sebelumnya pada Oktober 2015 lalu, Menkominfo mengunjungi negara bagian California di Amerika Serikat, untuk bertemu dengan komunitas teknologi serta mendukung Google melakukan uji coba balon udara penyebar akses Internet (Google Project Loon). Dalam pertemuan kali ini, Rudiantara menindaklanjuti pembicaraannya dengan Brin soal balon udara Google dan isu lainnya mengenai telekomunikasi-informasi. Simak hal apa saja yang dibicarakan keduanya.

Pak Menteri menyampaikan bahwa sewaktu kunjungan ke Silicon Valley Pak Presiden Jokowi tidak hadir ke Silicon Valley pada akhir Oktober 2015 karena mempercepat lawatannya di Amerika Serikat. Namun Pak Presiden Jokowi sangat concern terhadap kemajuan digital economy nasional dan juga bagaimana agar menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Pak Presiden Jokowi masih ingin mengunjungi Silicon Valley.

Sergey menyambut baik akan hal ini dan memajukan digital economy sangatlah bermanfaat ke depannya bagi Indonesia. Di Indonesia sudah ada beberapa yang sangat cepat berkembang misalnya aplikasi terkait transportasi. Google juga akan mendorong aplikasi-aplikasi tersebut agar mengglobal.

Pak Menteri kemudian menyampaikan pemikiran tentang bagaimana membuat Indonesia menjadi digital economy terbesar di Asia Tenggara, yaitu dengan menciptakan 1000 teknopreneur sampai tahun 2020. Di sinilah Google dapat berperan untuk menciptakan bibit-bibit (seed) startup sehingga mereka dapat menjadi teknopreneur. Sergey sangat mendukung hal ini dan akan menambah target program pengembangan teknopreneur di Indonesia sehingga membantu penciptaan sebagian dari 1000 startup tersebut.

Pak Menteri menyampaikan juga tidak hanya sisi aplikasi dan network tetapi juga dari sisi perangkat. Dalam hal ini bagaimana menciptakan handset smartphone yang sangat murah untuk country region di Indonesia, salah satunya memanfaatkan Android One. Sergey sangat antusias akan hal itu dan akan membantu upaya-upaya Indonesia dalam menciptakan device murah.

Update mengenai Loon dan hasil kunjungannya di Google dan aspek teknis yang diperlukan termasuk kebutuhan spektrum frekuensi untuk backhaul. Pak Menteri menambahkan bahwa Loon merupakan sisi pemenuhan akses dan bagus untuk wilayah rural. Sergey juga menanggapi bahwa dengan kondisi geografis Indonesia Loon sangat sesuai, bisa menjangkau luas area permukaan dengan diameter 80 km.

Google Loon Project, akan diadakan trial selama tahun 2016 di Indonesia bekerjasama dengan 3 operator selular di pita frekuensi 900 MHz yang telah dialokasikan kepada operator selular tersebut, yaitu Telkomsel, Indosat dan XL Axiata.

Penggunaan handset 4G yang ada di pasaran (jadi bukan handset yang baru). Prinsipnya Google tidak akan pernah dan tidak menjadi operator baru, melainkan hanya sebagai penyedia teknologi "tower dan eNodeB (BTS) di angkasa". Google Loon Project Trial ini hanya digunakan untuk kepentingan komunikasi saja. Dengan batasan-batasan yang tegas dan jelas, Google sepakat dengan ketentuan tersebut.

Bagi Indonesia, solusi Google Loon merupakan solusi alternatif dan komplementer penetrasi Broadband 4G di daerah pedesaan rural, perbatasan maupun di wilayah-wilayah pantai, dan maritim serta pulau-pulau dan laut di antaranya, untuk memberikan konektivitas broadband 4G yang memadai dan terjangkau bagi masyarakat. Dikarenakan bila melalui metoda konvensional tower terrestrial, hal tersebut sulit dilaksanakan (tidak mungkin pasang tower di laut). 

Indonesia akan serius menata Fixed Broadband tahun 2016 nanti. Kominfo telah mempelajari inisiatif Google Fiber di mana terjadi kerja sama yang sangat baik antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah di Amerika Serikat dan penyelenggara TIK termasuk Google dengan prinsip-prinsip open access, non diskriminatori serta partisipasi semua stakeholder, kemudahan "right of ways" serta manfaat layanan Fixed Broadband bagi masyarakat setempat.

Menkominfo ingin mempelajari model kerjasama seperti Google Fiber tersebut untuk dapat dijadikan salah satu referensi percepatan pembangunan Fixed Broadband di Indonesia. Handset Android 4G murah, menjadi tujuan kebijakan Kominfo pada tahun 2017 nanti agar handset 4G untuk layanan Brodaband bisa terjangkau oleh masyarakat. Menkominfo mengharapkan Google bisa membantu bekerjasama dengan ekosistem manufaktur lokal maupun pengembang aplikasi di tanah air untuk memberikan solusi handset 4G murah sebagaimana pernah dilakukan dalam inisiatif Android One beberapa waktu lalu. 

 

Sumber: kominfo.go.id

Wednesday, December 30, 2015 - 10:15
Kategori Rubrik: