Harusnya MAI Bukan MUI

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Dilantiknya Plt Dirjen Bimas Katholik yg di jabat oleh Prof.Dr.H. Muh. Amin terhitung 1 Juli 2019 yg beragama islam, dan baru viral sekarang menjadi tambahan kejanggalan Kemenag di bawah kepemimpiman Menteri Fachrul Razi yg sempat membuat kita lega krn statementnya memegaskan bhw dia Menag RI, bkn Menteri Agama Islam. 

Tapi ternyata komitmen itu hanya komat-kamit. Buktinya dia mulai nakal telah merekomendasikan perpanjangan izin FPI yg terkenal sbg ormas sesuka hati. Belakangan yg membuat kita gusar malah dia merekomen orang ex Indonesia dan ex ISIS utk dibawa pulang. Sontak isi batok kepala kita panas. Ngurus yg ada saja kita gerah mau di tambah wabah yg biasa bersimbah darah. Hal layak ramai sampai bertanya dia ini sebenarnya mau apa dgn Indonesia.

 

Benang merah antara statement yg tak konsisten itu dgn di lantiknya Prof. Muh. Amin adalah menunjukkan orang ini seperti gagal mikir. Lha jabatan Dirjen Bimas itu kan bimbingan masyarakat, terus bagaimana jadinya umat Katholik di bimbing seorang islam yg pasti tidak membaca kitab suci umat Katholik. Dengan alasan apapun ini sdh gak benar, apalagi jabatan Plt itu sdh berjalan 7bln, kok seperti umat Katholik gak punya orang yg kapasitasnya bisa menjabat Dirjen Bimas Katholik, ratusan Romo yg berpendidikan diatas S2 berjibun disana. Kok sepertinya Menag gagal paham. 

Janganlah nanti terkesan keyakinan umat diluar islam akan di kerdilkan. Apa gak cukup orang islam menguasai jabatan di negeri ini dari mulai Presiden, Wapres, sampai carek kebanyakan islam, lha ini sampai urusan agama Katholik mau diurusi orang islam, apa mau mempermudah agar kalau ada izin mendirikan gereja jd di mudahkan. Tapi kelihatannya gak kesana tuh, buktinya baru kemarin ada gereja yg di bangun thn 1928 di Tj. Balai dan mau di renovasi malah IMB nya di gugat utk di batalkan, kok Dirjennya diam, saya krg tau itu gereja Katholik atau Kristen, tapi itu sebuah ketimpangan, lalu buat apa ada Menag RI, kalaupun dia Menag Islam, dia juga telah mencoreng agama yg penuh toleran itu.

Islam itu sudah begitu dominan di atas klaim karena mayoritas. Ormasnya saja begitu berotot, MUI sbg pabrik fatwa sangat digdaya. Bisa memegang mandat buat sertifikat halal, bertahun tanpa audit, walau belakangan di tarik dibawah Kemenag, tapi ada yg bisik-bisik sdh balik ke MUI lagi. 

So, kalau umat islam ini sudah berlapis diurusi dari mulai Menagnya, MUInya, Ustadznya, Ormasnya, dst. Kenapa agama lain seolah terlunta-lunta di buat tak berdaya, bahkan mendirikan rumah ibadah makin tidak mudah. Untuk itulah sebaiknya dibuat lembaga Majlis Agama-agama Indonesia / MAI yg posisinya sama dgn MUI agar bisa sejajar, bukan malah di hajar. Karena disengaja atau tidak lima agama yg diakui negara ini hanya islam yg di anak kandungkan, ribuan masjid dan mushala bs berdiri kapan saja, begitu umat agama lain mau mendirikan rumah ibadahnya dirasakan bgt sulitnya. Inilah yg saya maksud bahwa PANCASILA hanya ada di papan nama, karena ketuhanan yg maha esa sudah tak berlaku utk agama empat lainnya, Tuhan seolah dimonopoli umat islam dan tidak boleh hadir di rumah ibadah orang lain. Padahal kalau Tuhan mau menghancurkan keyakinan agama lain Dia yg lebih dahulu dan mampu, bukan kita. Kenapa Dia tidak hancurkan, ya karena disetiap rumah ibadah berkumandang disetiap hati umat yg hadir memuja nama Tuhan. Kalaupun caranya berbeda, di dengar atau tidak oleh Tuhan itu bukan urusan kita. 

Prof. M. Qurasy Shihab mengatakan, kalau menuju Tuhan ada angka 10, kita bs memakai 5+5, Katholik memakai 6+4, Kristen 7+3, dst. Jadi tidak semua 5+5 selainnya tidak bisa. Tuhan yg menciptakan keragaman kok manusia mau menyeragamkan, bahlul kok di pikul.

Saya sebagai muslim miris melihat prilaku tak sehat ini, agama islam sbg agama rahmatan lil alamin ini sdh menjadi agama yg miskin batin, walau hal itu dilakukan segelintir manusianya, tapi sekarang makin membesar koloni yg tak terpuji ini. Eh saat ini Menag nya malah seperti ini, apakah duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi di bumi pertiwi ini bisa terjadi, sangat sulit terjadi kalau dgn Tuhan saja ada yg unjuk gigi dan mau memonopoli, bahwa umat lain tidak berhak atas ruang kasih sayang dari Tuhan sampai bimbingan soal keyakinan harus dikelola oleh orang dgn keyakinan berbeda. 

Kemenag itu harusnya menjadi rujukan kebaikan dan tauladan, bukan malah jadi kementerian serabutan yg gak pakai aturan.

Belajarlah kalau tak mengerti jangan memaksakan ketidaktauan jadi kesannya kedunguan di jadikan unggulan, maka outputnya pasti kehancuran.

Agama itu sarana menuju kepadaNya, bukan tujuan akhir kita, karenanya biarkan orang berlomba dgn berbagai cara menuju kepadaNya tapi jangan di paksa memakai kenderaan yg sama. Biarkan mereka nyaman pakai Toyota, jangan di paksa naik Onta.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Monday, February 10, 2020 - 07:45
Kategori Rubrik: