Harusnya Gini Tangani Fenomena Kerajaan Palsu

ilustrasi

Oleh : Robbi Gandamana

Seandainya bukan penipuan, menurutku Kerajaan Agung Sejagat (KAS) di Purworejo itu kreatif. Seragam, asesoris dan segala pernak-pernik yang dipakai keren abiz kayak kontes cosplay. Dan itu bisa memperkaya budaya Nusantara.

Jadi nggak asyik kalau raja dan permasurinya ditangkap. Eman. Selama masih mengakui kedaulatan NKRI dan nggak ngisruh, biarkan saja. Lumayan buat lucu-lucuan.

Harusnya si Raja yang bernama asli Totok Santosa Hadiningrat ini diajak ngopi-ngopi dulu. Ditanya baik-baik, "Njenengan niku pun dangu nggih kenal kale Hayam Wuruk?"

Tapi di Endonesyah memang begitu. Ada orang ngaku Nabi ditangkap, ngaku Raja langsung digerebek kontrakannya (Raja kok ngontrak ya). Mending diajak dialog, bikin sarasehan mengundang tokoh-tokoh yang pakar soal itu. Kita kasih kesempatan mempresentasikan diri. Setelah itu didebat sampek raine pucet, uteke mengkeret, manuke puret.

Kalau sedikit-sedikit ditangkap, nanti di akhir zaman saat Yesus atau Nabi Isa muncul bakalan ditangkap, digerebek di rumah kostnya. Dijerat dengan pasal penodaan agama, bikin onar dan meresahkan masyarakat. Tuhan jadi bingung. Kiamat pun ditunda.

Nabi Isa meyakinkan polisi, "Woeeee aku iki Nabi Isa sing kate mateni Dajjal!" Tapi polisinya malah mendelik, "Koen ngerti nggak. Aku ini Nabi Khidir!"

Bagiku KAS ini seperti parodi kerajaan-kerajaan yang masih ada di Indonesia sekarang. Yang semakin hari semakin nggak disungkani dan diajeni oleh warga milenial bla bla bla..

Aku setuju kalau ditangkap karena terindikasi penipuan. Tapi nggak asyik kalau ditangkap karena bikin keraton baru dan jadi Rajanya. Mbok wis disawang karo mesem ae. Sekali-kali dipisuhi fak yu.

Agak fals kalau seseorang ditangkap tapi tidak ada yang merasa ditipu atau merasa dirugikan. Seseorang jadi tersangka penipuan kalau ada yang merasa ditipu. Lha ini para pengikutnya tidak merasa tertipu kok dan malah senang jadi anggota kerajaan walau sudah bayar mahal. Kalau sama-sama tahu dan sama-sama ikhlas itu bukan penipuan.

Kalau Totok berbohong soal kerajaannya yang dia klaim sebagai lanjutan dari imperium Majapahit ya itu masalah pribadi dia. Percoyo karepmu, gak percoyo urusanmu. Ada yang ngeklaim candi Borobudur itu peninggalan Nabi Sulaiman nggak dipermasalahkan kok. Bahkan ada tokoh yang menyatakan kerajaan Sriwijaya itu fiktif juga aman-aman saja.

Yo wis lah kalau memang KAS itu sebuah modus penipuan, hukum orangnya tapi selamatkan seragamnya. Tiap acara agustusan atau acara budaya yang lain seragam-seragam itu dipakai untuk karnaval.

Di luar soal penipuan atau tidak, harus diakui kalau Totok itu brilian. Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan detail, menyusun struktur organisasi dengan cermat, merekrut pengikut yang jumlahnya lumayan, dan berhasil mendoktrin mereka kalau KAS itu penerus imperium Majapahit. Jarang ada orang punya kemampuan seperti itu.

Bahkan ada seorang pengikut militan yang ngomong serius, "Gusti Allah sudah menghendaki munculnya kerajaan ini.." Allah yang mana? Kitabnya apa? Kitabe Mbahmu.

Ini membuktikan Totok sangat berbakat jadi aktivis bisnis MLM. Harusnya Mukaboros, Rangen Water, Oriblame, atau MLM yang lain bikin workshop dan mengundang Totok sebagai sumber ahli. Bagaimana caranya meyakinkan orang agar mau beli produknya dan jadi downline. Pasti omzet penjualan meningkat tajam. Atau malah kolaps.

Oala Tok Tokk..raimu.

Sumber : Status Facebook Robbi Gandamana -

Wednesday, January 22, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: