Haruskah Nyinyir ke Jalan Tol?

Oleh: Muhammad Jawy
 

Saya sendiri nyinyir. Jaman kuliah biasa nyetir Bandung-Jakarta, via Jagorawi yang sangat mulus. Maklum itu jalan tol pertama di Indonesia, dibuat oleh kontraktor Korea Selatan, Hyundai, dan pada jaman anak-anak Soeharto masih kecil. Jadi ketika lewat jalan tol lain yang dibuat oleh groupnya Tutut, putri Soeharto yang bermain proyek di jalan tol, terasa kualitasnya sangat berbeda. Pernah coba muterin tol di seputar Bandung? Kalau nggak ngerem ketika lewat jembatan, niscaya mobil kita akan terbang-terbang.

Demikian juga ketika selesai Tol Cipularang di era Megawati, tol yang baru diresmikan beberapa bulan, sudah ada yang ambles. Jagorawi jadi terlihat sangat superior ketimbang jalan tol yang baru-baru, karena Jagorawi dibangun dengan standar kualitas yang sangat tinggi dan pengawasan yang sangat ketat.

 

 

Saya nyinyir dengan kualitas jalan tol yang lebih baru tapi dibuat tanpa standar pengawasan sebaik Jagorawi. Tapi saya tidak pernah nyinyir dengan keberadaan jalan tol itu, karena faktanya jalan tol menjadi urat nadi yang penting bagi negeri ini. Saya berharap jalan tol baru yang kita bangun sekarang ini bisa menyamai kualitas Jagorawi.

Jalan Tol Khan Bayar?

Kenapa pemerintah bikin jalan yang kemudian memalaki rakyat? Nah disini sikap saya ada di tengah, harapan saya memang jalan tol di Indonesia bisa seperti di Jerman, disana gratis. Tapi tentu diingat, orang disana bayar pajaknya ampun-ampunan, saya dulu pernah merasakan cuma terima net 55% dari gaji karena pajaknya emang kurangajar gedhenya. Di kita memang sangat tidak mungkin meminta pemerintah menggratiskan biaya tol, setidaknya saat ini, sehingga tol berbayar masih menjadi solusi. Meskipun tentu, harapannya untuk jalan tol yang sudah lewat jauh dari masa konsesi, tarifnya bisa diturunkan secara signifikan, sehingga tidak lagi menjadi tempat untuk cari profit yang tinggi, cukup buat maintenance dan operasional.

Lha Khan Tetap Bayar? Boros Dong Buat Rakyat?

Lewat tol, meski bayar, sebenarnya kita dapat keuntungan baik ekonomi ataupun non-ekonomi:

- Lebih Hemat BBM
Kecuali jika Anda suka ngebut di jalan tol, yang otomatis jelas akan lebih boros BBM, tapi jika Anda nyetir dengan teknik Eco-Driving, lewat jalan tol akan lebih hemat, karena kita tidak terlalu sering ngerem ataupun akselerasi. Mobil jaman sekarang umumnya sudah dilengkapi dengan indikator Eco-Driving, selama kita nyetirnya tidak ugal-ugalan, santai tapi fokus, kita akan hemat BBM disini.

- Sparepart Lebih Awet
Jalan tol umumnya lebih bagus dari jalan biasa. Kadang di jalan biasa kita masih ketemu dengan lubang, yang kalau kita terjebak, bisa langsung harus minggir buat ganti ban. Kalaupun jalan bagus, tapi karena banyak keramaian, persimpangan, kita tetap harus sering rem, gas, pindah gigi, yang otomatis akan mengurangi usia spare part. Lewat jalan tol mengurangi Biaya Operasional Kendaraan.

- Waktu Tempuh Lebih Singkat
Pernah ngerasain hopeless karena terjebak dalam kemacetan yang kadang tidak jelas apa penyebabnya? Well, saya termasuk orang yang secara psikis bermasalah kalau terjebak macet. Rasanya pengen makan orang. Dengan jalan tol, waktu tempuh menjadi lebih singkat, maka kita bisa punya waktu luang lebih banyak daripada terbuang hanya di jalan. Kita bisa bermain-main dengan anak lebih lama, punya waktu lebih untuk beromantika dengan pasangan, bisa dipakai untuk belajar, ibadah, ataupun kerja produktif lainnya. Time is money, orang Jawa bilang, artinya kita beli tiket jalan tol itu buat punya waktu lebih. Dan ini tidak cuma dinikmati oleh orang kaya, lha sopir truk, travel, bus, pengantar barang, mereka juga bisa lebih cepat tiba di rumah.

- Memperluas Basis Ekonomi, Menurunkan Ongkos Logistik
Saya sekali naik bis dari Malaka ke Singapura, ada beberapa pilihan tarif, saya naik yang 80 ribu. Jarak lebih dari 200km ditempuh hanya kurang dari 3 jam, dan sangat nyaman, karena tidak pakai berhenti, tidak banyak belok-belok, karena hanya lewat jalan tol. Seperti halnya maraknya bisnis travel Bandung-Jakarta pasca selesainya Cipularang, saya yakin akan marak bisnis travel/bus melalui jalur tol yang tengah dibangun ini. Dengan biaya logistik yang akan semakin turun, maka produk dari daerah akan sangat kompetitif dipasarkan di daerah lainnya.

Tentu, pembangunan jalan tol ini tidak boleh melupakan program transportasi publik lainnya. Tapi maksud dari tulisan ini adalah kalau kita ingin nyinyir ke jalan tol, maka mari kita nyinyir atas kekurangan yang memang ada, bukan atas dasar fitnah yang mengada-ada (e.g. jalan tol utangan dari China dsb)

(Sumber: Facebook Muhammad Jawy)

Tuesday, June 12, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: