Haruskah Kita Jadi Hakim Dadakan?

Oleh: Wahyu Sutono

Sejak 2 hari ini banyak yang meminta penulis untuk membahas tentang sosok muda tampan yang mendadak viral karena ia lolos menjadi taruna Akademi Militer (Akmil), padahal ia 'Diduga' terpapar paham radikalisme. Penulis hanya bisa menjawab tunggu, sambil berkata dalam hati, apa yang akan penulis ulas, bila penulis bukan tipe yang ekstrim dalam menilai sesuatu sebelum dipelajari secara cermat. 

Ketika teman-teman mengirim begitu banyak screenshot tentang Enzo Zenz Allie dan ibunya Hadiati Basjuni Allie (Siti Hajah Tilaria) yang isi tulisannya di media sosial banyak yang tidak patut, penulis hanya tersenyum. Lalu penulis katakan bahwa ibunya memang bukan contoh seorang ibu dan umat Islam yang baik. Karena Islam tak mengajarkan menghina pemerintah atau presiden, dan HTI organisasi terlarang.

 

Mereka pun kembali ngotot agar TNI segera mengeluarkan Enzo dari Akmil, karena bisa jadi HTI menyusupkan ke TNI, dengan harapan saat menjadi jenderal kelak, ia bisa mengambil alih kekuasaan untuk dirubah ideologinya menjadi Khilafah, dan menghapus Pancasila. Penulis hanya menjawab, bila terbukti Enzo kader HTI atau ISIS, lalu tak mau setia kepada NKRI beserta Pancasilanya, langsung keluarkan.

Rupanya itu saja tetap tidak membuatnya puas. Karena itu penulis coba balik bertanya. Apakah kita sudah tahu persis bila Enzo itu seperti apa? Apakah kalian juga tahu bila Enzo itu sejak kecil sudah bercita-cita menjadi anggota TNI? Apakah kalian juga tahu bila Enzo itu sangat mencintai NKRI yang memiliki begitu besar potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang luar biasa?

Baiklah, anggap saja kita semua belum tahu, termasuk penulis. Oleh karenanya mari kita bahas dari sisi lainnya saja.

Pertama. TNI memiliki sistem perekrutan yang sangat ketat dan selektif, serta saat menjalani pendidikan, para taruna akan digodog menjadi manusia-manusia yang cinta bangsa dan negaranya. Bila tak terbentuk, dalam waktu singkat sudah terlihat, dan itu tak ada kata maaf, bukan saja berarti harus berhenti, bisa jadi terkena hukuman sesuai proses peradilan di mahkamah militer. TNI pun secara periodik akan menguji mental ideologi para tarunanya, termasuk mencari tahu lewat keluarganya.

Kedua. TNI secara undang-undang tidak bisa mengeluarkan seseorang dengan sewenang- wenang tarunanya bila tidak didukung alat bukti yang kuat bahwa seseorang itu anti Pancasila dan UUD45, serta lebih memilih Khilafah. Karena itu melanggar hak ajasi seseorang yang memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum.

Ketiga. Apakah dengan dikeluarkan akan menyelesaikan masalah? Tentulah tidak. Bahkan mungkin si anak justru memiliki persepsi bahwa pemerintah ini memang benar-benar dzolim seperti yang dikatakan ibunya. Sehingga yang tertanam pada benak si anak, pemerintahan Jokowi itu otoriter, dan TNI itu musuh Islam, dan lain sebagainya. Alhasil yang terbentuk hanyalah dendam yang akan ia bawa seumur hidupnya.

Keempat. Biarkan TNI melakukan yang terbaik bagi bangsa dan negara, termasuk kebaikan bagi taruna Enzo, melalui proses investigasi dan litsus mendalam, serta proses pendidikan yang sedang berjalan. Kita cukup menunggu sambil memberikan informasi yang sekiranya memang layak dikirimkan ke pihak TNI. Kritis dan waspada itu sangat baik. Tapi tidak berasumsi dan menjadi hakim bagi seseorang yang tidak kita ketahui secara mendetail, dan seolah kita jadi lupa akan kemampuan TNI.

Yakinlah bahwa TNI akan memutuskan secepatnya berdasarkan fakta hukum yang tervalid. Ingat, bahwa Enzo masih sangat muda, jadi masih sangat mudah dibentuk. Mau dibawa ke kiri atau ke kanan? Yang juga tidak kalah pentingnya adalah segera panggil ibunya untuk menjelaskan semua yang pernah ia tulis di media sosial, serta 'Diwajibkan' meminta maaf kepada pemerintah yang telah dihinanya, atau dilanjutkan pada proses hukum.

Bravo TNI.. Bravo Netizen..

 

(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)

Thursday, August 8, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: