Haruskah Benci Kepada Jokowi

Ilustrasi

Oleh : Wulan Darmanto

Saya tahu judul ini akan membawa konsekuensi lanjutan: Saya akan disebut sebagai kecebong: die hard fans Jokowi, hingga unfriend massal.

Tak mengapa. Menuliskan pendapat, selama dengan bahasa yang baik dilindungi Negara bukan? Dan lagi.. saya tidak bisa memaksa seluruh dunia bersepakat dengan saya.

Sebenarnya rasa tidak enak di hati sudah saya rasakan sejak Jokowi berencana mantu. Baru rencana loh ya.. rencana.

Mayoritas friendlist di facebook saya, adalah kaum ibu, yang bisa dibilang pintar dan cadas. Kritis. Hingga rencana mantu ini pun menuai spekulasi tingkat tinggi. Termasuk seperti apa jalannya acara, akankah kawinan anak presiden ini menyerobot jalan raya yang adalah hak rakyat untuk melaluinya. Hingga ada yang protes, mengapa kawinan diadakan di Solo. Bikin penuh jalanan saja. Mengapa nggak di Jakarta yang penduduknya sudah biasa macet-macetan.

Untuk pertanyaan terakhir ini, saya balik bertanya: Jika kita adalah orang asli suatu daerah, lahir di daerah tersebut, tumbuh dan berkembang di daerah itu, semua keluarga handai taulan dan asal usul kita ada di situ, bisa dibayangkan kecintaan dan keterikatan kita pada daerah tersebut bukan? Lalu wajar tidak jika momen terpenting dalam hidup, ingin kita bagikan pula di daerah yang kita cintai?

Baiklah, jawabnya dalam hati saja.

Saya sama sekali tidak merasa terganggu soal Jokowi mantu ini. Maksudnya terganggu hingga saya terdorong untuk menulis. Sampai kemarin saya baca status seseorang yang sebenarnya selama ini sangat saya kagumi.

Orang tersebut menyinggung soal ketidakhadiran ibunda Jokowi dalam prosesi mantu. Dia membahasakan dengan sebutan “nenek”

Tidak salah. Wong benar sudah nenek-nenek. Hanya saja bahasa yang digunakan memang cukup provokatif, dan bisa menimbulkan multi intepretasi. Begitu lihat komentar di status tersebut, saya langsung terkesiap. Ada yang salah di sini.

Berikut saya cuplik sejumlah komentar:

“Itu mah nenek orderan.."

“Itu mah mbah sewaan.. jadi asal usulnya membuat rakyat penasaran..”

“Nenek dibutuhkan saat cari suara…”

Tiga komentar ini, ditulis oleh ibu-ibu.

Bu, siapa pun engkau, sungguh ini tidak lucu.

Bagaimana jika apa yang dituduhkan dan selama ini Anda anggap sebagai kebenaran itu, ternyata salah? Bahwa nenek tersebut adalah benar ibu kandung Jokowi, dan Anda sudah mudah sekali memfitnahnya sebagai ibu orderan. Mbah sewaan dan sebagainya.

Bagaimana jika Jokowi itu benar anak kandungnya, dan tidak terima ibunya diperbincangkan seperti itu?

Sekali lagi saya bukan kecebong. Saya manusia. Saya seorang ibu, yang jujur saja sering terkaget-kaget mendapati ibu yang sejatinya guru bagi peradaban, mudah sekali menulis dan bicara di luar kesantunan.

Kasus yang agak mirip, ketika suami saya kemarin terpaksa mengapus salah satu komentar, karena ada ibu yang menulis kata sangat tidak senonoh (terkait alat kelamin pria) Ada pula ibu lain yang menyebut suami saya “nggak punya otak” (namun belakangan komentar ini dihapus olehnya sendiri)

Duhai.. ibu-ibu….

Bagaimana kita menginginkan anak yang santun dan baik budinya, jika yang kita contohkan adalah hal seperti ini? 

Terlepas dari siapa sebenarnya ibu kandung presiden, tolonglah bu, please, jangan mudah tersulut dengan provokasi. Jangan mudah menghukumi seseorang yang belum tentu kita lebih baik darinya.

Jika memang nenek tersebut terbukti bukan ibu kandung Jokowi, silahkan beberkan fakta dan data yang menunjang. Kebenaran tetap diterima sebagai kebenaran, bukan?

Atau jika ada pembaca yang benar-benar tahu keshahihan asal usul silsilah Jokowi, monggo sekalian saya diberi pencerahan…

Jokowi memang presiden. Tapi dia juga adalah seorang ayah, yang sangat manusiawi jika ingin menikahkan puterinya dengan cara yang menurutnya baik.

Jokowi mungkin bukan presiden pilihan Anda, dan punya janji kampanye yang tidak terealisasi hingga kini. Mari dikritisi. Tapi bukan dalam bentuk kebencian membabi buta hingga melahirkan fitnah yang tidak jelas asal usulnya begini..

Menyebut seorang ibu, sebagai ibu sewaan (bayaran), tidakkah ini sangat menyakitkan ketika dilempar oleh sesama ibu?

Salam damai untuk semua ibu. Mari menulis dan berbahasa dengan tauladan. Dengan hikmah.

Bagi yang ingin marah, silakan. Tapi tolong sampaikan dengan bahasa yang baik ya. Mohon maaf saya mungkin tidak selalu bisa menanggapi 

Sumber : Status Wulan Darmanto

Saturday, November 11, 2017 - 19:45
Kategori Rubrik: