Harta Suami Harta Istri

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.MA

Banyak pasangan suami istri yang lupa daratan dalam memposisikan harta mereka. Seolah-olah semua harta otomatis jadi milik bersama, melebur jadi satu, tanpa batasan.

Padahal, begitu kondisinya sedikit diubah, pasti langsung kebingungan. Misalnya saja suami tiba-tiba kawin lagi. Istrinya jadi ada dua. Maka urusan kepemilikan harta tiga orang itu langsung berantakan.

Apa yang selama ini berlaku langsung bubar jalan. Sudah tidak ada lagi harta suami adalah harta istri. Sebab muncul pertanyaan berikutnya, harta suami jadi milik istri, tapi istri yang mana? Istri pertama apa istri kedua?

Lebih runyam lagi kalau masing-masing istri punya harta sendiri dan punya penghasilan. Apa bisa penghasilan istri kedua otomatis jadi milik bertiga? Apa istri pertama juga berhak atas penghasilan istri kedua?

Mulai runyam kan?

Maka konsep bahwa harta suami adalah harta istri dan harta istri adalah harta suami itu konsep yang rancu.

Belum lagi kalau terjadi perceraian, bagaimana cara membelah harta mereka berdua? Apa benar selalu harus perbandingan 50:50, sebagaimana yang selama ini dijalankan?

Bagaimana kalau istri punya harta lebih banyak dari suami? Misal, rumah dan isinya, tanah, kendaraan, tabungan, saham dan lainnya memang milik istri sejak sebelum keduanya menikah.

Apa benar pernikahan itu membuat pasangan kehilangan hak atas harta pribadinya? Apa benar akad nikah itu berfungsi melebur harta keduanya?

Yang paling rancu manakala suami wafat, atau istri wafat. Maka ststus harta 'milik bersama' iti apa benar menjadi 50:50 fifty fifty?

Di titik ini kajian fiqih pernikahan selama ini jadi ketahuan bolong-bolongnya. Sebab selama ini hanya melulu membicarakan SAMARA sakinah, mawaddah wa rahmah. Padahal ada blank spotnya. Ibarat koding, masih banyak hole yang tidak scure. Mudah diterobos.

Di titik ini juga ketahuan bahwa fiqih muamalah maliyah juga masih menyisakan lubang menganga. Ternyata ada bab yang terlewat, yaitu bab mahar, nafaqah, wasiat, hadaya, waris, yang selama ini dimasukkan ke dalam bab ahwal syakhshiyah, padahal sebenarnya juga masuk ke dalam bab fiqih muamalah maliyah ahliyah.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Thursday, October 3, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: