Harta Kekayaan Cendana Tak Habis 7 Turunan?

Oleh: Erri Subakti

Eeh busyeet , segitu banyak hartanya tapi masih nafsu ???
Menurut data dari Badan Pertanahan Nasional dan majalah Properti Indonesia, keluarga Soeharto sendiri atau melalui entitas perusahaan mengontrol sekitar 3,6 juta hektar real estate di Indonesia, sebuah area yang lebih besar dari total wilayah Belgia. Luas area itu termasuk 100 ribu meter persegi ruang kantor utama di Jakarta dan hampir 40 persen dari seluruh provinsi Timor Leste.

 

 

Enam anak Soeharto memiliki prosentase saham yang signifikan di setidaknya 564 perusahaan, dan kepentingan luar negeri mereka termasuk ratusan perusahaan lain, tersebar dari Amerika Serikat hingga Uzbekistan, Belanda, Nigeria, dan Vanuatu. Anak-anak Soeharto—termasuk Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang kini mendirikan Partai Berkarya—juga memiliki banyak sumber kekayaan.

Selain peternakan senilai $4 juta di Selandia Baru dan setengahnya dalam yacht senilai $4 juta yang ditambatkan di luar Darwin, Australia, putra bungsu sang presiden Tommy Soeharto memiliki 75 persen saham di lapangan golf 18 lubang dengan 22 apartemen mewah di Ascot, Inggris.

Bambang Trihatmodjo, putra kedua Soeharto, memiliki sebuah penthouse senilai $8 juta di Singapura dan sebuah rumah besar seharga $12 juta di lingkungan eksklusif Los Angeles, hanya berjarak dua rumah dari hunian bintang rock Rod Stewart dan tak jauh dari rumah saudaranya, Sigit Harjoyudanto, yang seharga $9 juta.

Putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana mungkin telah menjual jet jumbo Boeing 747-200 miliknya, tetapi armada pesawat keluarga termasuk, setidaknya hingga saat ini, pesawat seri DC-10, Boeing 737 biru dan merah, serta Challenger 601 dan BAC -111 dari Kanada. Pesawat BAC-111 sendiri pernah menjadi milik Skuadron Ratu Elizabeth II Kerajaan Inggris, menurut Dudi Sudibyo, redaktur pelaksana majalah Angkasa Indonesia.

Kekayaan Presiden mulai melambung bersama orang-orang dari beberapa rekan dekat, yang paling menonjol ialah Liem Sioe Liong dan The Kian Seng, yang lebih dikenal sebagai Mohammad “Bob” Hasan. Pada akhir 1969, Soeharto memberikan monopoli parsial, kemudian berubah menjadi total—atas impor, penggilingan dan distribusi gandum dan tepung ke PT Bogasari Flour Mills, yang dikendalikan oleh Liem Salim Group. Selama bertahun-tahun Liem, yang dikenal sebagai “Paman Liem” di kalangan keluarga Soeharto, dan Hasan menjadi rekan non-keluarga Soeharto yang paling dipercaya dan akhirnya mengumpulkan kerajaan bisnis yang luas.

Tuesday, June 30, 2020 - 20:00
Kategori Rubrik: