Hari Pers dan Berita Pedas

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Mari kita sejenak meresapi Hari Pers Nasional. Apa sebenarnya Pers Nasional itu. Bagaimana perjalanannya dari waktu ke waktu. Kalau mau dievaluasi, bagian mana yang akan dievaluasi. Seberapa kadar kemungkinan Pers Nasional dapat mandiri disela himpitan ekonomi di era digital. Masihkah Pers Nasional dapat diselamatkan dari wabah virus Pers Framing dan Pers Propaganda. Bisakah Pers Dibiayai APBN dan APBD saja, untuk tetap menjadi anjing penjaga bangsa dan negara ini.

Ada sedikitmya lima koreksi besar yang harus diperbaiki oleh Pers Nasoinal. Pertama, apakah masih akan terus menggunakan metode empiris sementara metode berkiblat ke Barat ini jauh dari kebenaran mutlak dan riskan framing dan hoax. Sementara filsafat Timur memiliki banyak tradisi menggapai hakikat fakta. Kedua masihkah Pers Nasional itu akan dibiarkan mencari pembiayaannya sendiri dari sisi sebagai lembaga ekonomi, sementara peluangnya sudah habis di era digital. Kini nasib Pers nasional lebih parah dari bidang pendidikan nasional, kesehatan nasional dan peradilan nasional yang berbasis metode empiris, karena tak ada pembiayaan memadai. Ketiga, membangun pers nasional berbasis sumberdaya manusia, dengan meng-upgrade metode jurnalistik lama menuju kesempurnaan Pers Filsafat Pancasila. Keempat harus bersinergi dengan seluruh instansi terkait pemerintah untuk kepentingan nasional. Kelima adalah pers Nasional kedepan menjadi suara bagi bangsa dan negara kesatuan republik Indonesia.

SDM, Penyempurnaan Kaidah Jurnalistik, dan Pers milik bangsa. Karena jalur pencarian kebenaran Timur berbeda dengan Barat yang melulu empiris indrawi, maka Pers Nasional harus melakukan revolusi total terhadap kaidahnya yang selama ini berpijak pada westernisme empirisisme berbasis fakta indrawi dan data sekunder. Pribadi insan pers harus dipersiapkan sebagai sosok yang selesai baik dari sisi gnostis, teologis maupun kaidah kefilsafatan. Seiring itu juga disiapkan metode jurnalistik Pers Nasional yang lebih identik dengan Filsafat Pancasila. Dalam pada itu selanjutnya, bangsa dan negara ini dibawah MPR dan Presiden kepala negara menegakkan berlakunya Pers Nasional yang paripurna. Hanya itu jalan kehormatan yang tersisa. Dan jika dibiarkan Pers Nasional akan terpuruk ke jurang lembah kemunafikan hipokrtitIsme yang hina. Profesi ini akan menjadi bahan olok-olok masyarakat karena ikut terlibat dalam framing dan hoax.

Jalan keluar dari Pers Nasional yang berkubang framing dan hoax adalah dengan menyadarinya bahwa kondisi seperti sekarang harus dihentikan. Semua insan pers harus menghentikan kondisi gagal move on. Bahwa isi redaksi yang independen membutuhkan perut wartawan yang kenyang dan kantong perusahaan pers yang sehat. Bahwa dahulu nilai ekonomis Pers Nasional berada pada satu jalur pencari dan penyaji informasi. Dan ketika jalur ini mengalami revolusi teknologi informasi, gelombang besar informasi oleh Medsos mengulung semua infrastruktur Pers Nasional. Tak boleh ada yang mencoba berbohong disini hanya untuk secuil status quo organisasi wartawan atau Imperium Media. Yang terbaik adalah memakrifati hakikat keberadaan dan nasib Pers Nasional sekarang dan laporkan kepada pengelola negara. Kita bicarakan bersama, masih adakah jalan keluarnya atau ditutup cukup sampai disini daripada menyandang kehinaan.

Hari Pers kali ini di Banjarmsin saya sengaja tak hadir. Dari rentetan di Batam, Mataram, Padang, Surabaya, kini di Banjarmasin hanya seremoni yang tak punya isi. Tak menjawab inti persoalan Pers Nasional yang sedang dihadapi. Perubahan pers tunggal ke multipel-pers, merupakan jaman yang tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh para jurnalis. Jaman ketika setiap individu bisa dan boleh menyebar informasi.

Kepada para pembesar Pers Nasional mari kita memakrifati secara jernih keadaan ini. Jangan dilihat dari kepentingan sendiri dan kelompok. Kepada Dewan Pers, berbuatlah sesuatu untuk keadaan ini, jangan nangkring di lembaga itu sebagai orang pencari pekerjaan (Pencaker). Para pemilik imperium media, jujurlah terhadap keadaan sekarang. Jangan Pers Nasional dijadikan alat untuk bidang lain, politik dan sebagainya.

Ditengah kompleksitas bangsa dan negara di usia ke 75 tahun ini, Pers Nasional terhempas dan menjelang tenggelam. Pondasi ekonominya tergerus Medsos. Pondasi profesionalisme tercerabut framing dan hoax. Harus maju tak gentar membela yang bayar, karena iklan dan eksemplar dapur perusahaan media selama ini sudah tak ada harganya. Semua dimakan hape.

Bagi saya Hari Pers Nasional kini hanya ajang haha hihi. Tepuk tangan di pidato presiden. Sementara di lapangan tersisa wartawan media pemerintah (TVRI, RRI dab Antara), media biasa berguguran. Atau media yang hanya menggunakan sisi Pers-nya untuk kepentingan lain, pers partisan. Gerombolan wartawan yang selama ini dicap abal-abal atau bodrex, kini sudah punya website masing-masing karena murah. Hidup mengekor dibelakang knalpot mobil pejabat.
Di masyarakat profesi ini makin tak punya harga, karena tak ada harapan untuk dapat merubah apapun.

Seorang teman bertanya, Kang sekarang kegiatan apa. Apa saja. Dulu buat berita pedas agar laku dijual. Sekarang masyarakat sudah buat sendiri beritanya bahkan saling hujat di Medsos, itu lebih pedas lagi. Saya tanam rica saja untuk sementara. Lumayan harganya. Pedas juga.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Sunday, February 9, 2020 - 12:15
Kategori Rubrik: