Harga Seorang Ahok

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Jika tak ada aral, Ahok, Basuki Tjahaja Purnama, diperkirakan bebas 24 Januari 2019.

Tapi seperti diketahui, tokoh FPI yang bernama Habib Novel Bamukmin (kayaknya ini juga keturunan nabi) menjelaskan, jumlah masa tahanan dinilai kurang setimpal dengan massa yang memintanya masuk bui. Dalam Aksi Bela Islam, 2 Desember 2016 lampau, sampai 7 juta (orang). Mongsok hanya divonis 2 tahun, seperti kata Habib Novel.

 

 
 

Jadi, jika didemo 7 juta, harus ditahan berapa lama? Tujuh, atau 70, tahun? Lama masa hukuman berdasar jumlah tekanan massa? Kenapa tak semua umat Islam, yang berjumlah sekitar turun ke jalan semua? Dari 207 juta yang beragama Islam, mongsok cuma 7 juta yang berdemo? Itu pun mesti ditanya lagi, ngitungnya gimana? Ada akuntan publik, di bawah sumpah, spesialis ngitung jumlah orang demo?

Tambah lagi kecurigaan lain, belum tentu Ahok ditahan di Mako Brimob, seperti tudingan Novel Bamukmin. Sementara ada orang Gerindra ngomong; Ahok menolak pembebasan bersyarat, karena di Mako Brimob nggak kayak di tahanan.

Komentar sumir sejenis-jenis itu, akan membuat mereka dikenal sebagai pejuang agama? Bagaimana dengan yang percaya bahwa pikiran, pernyataan dan tindakan mereka itu justeru merugikan ukhuwah islamiyah?

Para pembela agama pastilah orang beragama. Kalau tidak, berarti bohong dengan segala omongannya. Tapi, pertanyaannya, kalau beragama, kenapa pendapatnya, pikirannya, pernyataannya, sikapnya, attitudenya, perilakunya, tidak terasakan sebagai yang tercerahkan, yang beragama? Kok cuma pakaiannya doang, kayak sindir Gus Mus?

Agama katanya mengajarkan kasih-sayang? Pengertian? Kesabaran? Kebaikan hati? Cinta? Tapi kenapa pernyataan dari mulutnya berupa kebencian? Caci-maki? Omong kasar? Penuh hujatan pada liyan? Gitukah ajaran agama? Benarkah Kanjeng Nabi Muhammad shalallahu’ alaihi wasallam, mengajarkan kekasaran, kekerasan? Tak bisa memaafkan? Tak sudi mengampuni?

Dalam dongeng-dongeng pengajian, waktu saya kecil dulu, selalu diceritakan riwayat nabi sebagai manusia baik. Sempurna. Penuh kasih sayang. Pengertian. Dari sanalah kita mendapat ajaran apa itu budi pekerti. Tapi, kenapa justeru tak saya dapatkan dari mereka, yang mengaku menjunjung tinggi Tuhan, Kanjeng Nabi, dan kemanusiaan?

Itu yang membuat sering saya merasa, tak ada artinya semua yang dipelajari. Maka kalau teman saya yang tinggal di Arab Saudi bilang, “bahwa sekarang ini sekitar 5% anak muda di sana menjadi atheis”, saya bisa mengerti. Apalagi, diam-diam, dan sejujurnya, saya merasa betapa Ahok seorang yang mulia. Lebih mulia daripada yang memusuhinya.

Hanya orang mulia, kebebasannya ditebus dengan bakal masuknya beberapa nama dalam bui. Buni Yani, Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, etc, etc, seolah hanya tunggu giliran, di samping satu yang tak pulang-pulang. Seolah itulah tulah Ahok.

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)
Friday, December 14, 2018 - 17:00
Kategori Rubrik: