Harga Sembako Tidak Menguat Meski Dolar Menguat

Oleh : Suci Handayani

Seperti biasa, hampir setiap pagi saya belanja sayuran untuk menyiapkan menu makanan buat keluarga. Terkadang kalau lagi ada keperluan atau pekerjaan lain, saya memilih membeli lauk dan sayuran yang sudah matang. Tinggal milih menu trus bayar. Dah sederhana itu. Lagipula suami dan anak-anak tidak pernah rewel soal menu makanan, suami dan anak-anak tidak pernah mempermasalahkan menu yang saya sajikan. Mereka gampang sekali untuk urusan makan.

Pun dalam semingguan ini, saat gonjang-ganjing menguatnya dolar yang kabarnya membuat masyarakat bawah panik. Terus terang saya penasaran, benar nggak sih rakyat menengah ke bawah macam saya ini panik gegara dolar menguat? Saya segaja membeli sayuran dan makanan jadi (latengan) di beberapa tempat yang berbeda juga ke pasar . Saya ingin mencari informasi kebenaran kepanikan masyarakat .

Dari sisik melik (pasar, beberapa warung latengan dan warung sayuran juga gobrol dengan beberapa ibu) ternyata di bawah nggak segarang informasi yang beredar di jagat medsos lho Luurrr. Barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, gula, minyak, bawang, brambang, dan lainnya relative stabil. Bahkan cabe rawit yang sempat diatas 30 ribuan, kemarin hanya Rp 18 ribu saja. Beli tempe 1 papan yang bisa di iris dengan ukuran sedang menjadi 8 irisan masih Rp 2 ribu. Tahu isis 4 biji masih Rp 1.500. Beli bayam seikat masih 2 rb. Beras yang harga 9.500 ribu sampai 12.500 sekilo juga ada. Harga ayam sekilo masih stabil Rp 33 ribu. Hanya harga telor yang naik turun. 5 hari lalu di harga 21 ribu, 3 hari kemudian turun 19.800/kilo dan kemarin di harga 22 ribu sekilonya.
Harga sayur/lauk latengan (matang) sangat-sangat stabil Luurrr. Beli sayur asem 2 -3 ribu sudah dapat semangkok ukuran mangkok bakso, beli gorengan dari tempe, tahu, bakwan, molen, telo goreng masih tetap Rp 500/ biji. Paha ayam di goreng ya masih dijual Rp 3.500, lele goreng Rp 3 ribu. Garangasem isi 1 paha masih Rp 6 ribu saja. Es tea masih tetep Rp 2 ribu segelas, juice rata-rata harga 6-7 ribu yo tetep wae. Bakso semangkok yo tetep 12 ewu Luurrr. Trus sabon detergen, sabon colek, sabun mandi, shampoo yo tetep hargane. Air isi ulang ya tetap 5 ribu/gallon sudah sampai rumah. Harga bensin masih tetap, gas juga begitu, tarif listrik juga nggak naik. Intinya, meskipun dolar menguat, kebutuhan sehari-hari tetap saja harganya. Dan hebatnya daya beli masyarakat juga tidak berkurang. Minimarket, swalayan tetap saja ramai orang antri belanja apalagi kalau tanggal muda dan tanggal tua (pas orang gajian). Kalau pasar tiap hari yo tetep ramai.

Iseng-iseng saya tanya ke ibu-ibu, ya rata-rata jawabannya gak tahu penguatan dolar karena nggak ngaruh sama harga kebutuhan pokok yang mereka butuhkan. Artinya nggak ada dampak dari penguatan dolar yang mereka rasakan tho.
Begitulah Luurrr, jadi sesungguhnya kita-kita ini masyarakat menengah ke bawah nggak terpengaruh penguatan dolar yak. Kalau harga tetap stabil, terjangkau, tersedia. Rasa-rasanya kita-kita ini nggak peduli dolar menguat atau tidak. Lha wong urusan kita hanya sebatas kebutuhan pokok itu saja.

Mungkin yang ngeluh2 sana sini itu, bisa jadi karena:
Pertama, ada kepentingan politik. Ya butuh ruang untuk menyuarakan isu penguatan dolar sehingga mengesankan pemerintah tak mampu mengatasi. Ujung-ujungnya mengiring opini masyarakat untuk tidak percaya dengan kinerja pemerintah
Kedua , mereka biasa beli barang-barang mewah, biasa jalan-jalan ke luar negeri sehingga kala dolar menguat harga barang dan biaya perjalanan menjadi naik
Ketiga, mereka yang sesungguhnya punya simpanan dolar banyak sekali. Jadi sebenarnya mereka diuntungkan dari penguatan dolar, hanya saja pura-pura teriak-teriak . Padahal mereka senang karena pundi-pundi uangnya akan bertambah.

Dah, urusan dolar, rupiah percayakan kepada pemerintah saja. Kita ngurusi belanja sayur seperti biasanya saja. Dengan uang belanja yang nominalnya masih sama dengan bulan-bulan lalu itu lhoo….

Sumber : facebook Suci Handayani

Friday, September 7, 2018 - 09:30
Kategori Rubrik: