Harga Naik, Rokok Makin Nikmat

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Diskusi soal harga rokok naik 2 kaki lipat tampaknya seru. Bermula dari hasil kajian Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM-UI. Dari 1000 orang responden, 72% mengatakan akan berhenti merokok jika harganya naik dua kali lipat.

Bergulirlah ide untuk menaikan cukai rokok hingga harga ecerannya mencapai Rp 50 ribu sebungkus. Macam-macam argumen yang diajukan. Yang paling sering adalah soal argumen tentang kesehatan.

Tentu soal kesehatan ini disebabkan karena ada asap yang dihirup perokok aktif maupun pasif. Jika itu argumennya, mestinya semua racun yang terhisap juga penting jadi perhatian.

Kalau harga rokok dinaikan, karena asapnya mengganggu kesehatan, lalu bagaimana kabar 11 perusahaan pembakar hutan di Riau yang kasusnya dihentikan polisi? Pada kasus 2015 kemaren ada 5 orang mati terpapar asap kebakaran hutan.

Mau ngomong soal dampak ekonomi kebakaran hutan? Triliunan rupiah kerugiannya. Transportasi terganggu karena asap kebakaran, kehidupan menjadi sulit, asap mengepung di mana-mana. Ini terjadi justru karena kejahatan. Diawali dengan keserakahan perusahaan sawit yang mau enaknya saja membakar hutan. Kita ribut soal harga rokok, tapi mingkem melihat polisi membebaskan pembakar hutan.

Atau coba lihat di kota-kota besar. Jumlah kendaraan yang makin membludak menciptakan kualitas udara yang semakin merosot. Timbal beterbangan di udara. Harusnya pajak kendaran bermotor juga dinaikan 2 kali lipat. Sebab justru kerusakan udara dan dampak kesehatannya jauh lebih buruk dari asap rokok.

Pandangan tentang rokok ini kemungkinan karena bias urban. Mereka melihat perokok menghembuskan asapnya di ruang-ruang sempit, khas situasi perkotaan. Padahal sebagian besar masyarakat kita hidup dalam alam agraris. Para petani merokok di ruang terbuka yang asapnya langsung hilang terbawa angin. Bagi petani itu, salah satu kenikmatan hidup ya, dengan merokok. Itulah yang membuat hidup jadi gayeng dan asyik.

Saya jadi ingat, pengalaman di sebuah pasar loak di kota kecil di Jerman. Seorang perempuam bule menghampiri dan tiba-tiba menegur. "Apakah Anda dari Indonesia?," tanyanya. Saya tentu heran. Bagaimana dia bisa tahu asal negara saya. Ternyata dia mengenalnya dati wangi tembakau plus cengkih dari kretek yang saya hisap.

Dia pernah beberapa tahun tinggal di Jogjakarta, bekerja di sebuah lembaga PBB. Makanya dia hafal betul bau kretek yang menggoda itu. Katanya, karena aroma ini juga dulu bangsa-bangsa Eropa masuk ke Indonesia. Mereka ingin menguasai.

Lantas saya menawarkan sebatang rokok dan kami menikmatinya di tengah udara menjelang musim dingin. Membiarkan asap berbau cengkih dan tenbakau mengotori udara di kota kecil itu.

Dulu bangsa Indian di AS punya kebiasaan menghisap tembakau. Dalam upacara perdamaian mereka menggunakan celumet untuk dihisap bersama. Lalu orang kulit putih memperkenalkan alkohol. Pelan-pelan rusaklah kehidupan mereka. Tembakau tidak merusak sebuah bangsa, tapi alkohol sudah dibuktikan kerusakannya.

Kampanye anti rokok sedemikian gencar dihembuskan oleh negara-negara maju yang sama sekali tidak punya petani temabau. Kita meresponnya. Padahal jutaan orang Indonesia hidup dari tembakau dan hasil olahannya. Sedangkan kampanye anti alkohol sepi-sepi saja sebab mereka punya industri-industri besar penghasil minuman alkohol.

Lalu bagaimana jika harga rokok jadi sangat mahal? Kata teman saya , kayaknya merokok akan terasa jauh lebih nikmat. Sebab setiap hisapannya jadi memiliki harga tersendiri.

Saya cuma manggut-manggut, lantas mengikuti dia menyalakan sebatang rokok. Ehh, benar juga, belum juga naik harganya, kok merokok sudah terasa lebih nikmat begini, ya...

 

(Sumber: Status Facebook Eko Kuntadhi)

Sunday, August 21, 2016 - 13:45
Kategori Rubrik: