Haramnya Tahun Baru Masehi (?)

Ilustrasi

Oleh : Damar Wicaksono

Saat ada sekian saudaraku sesama muslim, bahkan ngaku ustad, mengutuk dan mengharam2kan orang yang ambil untung atau juakan produk untuk perayaan tahun baru, aku ikut sedih

5 tahun pertamaku berbisnis setelah lulus kuliah, setelah kebangkitanku yang dibantu seorang pengusaha muda enerjik (seorang Tionghoa Bogor), aku berjualan sampe dini hari menyambut para penanti terompet dan kembang api tahun baru.

Aku membuka 3 dari 7 toko hape dan pulsaku di malam tahun baru. Tahun 2005-2010

Dari omset selama 5 jam saja (jam 9 malem sd jam 2 pagi), penjualan bisa menyamai penjualan 4 hari. Aku bisa ngasi bonus tahunan 2x (selain lebaran) untuk anak2 ya pas malem taun baru. Lokasinya memang strategis (Taken, Baranangsiang dan kampus IPB Dramaga)

Lalu apa yang kulakukan juga haram?

Aku bisa merekrut 37 orang dari tujuh outletku. 17 orang adalah warga asli Bogor yang 9 diantaranya sudah berumah tangga. Sisanya adalah perantau dari Jawa Tengah dan Timur. Walopun turnover tinggi utk jenis usaha2 ritel UMKM kek gini 

Jika yang kulakukan itu bid'ah atau bahkan haram (mencari rejeki di malam tahun baru), semoga Allah mengampuniku. Karena aku harus memberi makan 37 x 3 atau 100an orang yang sebagian menunggu di rumahnya

Ribuan pelaku usaha yang lain, melakukan hal yang jauh lebih keras dan luar biasa. Membuka ratusan ribu lapangan kerja. Beri solusi, bukan caci maki

Termasuk para penjual terompet atau kembang api itu

Jadilah muslim yang baik dan bijaksana. Bukan sekedar bicara teks tanpa konteks.

Bukan yang hanya bisa berteriak, menakuti liyan dan saudaranya sendiri.

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Wednesday, January 3, 2018 - 13:00
Kategori Rubrik: