Happy Hypoxia VS Ventilator

ilustrasi

Oleh : Agni B Sugiyamto

Happy Hypoxia itu bahasa gaulnya silent hypoxia, yang sebenarnya bukan Hypoxia sesungguhnya. Hypoxia tanda kutip berdasarkan hasil OXYMETER yang di tempelkan di jari atau berdasarkan hasil ANALISA GAS DARAH.

Seharusnya kata yang tepat adalah HYPOXEMIA, atau rendahnya saturasi oksigen dalam darah. Kalau HYPOXIA adalah kondisi kurangnya oksigen sel2 tubuh yang mengancam kehidupan sel sel tersebut. Hypoksia bisa menyebabkan hal hal berikut, seperti iskemia jantung (serangan jantung), iskemia otak (stroke), reynold phenomenon (jari jari membiru), iskemia extremitas (PAD) dll..

Pada pasien dengan HAPPY 'HYPOXIA' ini pasien tidak menunjukkan distres pernafasan, nafasnya sedikit lebih cepat dan nadi sedikit lebih cepat, tetapi pasien masih berbicara lancar.. Bahkan ngobrol dan tawar menawar dengan dokternya, agar tidak di buat pingsan dan di intubasi untuk pemasangan ventilator.

Happy 'hypoxia' atau hypoxemia (bedakan hypoxia dan hypoxemia ya) memang di temukan pada pasien pasien covid yang kritis, critically ill (di worldometer tinggal 1%). Dan saturasi oksigen berdasarkan oxymetri tadi bisa di angka kurang lebih 70 persen. Padahal normalnya lebih dari 94 persen. Dan kalau ketemu pasien seperti ini, klinisi pasti memasukkannya dalam ICU untuk di intubasi dan di pasang ventilator.

Pasien pasien yang klinisnya baik ini, bila di lakukan ventilasi intensif, maka kemungkinan kematiannya menjadi lebih tinggi (sd 90 persen). Begitu ventilator dengan CPEP (tekanan) tinggi di pasang, maka seketika itu justeru saturasi oksigen akan terjun bebas bahkan sampi ke angka nol.

Kondisi ini sudah di tulis oleh Professor di Italia, Luciano Gattinoni. Beliau menyampaikan bahwa hypoxemia yang terjadi pada PNEUMONIA covid dapat di bagi 2 tipe.

Tipe 1 adalah tipe L yang menunjukkan gejala HAPPY 'HYPOXIA', dan yang tipe 2adalah tipe H yang tidak lagi menunjukkan klinis yang baik, tidak lagi HAPPY bahkan menunjukkan kelelahan sekedar utnuk bernafas. Padahal saturasi keduanya sama jeleknya.

Pada awal covid, corakan paru sudah tampak gambaran pneumonia, tapi tidak luas. Paru masih tipis dan elastis dan tidak terjadi penumpukan cairan dan infiltrat yang luas. Paru masih bisa bergerak kembang kempis seperti balon tanpa perlu usaha ekstra untuk nernafas. Ini di sebut tipe 1.

Pada perjalanannya, bila kondisi pasien memburuk, maka gambaran pneumonianya lebih luas. Paru menebal dan tidak lagi elastis. Terjadi penumpukan cairan dan infiltrat yang luas. Pergerakannya terbatas, dan di butuhkan usaha ekstra untuk bernafas. Dalam kondisi seperti ini pasien bisa jatuh dalam kelelahan, fatigue.. Dan membutuhkan bantuan ventilator. Ini di sebut tipe 2. Dan pasien ini tidak lagi tampak happy, melainkan tampak payah dan lelah dan berat nafasnya.

Hal yang sama juga di laporkan oleh seorang dokter di NEW YORK, dr. Kyle-Sidell, Beliau seorang intensivist yang akhirnya menatalaksana pasien di IGD demi menghindari "keharusan" mengintubasi pasien yang menunjukkan HAPPY 'HYPOXIA' ini.

Apa saja yang bisa menyebabkan kondisi HAPPY 'HYPOXIA' ini? Apakah semata milik COVID? Tentunya tidak. Seperti kata dr Kyle-Sidell, ini adalah barang lama yang di temukan kembali. Kasus ini banyak di temukan pada pneumonia dengan penyebab virus maupun bakteri lainnya.

Kemungkinan yang terjadi di sini, adalah adanya kerusakan paru yang tidak bisa melakukan fungsi respirasinya (menukar CO2 dengan O2). Dan darah yang melewati jaringan paru yang rusak ini seolah langsung masuk ke bilik jantung kiri bercampur dengan darah dari porsi paru yang sehat. Makanya saturasi total menjadi rendah.

Tentunya tubuh mempunyai mekanisme untuk mengimbangi kondisi hypoxemia ini. Salah satunya adalah mengaktifkan enzim HIF, sehingga tidak terjadi kerusakan sel sel tubuh. Makanya selagi paru masih elastis, dan kompliannya baik, tidak di lakukan intubasi dan ventilasi mekanik. Pilihan utama adalah pemberian oksigen dengan cara lain, dengan saturasi tinggi tapi bertekanan rendah.

Namun tentunya bila di temukan distres pernafasan, paru paru di evaluasi rontgen atau ct scannya memburuk yang menumjnjukkan pneumonia meluas, paru tidak lagi elastis, kompliannya rendah dan pasien gelisah.. Maka telah terjadi ARDS (distres pernafasan akut) yang sesungguhnya dan pasien di tatalaksana sesuai indikasinya, intubasi dan ventilator intensif.

Berikut saya sertakan linknya di bawah.

Tetapi sekali lagi, menentukan diagnosis penyakit itu tidak mudah. Membutuhkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti. Di perlukan penunjang laboratorium yang sesuai. Lab sederhana seperti TLC (total lymphocyte count) dan NLR (netrophyl to Lymphocyte Ratio) serta Ro / ct scan thorax bisa membantu menegakkan diagnosis.

Pemeriksaan yang memang menunjukkan telah terjadi infeksi virus sars cov 2 adalah dengan tes serologi terhadap antibodi IgM, bisa dengan ELISA yang hasilnya lebih "kuantitatif" dibandingkan tes rapid antibody.

Bila diperlukan, dan memang kecurigaan terhadap covid, maka PCR bisa di lakukan dengan sampel yang tepat seperti dahak, atau lavase bronkhial paru. PCR untuk saat ini adalah gold standard untuk covid. Tapi tentunya dengan berbagai keterbatasan.

Oleh karena itu, membangun diagnosis haruslah melalui tahap tahap yang benar, yaitu anamnesis dan pemeriksaan fisik, lab sederhana dan ro thorax/ct scan thorax dna baru di konfirmasi pcr.

Pasien asimtomatis covid (otg yang pcr positif), harus di pastikan benar bahwa memang pasien covid.. Jangan jangan yang positif PCR nya itu dari virus yang sdh rusak, sudah mati atau sudah lemah tetapi masih bercokol lama di saluran nafas.

Makanya pasien OTG positif covid ini, yang klinis dan lab sederhana tidak menunjang kearah diagnosis covid jangan d rawat d rs, apalagi ICU.

Kalaupun OTG yang positif covid ini juga menunjukkan HAPPY HYPOXIA, jangan jangan pasien perokok dengan PPOK paru, jangan jangan pasien tuberkulosis paru lama, jangan jangan pasien anemia..

Makanya.. Kita harus pastikan benar covidnya, jangan semata berdasar PCR 

Selamat beristirahat semua..
Bila ada kesalahan, mohon dikritisi.
Terimakasih Nurul Indra dan @Simon atas masukannya.

https://ccforum.biomedcentral.com/…/10.1…/s13054-020-02880-z

https://www.medscape.com/viewarticle/928156

https://emcrit.org/pulmcrit/happy-hypoxemia-physiology/

https://www.medicinenet.com/hypoxia_and_hypoxe…/article.htm…

Sumber : Status facebook Agni B Sugiyamto

Thursday, July 2, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: