Hanum Rais, Pembohong Yang Genetis

Oleh: Rudi S Kamri

SAYA pernah terkecoh dengan sosok HANUM SALSABIELA RAIS. Dalam bayangan saya sosok Hanum Rais itu secantik dan sekeren ACHA SEPTRIASA karena saya sempat terpukau dengan akting Acha Septriasa saat memerankan sosok Hanum dalam Film 99 Cahaya di Langit Eropa.

Film itu indah dan menyentuh menggambarkan pengalaman rohani seorang Hanum selama mengikuti suaminya Rangga kuliah di Eropa. Tapi begitu tahu ternyata sosok Hanum yang ASLI itu jauh dari sosok Acha Septriasa, jujur sangat kecewa dan patah hati. Apalagi setelah tahu Hanum itu anak kandung Amien Rais. Kekecewaan saya semakin membuncah, hati saya semakin terpuruk remuk. Bayangan akan "Hanum Acha Septriasa" akhirnya pudar menghilang ditelan realita yang menyakitkan.

Tapi secara obyektif saya kagum terhadap KECERDASAN NARATIF seorang Hanum Rais. Kemampuan menulis dari Dokter Gigi Alumni FKG UGM Yogyakarta itu cukup pantas diacungi jempol. Tapi itu dulu sebelum dia ternyata terbukti sebagai perempuan penyebar kebohongan.

Namun ada fakta yang menarik, disamping pintar menulis, perempuan kelahiran Yogyakarta 12 April 1982 ini ternyata mempunyai talenta AKTING PEMBOHONG yang lumayan kampungan. Hal ini bisa kita lihat saat Hanum diberikan peran oleh GENK DUNGU RATNA KAMPRET BONYOK. Tugas Hanum sederhana, menangis tersedu-sedu dan mempromosikan gelar Tjut Cak Dhien dan Kartini masa kini bagi "BUNDA RATNA" dan Bunda Neno. Dengan sok menghayati peran si Hanum Rais dengan suara tercekat mulai menyebarkan kebohongan publik bahwa "RATNA SANG PENIPU" itu setara dengan Pahlawan Nasional Tjut Nyak Dhien dan RA Kartini.

Orang selevel Hanum Rais ternyata begitu tololnya sehingga tidak bisa membedakan antara MUTIARA dan KOTORAN KUDA. Saya sangat mengerti kalau orang Aceh dan seluruh masyarakat Indonesia tersinggung berat saat pahlawan kebanggaan kita disamakan dengan PEMBOHONG yang mengemplang uang donasi korban tenggelamnya kapal di Danau Toba. Saya juga sangat mengerti seluruh Perempuan Indonesia tersinggung berat saat Pahlawan Emansipasi Perempuan Indonesia disetarakan dengan perempuan jahat yang gemar BERBOHONG.

Hanum Rais, anak muda yang seharusnya menjadi harapan bangsa ternyata tidak ada bedanya dengan ayahnya yang suka menyebarkan kebohongan dan fitnah. Intelektualitas seorang Hanum Rais ternyata hanya selevel Rachel Maryam, artis bertampang blo'on yang suka menyebarkan kebohongan.

Apa yang kau cari, Hanum ?
Dengan berbohong Hanum telah dengan sadar mendegradasi level dirinya menjadi perempuan hina yang tidak punya empati pada penderitaan korban bencana gempa di Lombok, Palu dan Donggala. Saat seluruh Indonesia berduka, Hanum Rais dengan tega malah ambil bagian dalam skenario busuk penyebaran kebohongan.

Dan saya haqul yaqin DRAMA KEBOHONGAN tentang Ratna Sarumpaet itu kegiatan komunal yang TERENCANA dan BY DESIGN.

Saya meyakini tujuan kelompok ini SUPER JAHAT untuk mendzolimi Presiden Jokowi dan BERNIAT MENIPU RAKYAT INDONESIA. Dan saya meyakini pula Genk Koplak ini telah menyiapkan counter skenario kalau ternyata drama kebohongan ini terbongkar. Diantaranya MEMBUAT FITNAH DAN KEBOHONGAN BARU bahwa Ratna Sarumpaet itu sebetulnya adalah PENYUSUP dari kelompok Jokowi. Gila dan sangat menyesatkan. Tapi memang inilah CIRI KHAS PERMAINAN KELOMPOK MEREKA. Mudah-mudahan mayoritas masyarakat Indonesia masih cukup waras untuk melihat rentetan drama fitnah yang selalu diproduksi oleh mereka.

Hanum Rais telah secara sadar menjadi bagian penting dari KELOMPOK PENIPU INI. Dan semua ini berawal dari NIAT JAHAT dan KEBUSUKAN HATI yang diwariskan secara genetis oleh ayahnya yang memang bergelar BAPAK FITNAH NASIONAL.

PILIHAN sudah dibuat oleh Hanum Rais. Seorang Dokter yang begitu bodoh tidak bisa membedakan antara bekas SAYATAN BEDAH SILIKON dengan luka memar sehabis diinjak kuda. Meskipun jujur hasilnya memang tidak ada bedanya. Seorang penulis hebat yang telah terjerumus dalam konspirasi busuk dan terlibat secara aktif dalam penyebaran KEBOHONGAN.

Hanum Rais, shame on you !!!

Salam SATU Indonesia
Rudi S Kamri
06102018

 

Sumber : facebook Rudi S Kamri

Monday, October 8, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: