Hamba Tuhan atau Hamba Uang?

Oleh : Birgaldo Sinaga

Dekade 80 - 90an ketika saya masih remaja, booming KKR Kebaktian Kebangunan Rohani Kristen sering diselenggarakan di Medan. Biasanya mengambil tempat di Lapangan Stadion Teladan Medan.

KKR ini diikuti ribuan orang. Maklum promosinya besar -besaran. Dua koran lokal Medan satu halaman full dipasangi iklan. Judulnyapun super bombastis "Yang Tuli Mendengar, Yang Buta Melihat, Yang Lumpuh Berjalan".

Acara KKR bagi anak muda yang mencari jati diri seperti saya ini tentu sangat menarik perhatian. Tidak sia-sia rasanya iman Kristen saya yang percaya akan kuasa muzizatNya.

Bukankah Yesus Kristus tabib ajaib? Bisa membangkitkan orang mati dan mencelikkan orang buta? Kuasa ajaibNYA tidak berubah hari ini sampai selama2nya. Begitu iman percaya orang Kristen.

Saat hadir di Stadion Teladan itu, ribuan orang melotot takjub melihat tontonan muzizat dari hamba Tuhan yang mengaku dapat kuasa penyembuhan Ilahi. Klaimnya bahkan pernah bertemu Yesus langsung. Mirip klaim pendeta Yesaya Pariadji yang mengaku sering bolak-balik naik ke surga tapi lupa bawa anaknya Arseto Pariadji.

Seiring dengan berjalannya sang waktu, pencarian saya akan kebenaran iman terus berproses. Pada masa itu, media televisi juga jadi dipakai menjadi bagian promosi kuasa Ilahi.

Khotbah di dalam studio dengan penggunaan frekwensi televisi ternyata bisa mengalirkan kuasa Sang Evangelis menyembuhkan penonton TV yang sedang menyaksikan acaranya.

Ada penonton yang mengaku sakit perut sekian tahun tiba-tiba sembuh setelah didoakan. Begitu suara penonton yang sakit di telepon terdengar bilang sembuh penyakitnya penonton di studio tepuk tangan plok..plokk..plok sambil memuji Haleluya Puji Tuhan.

Ada juga telepon seseorang dari kota B yang mengaku asam uratnya tiba-tiba hilang karena menonton khotbah Sang Evangelis. Pokoknya acara rohani di televisi itu dibikin bak tontonan acara sulap yang membikin penonton terhipnotis percaya pada kuasa Ilahi si Evangelis ini. Lalu di bawah layar televisi tertulis kirimkan sumbangan pelayanan ke No rek : xxxxx.

Sejatinya komersialisasi agama telah berlangsung lama sama tuanya dengan kelahiran agama itu sendiri. Teman saya mas Eko Kuntadhi dan bro Denny Siregar dengan getir satir menceritakan kini banyak pendakwah unyu-unyu Islam menjadikan khotbah jadi mata pencarian.

Bisa kaya raya punya mobil mewah. Bayarannya sekali khotbah bisa puluhan juta. Jika tidak tebal kocek, jangan harap Pak Ustad seleb ini bersedia hadir. Begitu sindir mereka.

Eko dan Denny mungkin terkejut fenomena komersialisasi pendakwah Islam bisa cepat berkembang belakangan ini. Padahal di Kristen komersialisasi khotbah mimbar agama Kristen sudah ramai sejak dekade 80-90an.

Bedanya kalo Mas Eko dan bro Denny kritik komersialisasi agama dapat label aneh-aneh, kalo saya paling dapat label jangan menghakimi. Jangan jadi hakim bro Bir. Itu urusan Tuhan. Hak Tuhan.

Saya masih ingat, pada tahun 2000an saat diajak saudara kandung ibadah di salah satu gereja yang kebetulan kedatangan seorang evangelis asal Jakarta. Ia seorang mantan pemain film bela diri nasional yang hijrah menjadi pendeta.

Saat Mau masuk pintu masuk gedung, terletak 4 amplop yang diberikan kepada saya. Setiap amplop ada tulisan untuk mengisi sumbangan yang berbeda yaitu untuk perpuluhan, pembangunan, pelayanan dan hamba Tuhan. Ada nomor rekening si hamba Tuhan itu tertera. Hebat kan.

Saat Ibadah berlangsung, khotbah hamba Tuhan ini mirip dengan ocehan para motivator yang sering mengisi seminar pengembangan diri. Bagaimana menjadi kaya penuh berkat. Bagaimana menjadi anak Tuhan yang diurapi. Bagaimana menjadi pengusaha sukses. Semuanya tentang kebaikan Tuhan bagi orang yang mau percaya padaNya.

Ujungnya agar diurapi dan dilindungi oleh Tuhan diberikanlah setiap jemaat sebotol kecil minyak. Namanya minyak urapan. Minyak urapan ini mirip minyak pijat. Minyak diisi dalam botol kecil.

Lalu ayat pendukung soal teori begitu makjlebnya minyak urapan ini disampaikan si hamba Tuhan itu. Berikutnya jemaat diminta memberikan sumbangan seikhlasnya pengganti minyak urapan itu.

Abrakadabra...taraaa...jadilah minyak urapan itu persis seperti air basuhan si Ponari Cilik dengan batu ajaibnya. Laris manis bak kacang goreng.

Dalam setiap zaman, selalu ada orang yang bekerja sebagai penjual firman Tuhan. Modal cuap-cuap dengan air muka penuh kuasa ajaib. Hampir di semua agama ada. Bahkan dalam tataran agama Kristen saat ini telah terjadi persaingan sangat keras dalam merebut pangsa pasar jemaat.

Maklum, siapa yang bisa mendapatkan jemaat yang loyal, fulus gede bakal masuk ke rekening tanpa potongan pajak. Maka tidak heran, banyak berdiri denominasi gereja baru yang namanya unyu-unyu. Semua mengaku sebagai gereja yang paling direstui pemilik Surga, Yesus Kristus.

Mereka membuka gereja di ruko-ruko. Pusat perbelanjaan atau mall-mall besar. Tunggangan para hamba Tuhan ini gak kalah mewah dengan pengusaha papan atas. Jas yang dikenakannya super keren, sutra mengkilap.

Rambut klimis. Perut gendut. Dandanan ala artis. Jam rolex dengan cincin berlian. Belum lagi punya super bodyguard kiri kanan muka belakang atas bawah. Modalnya cuma jualan firman Tuhan.

Para hamba Tuhan yang fasih menawarkan surga ini menyasar anak-anak muda dan kelas menengah yang malas belajar. Mereka yang kering akan isi firman. Senang dengan aksi dan trik yang menyenangkan mata dan kuping. Senang dengan pertunjukan muzizat tipu-tipu seperti yang buta melihat, yang tuli mendengar dan yang lumpuh berjalan.

Baru2 ini ada anak pendeta Paskah Monas melakukan muzizat spektakuler. Dalam acara ibadah itu sepasang sepatu si anak baru gede itu diletakkan di atas kursi.

Jemaat diminta menyentuh sepatu si anak alay itu. Diiringi bahasa roh yang artinya tak bisa dimengerti. Saat jemaat hendak menyentuh sepatu itu, jemaat itu bertumbangan. Seperti kesurupan. Rebah ke lantai. Tidak sadarkan diri.

Lalu si anak alay itu bilang Jubah yang dikenakan Rasul Paulus juga punya kuasa muzijat, jadi tidak ada mustahil jika sepatu ini juga punya kuasa muzizat. Orang2 bertumbangan menyentuh sepatu itu. Semua terkesima terpesona. Plok.. Plok.. Plok... Amazing man.

Pertunjukkan sontoloyo itu memang menjengkelkan buat saya. Rasanya ingin saya ludahi saja wajah anak alay itu. Berani2nya mengajar dan menipu orang dengan aksi super dungu bin dusta.

Seakan-akan tanpa pertunjukan reality show itu kuasa Tuhan mati. Seakan-akan dengan aksi tipuan yang super menjijikkan itu kuasa Tuhan sekedar soal jubah, sepatu lalu bergelimpangan jatuh.

Tidak ada ubahnya seperti acara hipnotis Uya Kuya di TV. Bodohnya, para penganut kering iman ini lupa bahwa seorang pelaut yang berlayar di samudera luas tidak pernah kesepian akan hadirat Tuhan.

Pelaut ulung tahu milyaran bintang gemintang di angkasa raya dan tingginya ombak laut di samudera luas adalah karya cipta agung dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka merasakan kuasa Tuhan melalui semesta alam. Sementara kita sibuk dengan pencarian dimana kuasa Tuhan berada. Mengapa muzizat Tuhan menghilang?

Ujungnya kita mudah terpesona takjub dengan bacot dari penjual firman tentang penyembuhan Ilahi dan minyak urapan unyu-unyu itu? Lihatlah alam semesta, itulah kesaksian dan keagungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bumi, planet, bintang, bulan, matahari, semesta raya ini begitu menakjubkannya.

Bertrilyun2 tak terhingga jumlahnya namun bisa teratur pergerakannya. Apalagi yang kamu bimbangkan? Lalu dengan dangkalnya kamu terpesona dengan jatuhnya orang dungu itu karena menyentuh sepatu bocah ingusan itu?

Dunia komersil agama ini telah begitu memilukan. Sekarang ini mudah sekali orang menjadi evangelis atau pendeta. Modal bacot kuasai satu dua ayat Alkitab plus dandan ala pengkhotbah maka orang-orang bisa dengan mudah terpedaya.
Kaum unyu-unyu ini tinggal diberikan sebuah cerita kesaksian menguras air mata model "oh mama oh papa". Seketika orang akan langsung terkesima akan kesaksian si evangelis yang mengaku baru bertobat itu.

Pekikkan saja pada mereka Haleluya..Ada Amennn..maka semua yang hadir disana akan menyahut seirama. Maka tidak heran bisa muncul hamba Tuhan beranak hamba Tuhan yang bisa mentransfer kuasa muzizat.

Tidak heran hamba Tuhan punya kuasa memenangkan capresnya lalu bikin ibadah kemenangan ucapan syukur atas kemenangan capresnya itu. Mencatut nama Tuhan seakan2 dialah bossnya Tuhan. Awass kau Tuhan, kalo gak Kau menangkan capres saya ini, ku tempeleng Kau. Begitu ngototnya ancaman doa hamba Tuhan itu.

Zaman now ini kita sering malas berpikir dan bernalar. Kita malas menyelami inti mengapa Yesus Kristus datang ke dunia ini. Ada tidak ada muzizat sejatinya kematian dan kebangkktan Yesus Kristus itulah karya Muzizat Agung Allah yang maha besar.

Hari ini perut kau tiba2 sembuh karena mendengar khotbahnya. Tapi tetap juga kau mati suatu saat. Hari ini kau sentuh sepatu si bocah ingusan itu, lalu jatuh rebah kau di lantai. Katamu sepatunya punya kuasa ajaib. Tapi tetap saja suatu saat kau mati. Seandainya kau sentuh sepatu anak alay itu hingga bisa membuat kau terbang kayak superman tetap saja kau akan mati suatu saat. Lha ini cuma rebah doang. Uya Kuya juga bisa.

Jadi bernalarlah dalam beragama. Otak dan pikiran diberikan Tuhan agar berguna buat kehidupan yang baik. Satu2nya benteng pertahanan kita dari ombang-ambing dunia ini adalah nalar. Itulah benteng pertahanan kita yang terbaik. Jika tidak, engkau akan ditelan orang2 penipu dan manipulator.

Salam perjuangan penuh cinta
Birgaldo Sinaga

Sumber : Birgaldo Sinaga

Friday, April 6, 2018 - 16:15
Kategori Rubrik: