Halusinasi Denny Siregar

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Seorang rekan dari Surabaya telpon, setelah 4 pesan WA-nya tidak sempat saya baca. Dia mengabarkan ada beberapa teman yang berencana menjenguk Ahok di Mako Brimob. Untuk mendapatkan kesempatan itu perlu ijin khusus baik dari kekuarga, pihak terkait sampai penguasa Mako Brimob.

Kata teman itu nama saya diusulkan masuk dalam daftar, bersama 10 orang lainnya. Saya antusias menyambutnya. Untuk keperluan tersebut dibuat sebuah group WA (#VisitAhok), yang isinya teman-teman yang akan menjenguk plus beberapa orang lainnya.

 

 

Separuh dari calon pembesuk terbang dari luar kota. Saya mengusulkan titik kumpul di Margocity Mall, Depok. Sebagai mall yang paling dekat dengan Kelapa Dua. Jumat jam 13.00,

Sial. Sehari sebelum jadwal, tiba-tiba saya disergap perkerjaan yang susah untuk dihindari. Mau ditunda, klien meminta selesai sebelum libur panjang. Jika dituruti saya kehilangan kesempatan menjenguk Ahok.

Saya harus berangkat ke luar kota, sementara teman lain datang dari berbagai kota ke Depok untuk sekadar menjenguk Ahok. Saya seperti diperhadapkan yang situasi sulit antara memilih Raisya atau Isyana. Meskipun sebetulnya, Raline Syah juga ok.

Saya sempat merencanakan berangkat ke luar kota, lalu balik Jakarta dengan pesawat pagi, lalu setelah itu berangkat lagi. Cuma gak yakin waktunya cukup dan nanti malah mengacaukan semuanya. Akhirnya saya pasrah.

Di tengah sergapan pekerjaan itu saya sempat menghayal bertemu Ahok di Mako Brimob. Sebetulnya karena iri melihat teman-teman group WA Visit Ahok, saling bercerita.

Saya iri dengan Denny Siregar yang bisa menceritakan versi real kunjungannya ke Mako Brimob bertemu Ahok. Sementara saya cuma punya versi halusinasi.

Tapi meskipun cuma punya versi halusinasi, baiklah akan saya ceritakan juga disini.

Awalnya saya hendak membesuk Ahok disana. Tapi seorang petugas menawarkan kepada saya, apa saya mau menjenguk Rizieq Shihab juga? Saya kaget.

"Memangnya buronan itu sudah ditahan disini, pak?," tanya saya keheranan. Petugas itu tertawa senang.

"Kamu ini, halusinasi saja masih mikir pakem. Yang namanya halusinasi mestinya bebas saja, jangan ikutin kaidah apa-apa," jawab petugas. Lalu saya pun tertawa.

"Firza ditahan disini juga ya, pak? Kalau ditahan disini juga seru dong." Petugas itu mendelik.

"Sudah, sudah. Stop. Halusinasimu kebablasan."

Jadi terserah, kamu mau percaya ceritanya Denny apa kisah saya. Hidup adalah pilihan, bukan? Sebaiknya percaya saja sama versi saya. Kalo Denny mah ketahuan tukang boong.

Makanya dalam banyak komentar status FB-nya cuma ada dua kategori merespon tulisan Denny. Yang satu ngajak Mubahallah, yang lain ngajak sumpah pocong.

Kabarnya tantangan itu direspon. Nanti pada 28 Oktober, Denny Siregar akan menggelar acara 'Sumpah Pocong Muda'.

 

(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)

 

Monday, June 19, 2017 - 07:45
Kategori Rubrik: