Halal VS Najis

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Saya nggak habis fikir melihat generasi yang hilang ini yang tidak paham-paham juga dengan ilmu agama, khususnya Ilmu Ushul Fiqih.

Masak bedak dibilang halal? Kosmetika halal? Jilbab halal? Kaca mata dan lensa halal?

Apa maksudnya halal? Boleh dimakan?

Jangan-jangan maksudnya halal disitu bahannya tidak mengandung najis, tidak terbuat dari babi atau tidak mengandung alkohol.

Tapi istilahnya kok halal?

Kalau tidak mengandung najis, istilahnya bukan halal, tapi suci dari najis atau sebutannya Thahirun (طاهر). Yang pernah ngaji fiqih pasti paham bahwa lawannya najis itu suci, bukan halal.

 

Lalu halal itu apa dong?

Halal itu salah satu ungkapan dari status hukum mubah. Contohnya Allah berfirman : Uhilla lakum atau ahallaallahu. Ungkapan lainnya seperti La Junaha, La Haraja, dan lainnya.

Dan Mubah itu sendiri adalah salah saru dari lima status hukum : wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Pada bagian mubah adalah beberapa sighat yang Allah gunakan. Salah satunya : halal. Misalnya Allah berfirman :

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. Al-Baqarah : 275)

Allah halalkan maka hukum jual beli itu mubah. Mubah itu dikerjakan atau ditinggalkan tidak berdosa.

Jadi halal itu artinya boleh, bukan tidak najis.

Mau tegakkan syariat Islam, tapi masih rancu dan galaw tidak bisa membedakan najis dan halal. Mendingan ngaji lagi, belajar Ilmu Ushul Fiqih.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Wednesday, December 4, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: