Hal Mengaku Salah

ilustrasi

Oleh : R Budi Sarwono

Mengakui kesalahan itu berat. Itulah kenapa orang orang di sekitar kita acap ngotot supaya terus dianggap benar. Tetapi ketahuilah, pakarti semacam itu akan menjadi batu sandungan baginya dalam latihan mengolah rasa.

Rasa berat mengakui kesalahan itu terjadi bila individu menempatkan gegayuhan, hasrat, kehendak, karep atau 'kajeng' yang besar dalam sebuah perkara. Jika kita tak punya keinginan apapun dalam sebuah perkara, mengakui kesalahan menjadi sangat ringan. Keinginan diri itulah yang sesungguhnya membuat individu gampang menyalahkan orang lain, untuk mendapatkan pembenaran diri. Ki Ageng Suryomentaram menyebut raos bener (rasa benar)

Bagaimana keluar dari Raos Bener ?
Individu yang mengalami kesulitan dalam mengenali hasrat hasrat diri, keinginan keinginan tersembunyi atau gegayuhan-gegayuhan pribadi biasanya gampang terserang penyakit 'raos bener' ini. Cara keluar dari situasi itu tidak ada cara lain kecuali dengan menyadari hasrat-hasrat dirinya.

Mudahkah? Tentu saja sulit. Karena bagi mereka yang kasinungan 'raos bener' tulisan inipun salah. Jangan khawatir, masih ada cara; mari kita merenungkan cerita wayang sebagai salah satu kearifan nenek moyang.

Pada saat Bima ingin mencari tahu jati dirinya, ia dikasih clue oleh penasihat spiritualnya; "Jika kamu ingin tahu siapa dirimu, carilah kayu gung susuhing angin". Mak brabat, Bima pamit lalu lari, naik turun gunung, manjat tebing menuruni jurang, keluar masuk hutan mencari kayu itu. Tak ditemukannya. Sedih to? Lalu Bima nganyut tuwuh, bunuh diri nyemplung samudra.

Di dalam samudra, Bima yang sudah sekarat itu ketemu dengan miniatur dirinya. Katanya, "Kamu itu kok goblok banget to Bim, mosok nyari kayu kok ndik sini, yo ndak bakal ketemu". Jenggirat !! Bima yang setengah sadar itu melenguh lalu dengan rendah hati ia minta petunjuk dengan remidial teaching dari sosok kecil yang mirip dirinya itu.

"Kayu gung susuhing angin itu maknanya begini..." kata si Bima miniatur; "Kayu itu sama maknanya dengan kajeng, kajeng itu sama maknanya dengan karep, karep itu hasrat, hasrat itu nafsu" Bima melengos mulai menyadari kebodohannya.

"Jadi kalau gurumu minta kamu mencari kayu gung, sesungguhnya ia minta kepadamu untuk memeriksa hasrat hasrat dirimu, nafsu nafsumu, keinginan keinginanmu yang agung, yang besar, yang akbar, yang menyebabkan kamu gampang nyalahin liyan"

"Lalu bagaimana dengan susuh angin ?" tanya Bima yang gagah tapi bathinnya kurang cerdas itu.
"Susuh Angin itu nafasmu, kalau kamu mau meneliti hasrat, keinginan dan nafsu nafsu besarmu, sesungguhnya bukan di hutan, gunung atau laut, tapi carilah di dalam nafasmu!"
"Maksudnya bagaimana?"

"Wah jan pekok tenan kok kowe kuwi.... kalau kamu tidak ingin terjebak pada 'raos bener' sering seringlah menelitil batinmu dengan meditasi, kontemplasi, mawas diri, self examination, gitu. Tidak ada cara lain utk keluar dari penyakit 'raos bener' itu kecuali mengunjungi telenging napasmu, susuh anginmu"
“Hmmmmmm.......” Bima menggeram, mbuh mudeng mbuh ora....

Sumber : Status Facebook R Budi Sarwono

Thursday, May 28, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: