Hakim Dalam Hukum Islam

ilustrasi

Oleh  Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Salah satu keunikan hukum Islam adalah kedudukan hakim yang istimewa sekaligus juga beresiko.

Ada begitu banyak hukum syariat yang Allah SWT titipkan di pundak seorang hakim, bahkan nyawa seseorang pun tergantung keputusan hakim.

Umar bin Khattab radhiyallahuanhu di masa pemerintahannya adalah juga seorang hakim, yang berhak menentukan jatuhnya suatu vonis atau tidak jatuh. Kala terjadi paceklik dan banyak pencurian, Umar adalah pihak yang Allah SWT beri wewenang untuk memutuskan, apakah seorang pencuri dipotong tangannya atau tidak.

Kedudukan ini tentu saya amat istimewa. Dan memang syariat Islam memberikannya secara resmi dan sah.

* * *

Bentuk hukuman dalam syariah Islam ada dua macam, yaitu hukuman dalam format hudud dan ta'zir. Berbeda dengan hudud yang segalanya ditentukan langsung dari langit, hukuman ta'zir itu adalah hukuman yang Allah SWT serahkan kepada hakim, mau diapain itu orang yang bersalah.

Misalnya, pezina yang tidak cukup saksi memang tidak bisa dirajam secara hukum hudud. Namun tetap bisa dikenakan sanksi secara ta'zir oleh hakim. Allah SWT memberi wewenang kepada hakim untuk menjatuhkan hukuman.

Yang menarik adalah dalam sengketa perceraian. Ternyata kedudukan hakim juga teramat tinggi. Bisa saja sengketa perceraian itu diputuskan sebagai cerai oleh seorang hakim, namun bisa juga tidak dianggap sebagai cerai.

Oleh karena itulah maka ketika ada yang tanya ke saya, apakah perbuatan begini atau begitu sudah termasuk cerai, maka jawaban saya simpel : tanyakah ke pak hakim.

Hakim lah yang diberi wewenang oleh Allah SWT untuk memutuskan, apakah riwayat sebuah pernikahan akan berakhir disitu, ataukah akan diselamatkan dan diteruskan.

Bisa saja seorang sudah berkali-kali bilang pisah ke istrinya, tapi menurut hakim, semua itu dianggap tidak sah. Sehingga pasangan itu tidak diputus cerai. Itu semua wewenang seorang hakim.

Kita sebagai ustadz, tidak diberikan wewenang seperti seorang hakim. Kita cuma bisa berfatwa atau beropini, tapi yang punya kekuatan hukum adalah palu pak hakim.

* * *

Tentu apa yang diputuskan seorang hakim ada pertanggung-jawabannya di akhirat nanti. Dia akan dipertanyakan, kenapa memutuskan begini dan kenapa begitu di hadapan mahkamah akhirat. Siksaaan buat hakim tentu amat sangat berat.

Sebab wewenang yang Allah berikan itu bukan tanpa resiko. Wajar sekali di masa para shahabat, umumnya tidak ada yang mau diangkat jadi hakim. Tidak ada yang kampanye, atau mendekat penguasa minta jatah jabatan.

Tidak ada yang beralibi pura-pura ingin dakwah, padahal dia mengincar jabatan. Kalau dakwah, ya dakwah saja, apa urusannya pakai ribut minta jatah jabatan.

Sebab jabatan hakim itu resikonya teramat tinggi. Salah urusannya, malah masuk neraka. Tidak ada yang berani main-main dengan jabatan.

* * *

Lalu zaman berubah. Jauh sekali perubahannya. Kita agak pusing kalau membandingkan apa yang terjadi di masa para shahabat dengan yang terjadi di masa sekarang.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Saturday, August 24, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: