Haji Pandemi

ilustrasi

Oleh : Athoillah Isvandiary

Gerimis hati ini melihat video yang saya ambil dari Instagram Masjidil Haram ini. Ini adalah ritual Thawaf (mengitari Ka'bah 7 kali) Qudum (pertama), menandakan "selamat datang di Makkah". Dilakukan dengan physical distancing. Dengan peserta yang amat sangat terbatas dan diseleksi dengan ketat.

Hari ini adalah hari pra- haji. Awal sekaligus puncak ritual haji sendiri dilakukan besok, dimulai dari mulai mengenakan dua kain yang dililitkan begitu saja tanpa jahitan ke tubuh bagi pria, dilakukan di kota Makkah, lalu biasanya jamaah mulai bergerak ke luar kota untuk melakukan camp mulai tepat tengah hari, yang disebut wukuf, di tengah Padang pasir Arafah sekitar 18 km di luar kota mekkah, sampai menjelang senja.

Jarak 18 km itu di hari biasa bisa ditempuh 20 menit dengan mobil, tapi biasanya di hari puncak haji seperti ini bisa ditempuh selama 2 jam hingga 12 jam. Saking padatnya. Sepertinya, tahun ini tentu berbeda.

Biasanya di dalam 1-2 hari menjelang puncak haji seperti hari ini, semua jamaah sudah total berkumpul di kota Makkah, menunggu dengan berdebar2 hari pelaksanaan puncak haji besok. Kota yang di hari biasa dihuni hanya sekitar 1,5 juta jiwa itu, biasanya di hari hari menjelang puncak haji seperti ini biasanya disesaki oleh 4 juta jamaah dari seluruh dunia.

Masih terdengar rasanya hingar bingar manusia bercakap cakap dalam ratusan bahasa. Sesekali terdengar bahasa Indonesia, karena dari 4 juta jamaah itu sekitar 10% nya memang berasal dari Indonesia, salah satu negara yang mengirimkan jamaah paling banyak setelah Pakistan.

Masih terdengar suara-suara dari petugas (Asykar) yang mengatur jamaah," ya hajj, harrik...harrik (move.. move...)", " Undunisia? (Indonesia?)... "Undunisiya miah miah" ( artinya, Indonesia 100. Maksudnya, Indonesia baik2).

Masih teringat para petugas haji Indonesia, yang dengan luar biasa memantau, mengatur, sampai dengan memastikan keselamatan dan kesehatan jamaah, hingga kadang mereka sendiri yang sakit dan kelelahan. Kalau anda ingin merasakan kehadiran negara untuk rakyat Indonesia, saya sampaikan: di saat puncak haji inilah terasa sangat nyata.

Masih teringat ibu2 bercadar penjual bakso, kacang hijau, kolak, tempe, kerupuk, yang tiap hari berjualan di depan penginapan2 orang Indonesia. Mereka adalah para pemukim orang Indonesia yang sudah tinggal beberapa tahun di Mekkah, baik legal maupun ilegal. Tapi apapun, berkat jasa mereka, kerinduan lidah akan masakan tanah air selalu terobati.

Masih teringat bagaimana melakukan long March menyusuri terowongan yang besar sepanjang 2 km di Padang pasir Mina, setiap hari selama tiga hari, untuk melempar batu2 pada tugu di titik akhir terowongan yang disebut Jamarat, yang menjadi simbol dari perlawanan terhadap segala atribut dan sifat syaitaniah. Jamaah Indonesia adalah jamaah yang paling meriah, atributnya paling warna warni sesuai seragam dari kelompok bimbingan masing masing selama di tanah air, dan itu menjadi warna tersendiri selama ritual di Mina. Setiap kali rombongan orang Indonesia lewat, biasanya petugas selalu melakukan "high-five" dengan para jamaah. Karena, memang "Undunisiya miah miah".

Masih teringat cucuran air mata setelah hari terakhir melakukan Thawaf Ifadhah dan ditutup dengan tahallul (yang ditandai dengan menggunting rambut, atau menggundul bagi laki-laki) yang menandakan "kelulusan" haji.

Tahun ini, itu semua sementara tak bisa dijumpai lagi. Karena pandemi yang memang akan sangat membahayakan jika jumlah jamaah dipaksakan sepadat biasanya.

Sumber : Status Facebook Athoillah Isvandiary

Monday, August 3, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: