Hairdryer Treatment Sir Alex Ferguson Diterapkan Jokowi

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Pecinta sepak bola, terutama fans Manchester United tentu tidak asing dengan istilah Hairdryer Treatment yang kerap dipraktikkan Sir Alex Ferguson (SAF) kepada anak didiknya di ruang ganti (biasanya saat istirahat babak I). Sang Manajer sekaligus coach itu, lepas dari ada yang tidak suka dengan caranya memberi "arahan" kepada pemain, faktanya berhasil jitu karena di era SAF piala dan pundi-pundi banyak mengalir ke klub dan menjadikan MU berjaya saat itu.

Meski begitu, tentu saja fans, pemain hingga pelatih bahkan karyawan klub yang menjadi musuh buyutannya, seperti Manchester City, Liverpool, Chelsea dan Arsenal misalnya, tetap berpandangan negatif terhadap apa yang dilakukan SAF. Dan bahkan sama sekali tidak mengakui sudah berapa thropy terpajang di lemari base camp mereka. Begitulah, jika memang didasarkan kepada kebencian, apapun menjadi salah. Ini juga yang terjadi dengan Jokowi.

Ketika Jokowi hanya diam saja atas kinerja menterinya yang amburadul, para hatter menyebutnya lemah, leda lede, plonga plongo, gak berwatak leader karena lebih banyak diatur menterinya daripada memarahi anak buahnya. Benarkah? Tidak juga. Karena saat Jokowi kini memberi tekanan kuat dan keras di setiap kata-katanya kepada para menteri di sidang kabinet, dan disebut oleh media sebagai "marah", itu pun tetap dipandang salah oleh para pembenci. Ada yang salah? Di mana?

Disebutlah hanya drama saja, atau akting saja, atau gertak sambal saja, atau pencitraan biar populer saja... Video Jokowi "marah" yang viral menurut Haris Azhar aneh karena ditayangkan setelah seminggu kemudian. Soal ini, saya baru mendapat info dari Ring 1 KSP yang menceritakan bahwa awalnya Biro Pers di bawah Setneg tidak berani menayangkan karena dianggap bisa menurunkan citra Jokowi. Namun beberapa hari kemudian justru Jokowi bertanya mengapa tidak ditayangkan seperti biasa di laman Facebook Presiden Joko Widodo?

Disampaikanlah alasan tadi, namun justru Jokowi tidak setuju. Jokowi menganggap biar saja dilihat dan dinilai masyarakat. Kira-kira, mungkin seperti ini yang diucapkan Jokowi, "Saya tidak ada masalah dengan pencitraan dan popularitas. Bahkan sudah saya nyatakan, saya siap pertaruhkan reputasi politik saya jika itu untuk 267 jt penduduk Indonesia. Saya sudah beri arahan umum, lalu para menteri mengeksekusi. Tugas saya kemudian memantau, setiap hari saya pantau sampai mana," ujar Jokowi.

"Di samping itu sekaligus saya menampung dan mendengar keluhan masyarakat. Faktanya kan memang ada masalah. Banyak masalah. Tidak hanya sekali dua kali kita rapat kabinet, selalu saya ingatkan dan arahkan. Saya bantu pula dengan membuat regulasi agar kerja menteri bisa lebih mudah. Faktanya ada bansos terlambat, ada yang tidak mendapat, ada yang belum cair dananya. Begitu juga untuk tenaga medis, masih belum cair insentifnya. Maka saya bersikap," jelas Jokowi.

Jokowi menambahkan, "Biar masyarakat melihat dan menilai. Dan ini juga sebagai upaya terapi agar para menteri tidak lagi terlalu santai. Begitu juga misalnya lembaga-lembaga negara yang ada agar bisa lebih koorporatif, berkolaborasi, bergotong-royong untuk membantu rakyat. Saya tidak mungkin bisa menghandle semua," tambah Jokowi. Saya kira Jokowi tidak salah, bak sebuah tim sepakbola, Jokowi adalah seorang manajer dan coach yang punya visi dan misi pertandingan.

Jokowi merancang konsep strategi permainan untuk menang. Jokowi pula yang memilih pemain yang akan turun ke lapangan. Namun urusan teknis di lapangan sepenuhnya menjadi tugas dan tanggungjawab pemain. Pelatih akan merasa tidak puas bahkan bisa marah kepada pemainnya karena dianggap tidak sesuai instruksi dan arahan pelatih. Si Pemain seperti bermain sendiri (ego sektoral), bahkan ada yang ingin tenar sendiri di mata pendukungnya.

SAF juga paling benci dengan pemain yang hanya ingin menjaga popularitas semata. Kemudian juga tidak suka dengan pemain yang tidak disiplin. Apa yang dilakukan SAF kepada pemainnya yang seperti itu? Selain tentu saja "disemprot" di depan wajah, setelah itu akan banyak dibangku-cadangkan. Atau pula bisa saja dipinjamkan ke klub lain agar menambah jam terbangnya. Itu hukuman buat pemain yang tidak disiplin dan hanya ingin popular saja, sebelum benar-benar dijual ke klub lain ataupun dipecat begitu saja.

Kini, menarik untuk menunggu apa langkah selanjutnya dari Jokowi andai dia diumpamakan sebagai pelatih di pinggir lapangan menyaksikan anak buahnya bertanding. Babak kedua, setelah treatment di ruang ganti, apakah akan mengganti pemain, atau cukup dengan terus mengawasi dan memberi instruksi langsung kepadanya? Namun masalah tidak hanya sampai di situ. Problemnya adalah, penonton tengah menyaksikan.

Tidak hanya penonton pendukungnya saja, tapi adapula penonton dari pendukung lawan. Ada pula para pengamat dari media. Kalau pengamat yang mantan pemain ataupun pelatih bolehlah berkomentar sesuai dengan kompetensinya. Namun penonton awam terkadang jauh lebih hebat dan lebih benar daripada pelatih ataupun pemain itu sendiri. Mereka bisa dan tidak peduli mencaci maki pelatih dan pemain. Terutama penonton dari pihak pendukung lawan. Selain mengejek, mereka pun bisa berteriak senang, berisik sekali.

Adakah MU pernah menyakiti penonton dari pendukung Liverpool dalam arti sesungguhnya, misalnya? MU hanya pernah mengalahkan klub kesayangan mereka. Hal yang sangat biasa dalam dunia olah raga, seperti sepak bola. Bahkan musim ini justru Liverpool yang mengalahkan MU dalam mengangkat thropy Liga Inggris. Sama juga dengan ajang politik nasional sekarang ini. Jokowi hanya mengalahkan rivalnya dalam pilpres 2019 (hal yang lumrah).

Namun pendukung rivalnya seperti tidak ada habisnya seolah disakiti. Mengapa ngotot sekali selalu menjelek-jelekkan dan ingin menjatuhkan Jokowi di tengah jalan? Ya, mereka ingin Jokowi gagal. Mereka ingin Jokowi tidak meneruskan melatih. Belajar dari SAF, ia dulu juga banyak sekali hatter yang tidak ingin dirinya meneruskan melatih di MU. Mengapa? Karena MU bisa merajalela juara terus. Intinya, SAF tetap tegar meski dihujat sana sini, tidak pernah putus asa dan menyerah.

SAF buktikan saja dengan terus bekerja keras dan memenangkan pertandingan untuk klub nya, dan menjadi juara di banyak ajang. Hingga karena usia dan penyakit kankernya yang mengharuskan SAF pensiun dari dunia kepelatihan. Jokowi bisa belajar dari SAF untuk membiarkan saja para hatter bicara apapun sepanjang tidak dengan cara curang ataupun melanggar hukum. "Maaf, kami tidak sempat membahas orang bicara negatif kepada saya ataupun tim kami. Kami hanya fokus bagaimana berlatih dan pada saat pertandingan bisa menang. Itu saja," jawab SAF di buku biografinya.

Begitu jawaban SAF ketika ditanya bagaimana cara mengatasi para pembencinya. Perlu diketahui juga, terkait dengan Jokowi, ia adalah tipe pemimpin partisipatif, bukan komando, apalagi otoriter seperti yang dituduhkan selama ini. Ciri pemimpin partisipatif diantaranya, sharing tupoksi, kewenangan sifatnya dibagi tidak di satu tangan seorang pemimpin; dengan itu ada disposisi atau pelimpahan wewenang; keputusan dibahas bersama, setidaknya mendengarkan bawahan; dan komunikasi timbal balik, bukan satu arah.

Itu bedanya dengan kepemimpinan model Suharto di zaman orba, misalnya. Namun, Jokowi bukan tidak menyadari posisinya sebagai presiden. Tampuk tertinggi kekuasaan tetap berada di tangannya. Karena jika semua merasa bisa mengatur bisa beralamat kacau. Saatnya kini ia memfungsikan kekuasaan itu. Ia ingin semua terkendali tidak berjalan sendiri-sendiri. Ketika konsep partisipatif yang ia tawarkan ternyata tidak dimaksimalkan oleh bawahannya, maka ia siap ambil alih pelimpahan sebagian wewenang tadi, termasuk mengganti pemain dengan pemain cadangan. (Awib)

Sumber : Status facebook Agung Wibawanto

Friday, July 3, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: