Hai China

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Berikut sebuah artikel lama (2017), yang saya kira masih cukup relevan ditampilkan. Di tengah kondisi masyarakat yang "sakit" karena virus intoleransi, adanya gerakan membenci etnis tertentu, serta mulai munculnya budaya kearab-araban. Kadang-kadang ngaku pribumi asli tapi berpenampilan serta berbahasa diarab-arabin. Jika tidak begitu khawatir gak masuk sorga.....
------------------------------------------

Dulu saat masih SD di Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara, saya kerap mendengar sapaan "Hai Cina!" dari teman dan orang-orang keturunan Melayu kepada warga keturunan Cina. Bahkan kadang dengan sebutan atau panggilan yang mengundang tawa (menjadi bahan olokan).

Saat itu saya tidak tahu mengapa mereka tidak marah? Yang saya tahu bahwa jumlah warga keturunan Melayu dan Jawa memang jauh lebih banyak ketimbang warga keturunan Cina. Tapi saya belum mengerti apa makna minoritas. Saya ingat, justru saya yang menegur seorang teman yang memanggil teman dari warga keturunan Cina dengan sebutan "aneh" (tidak perlu saya tuliskan).

Saya katakan kepada teman saya bahwa dia punya nama, mengapa tidak memanggil namanya? Saya ingat lagi, justru saya yang marah dan hampir berkelahi, sementara si Cina teman saya mencoba melerai. Ada pula teman dari keturunan India karena berwarna kulit lebih hitam kerap disapa "keling". Sungguh saya geram, namun kembali teman keturunan India itu tidak marah.

Saat dewasa dan sempat berkunjung ke wilayah sumatera selatan (urusan kerjaan), saya pun sempat dipanggil "Jawa", karena nama saya sangat Jawa dan mereka tahu saya dari Yogyakarta. Ketika dipanggil demikian, saya merasakan dada ini sangat sesak dan emosi sudah mencapai ubun-ubun tinggal diletupkan (apalagi saya besar di Medan yang kadang sulit mengontrol emosi). Geram rasanya!

Namun seketika, pengalaman saya di Tanjung Balai saat masih SD terlintas kembali. Mereka kaum minoritas bisa menahan marah kepada mereka kaum mayoritas yang mengolok-olok, mengapa saya tidak bisa? Jujur saya lupa di Sumsel saya menjadi minoritas. Identitas "bawaan" yang menjadikan saya mayoritas (Islam dan Jawa) terkadang kebawa kemana-mana. Kadang saya tidak sadar, bahwa meski masih di Indonesia, identitas saya yang tadinya mayoritas bisa saja berubah menjadi minoritas.

Yang saya masih tidak mengerti, mengapa posisi minoritas di negeri demoratis dengan penduduk terbesar ini masih saja pada posisi-posisi kecil yang tidak strategis. Jarang kita melihat seorang minoritas (warga keturunan) yang menjadi kepala sekolah di sekolah negeri. Jarang pula kita lihat mereka menjadi TNI ataupun Polri. Menjadi kepala desa/lurah, camat, walikota/bupati, gubernur, menteri apalagi presiden?

Toleransi masyarakat kita masih sebatas "olok-olokan". Artinya bisa tampak akrab atau tidak masalah di saat bercandaan saja. Namun ketika urusan serius, minoritas akan tersingkirkan. Bagi mereka yang warga keturunan Arab masih mending. Meski berstatus sebagai warga keturunan, mereka bisa langsung menjadi mayoritas karena agamanya (Islam). Jika mau diurut-urut, siapa sesungguhnya manusia Indonesia yang bukan warga keturunan?

Jika melihat fakta sekarang ini di Indonesia, maka etnis Jawa dan agama Islam dapat dikatakan sebagai Mayoritas. Namun dilihat dari asal usul, siapa sebenarnya penduduk wilayah Indonesia pertama sekali? Apa agama mereka? Islam, Nasrani, Budha, Hindu, semuanya adalah ajaran para pendatang. Untuk itu, para pendiri bangsa ini tidak ingin mempermasalahkan itu semua. Bahwa kita sekarang sepakat disebut INDONESIA, apapun sukunya, agamanya, ras dan antar golongannya.

Kita butuh kesatuan dan persatuan agar menjadi kuat. Tidak akan ada mayoritas tanpa minoritas, dan sebaliknya demikian. Dengan demikian, tidak perlu menunjuk-nunjukkan identitas, tunjukkan saja darma bakti kepada bangsa. Kita tidak ada bedanya, SATU INDONESIA. Seperti kata Bung Karno, lihatlah kebhinekaan itu layaknya aneka macam bunga-bunga indah di taman nusantara. Jangan jadikan masalah, berbeda bukan berarti harus dibeda-bedakan.

Jangan menjadi Ahokphobia, seperti KGP yang sekarang sudah ditangkap polisi... Tidak ada tempat di negeri ini bagi orang-orang yang membangga-banggakan identitasnya, diskriminatif dan bersikap intoleran. Dalam sejarah, Adolf Hitler dan Mussolini pernah hancur akibat pemikiran yang terlalu membanggakan identitas ras maupun golongannya sendiri. Ini Indonesia yang memiliki keberagaman. Beragam untuk bersatu, dan bersatu karena beragam. (Awib)

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Friday, July 3, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: