Hagia Sophia : Hikmah Kudus - Jalan Menuju Rekonsiliasi Umat Israel

ilustrasi

Oleh : Sechah Hefzibah

Apakah persamaan perempuan dalam kolase foto-foto ini dengan saya?

Ya, kami sama-sama berdarah ningrat, cantik mempesona, pernah menikah dan bercerai dua kali, dan akhirnya mengambil kaul hidup menjadi biarawati.

Perempuan ini adalah Bendoro Raden Ayu Ileana, kira-kira demikian gelarnya jika di Jawa. Dia adalah putri bungsu Raja Ferdinand I Rumania. Lahir pada 1909 dan wafat pada 1991. Perubahan politik Rumania menjadi negara komunis, menyebabkan Ileana dan suami pertamanya serta enam anak mereka harus menyelamatkan diri ke AS. Tidak lama kemudian keduanya berpisah dan Ileana menikah lagi. Enam tahun kemudian berpisah dari suami keduanya, dan Ileana kemudian memasuki kehidupan biara kira-kira setahun kemudian pada 1961. Setelah pentakdisannya, ia memperoleh nama Bunda Alexandra.

Pada tahun 1970-an, Bunda Alexandra menuliskan komentarnya mengenai Hagia Sophia di Istanbul, Turki karena ia pernah menginjakkan kaki ketika Hagia Sophia menjadi masjid dan ketika ia menjadi museum. “It was a place of prayer and order as a mosque, without the mobs of tourists with silly hats, posing for and clicking photos, with no sense of sacred.” (Dulunya adalah tempat sembahyang dan tertib sebagai sebuah masjid, tanpa gerombolan para turis dengan topi aneh, berpose dan menjepret foto-foto, tanpa merasakan (tempat tersebut) adalah sakral).

Saya menyukai kata-kata Bunda Alexandra tersebut dan menurut saya kata-kata tersebut harus dipertimbangkan sebelum kita memihak apakah menyetujuinya sebagai masjid, sebagai museum atau mengembalikannya sebagai gereja. Mengapa?

Di sini saya ingin menyampaikan pandangan saya tanpa memberi makan egosektarian. Oleh karena itu, penting sekali mengetahui tradisi-tradisi yang sesungguhnya mempertemukan tiga kelompok utama umat Israil ini: Islam, Kristen dan Yahudi. Terutama, karena saya melihat bahwa apa yang saat ini berlangsung terhadap Hagia Sophia merupakan salah satu “langkah kuda” penting dalam percaturan politik internasional yang akan membawa umat Israil ini pada babak sejarah berikutnya sebagaimana telah dinubuatkan oleh Yesus Kristus kepada musahipnya Yohanes Sang Murid Terkasih di Patmos.

*KUIL ALLAH TEMPAT SAKINAH BERSEMAYAM*
Hagia Sophia secara sederhana berarti kearifan suci atau hikmah kudus (English: Holy Wisdom). Bahasa Yunani (sophia) dan bahasa Ibrani (hokmah) menempatkan kearifan sebagai feminin, dan demikian pula dengan kesucian atau kekudusan (Ibrani: shekinah padanannya Arab: sakinah; Yunani: doxa).

Kuil Yerusalem kerap kali juga disebut sebagai “Bait Sakinah”.
Bilamana Roh Kudus adalah perbuatan ilahiah yang gaib, yang dilakukan oleh seorang manusia, maka sakinah adalah yang dapat dirasakan dari perbuatan ilahiah tersebut. Misalnya, dalam suatu hadis Yahudi dikatakan bahwa Tabut Perjanjian (dari Kisah Sinai) diturunkan dari surga ke bumi agar sakinah dapat berdiam di bumi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam setidak-tidaknya 6 ayat Alquran, “sakinah” dapat dimaknai sebagai tentram atau sentosa. Dalam ungkapan R.M.P Sosrokartono, “Anteng manteng.”

Konon, nama Hagia Sophia di Istanbul tersebut sebelumnya adalah Hagia Eirene, yang lebih kurang berarti kedamaian yang kudus. Mengapa gereja tersebut dinamakan demikian? Saya pikir ini ada hubungannya dengan nama “Yerusalem” yang padanannya adalah “Darussalam”. Tidak jauh dari pusat kota Istanbul yang dulunya bernama Konstaninopel itu, ada kota yang sangat terkenal dalam sejarah Kekristenan yaitu Nikea yang pada masa Ottoman disebut Iznik. Di kota ini juga terdapat sebuah gereja bernama Hagia Sophia yang kemudian dialihfungsikan menjadi masjid pada masa Orhan sekitar tahun 1330an, sehingga ia disebut sebagai Masjid Orhan Ghazi.

*ISRAIL BARU*
Pada abad ke-6 M, di wilayah Yudaisme dan Kekristenan Oriental yang meliputi Nabatea, Suriah, Mesir, Aksum, Himyar, Teluk Persia, dan sekitarnya sampai sejauh-jauhnya komunitas-komunitas Yahudi yang ada di India dan Asia Tengah – karena kebiasaan mereka berdagang – mereka biasa beribadah di kuil yang disebut bait salat maupun masjid. Kosakata ini masih dilestarikan oleh kaum Falasha atau Beta Israel (Bait Israil di Ethiopia dan Yaman).

Mereka kemudian saling menumpahkan darah satu sama lain yang berakhir pada rekonsiliasi sekitar masa kelahiran Ahmad ibn Abdullah di Mekkah, Nabatea. Rekonsiliasi ini diabadikan dalam Alquran untuk mengingatkan kepada kaum beriman tersebut untuk tetap dalam perdamaian meski berbeda-beda mazhab.

Orang-orang yang disebut Yahudi pada masa itu adalah yang bermazhab menolak wewenang religius dan spiritual Yesus Kristus (Isa Al-Masih). Mazhab Yahudi ini adalah turunan dari kelompok-kelompok Farisi dan Saduki dari masa Yesus dan Philo dari Alexander.

Sementara itu, banyak dari mereka telah menerima wewenang religius dan spiritual Yesus Kritus. Mereka inilah yang disebut Nasrani atau orang-orang Kristen. Mazhab mereka ini terpecah menjadi sedikitnya lima kelompok pada masa itu, yang berkuasa dan gemar melakukan takfiri adalah Mazhab Konsubstansialis Nikea, tetapi dari kelompok Monofisit (bukan Diofisit sebagaimana di Barat dan Timur), sedangkan yang minoritas adalah kelompok Diofisit Radikal yaitu Nestorian, dan Mazhab Non-Konsubstansialis yaitu kelompok Arian, serta akhirnya adalah kelompok yang dikenal sebagai Hanif yaitu mereka Non-Blok dalam menetapkan teologi mengenai Yesus.

Yahudi yang lain adalah kelompok Sabian atau Mandean yang mengakui wewenang spiritual dan religius hanya sampai kepada Yohanes Pembaptis dan tidak mengakui Yesus.

Ketika itu, bait salat atau masjid bagi Mazhab Yahudi itu adalah tempat melakukan minyan yaitu salat berjamaah (baca: berdoa bersama-sama). Cara-cara dan waktu-waktu minyan maupun salat individual mereka lebih kurang sama dengan ritus salat dalam fikih berbagai mazhab Islam saat ini.

Dalam hal ini, minyan berbeda dengan kebaktian yang serupa dengan semah atau pengajian majlis zikir bersama, dan berbeda pula dengan komuni atau perjamuan kudus.

Minyan atau salat berjamaah adalah bentuk salat atau berdoa yang bisa dilakukan secara individual, tetapi ini dilakukan bersama-sama. Menurut fikih Yahudi Ortodoks (turunan dari Farisi), syarat minyan adalah sepuluh lelaki. Tetapi, pada masa Maria dan Yesus, tidak harus lelaki, tetapi juga perempuan. Dan, pada masa Muhammad, tidak harus sepuluh, tetapi cukup dua orang sudah bisa melakukan minyan. Lima cara ritus minyan adalah berdiri, ruku’ atau membungkuk, sujud dan duduk, serta membaca sejumlah doa.

Adapun kebaktian atau semah merupakan majlis khusus menyimak kitab suci, biasanya dengan berzikir dan bertawasul bersama (meminta wasilah kepada para leluhur), baik dilakukan dengan adanya ceramah maupun tidak, dan adanya sesi diskusi maupun tidak. Jika minyan memiliki persyaratan seperti yang saya sebutkan, dan merupakan doa bersama-sama, maka kebaktian biasanya tidak mensyaratkan apa pun. Siapapun bebas hadir dan ikut menyimak kitab suci, berzikir dan bertawasul bersama. Dalam kebaktian atau semah, sudah dipersiapkan petugas yang menyenandungkan kitab suci, yang memimpin zikir, dan seterusnya termasuk dipersiapkan ceramah dan lagu-lagu dari kitab suci atau syair sakral tradisional yang akan dinyanyikan.

Biasanya kebaktian atau semah diakhiri oleh perjamuan dan diselenggarakan menurut perayaan-perayaan tertentu. Misalnya, merayakan haul seorang leluhur, memperingati hari ziarah seorang leluhur, dan seterusnya. Itu sebabnya dalam bahasa Inggris kebaktian disebut “service” dan banyak umat Kristen pada masa lalu baik Kristen Timur, Barat maupun Oriental tidak memiliki masalah dengan menjalani Sabat dan kemudian melakukan kebaktian pada hari Minggu (sebagai hari raya ziarah Yesus).

Nah, pada masa Kekristenan berkonvergensi dengan Hellenisme maupun dengan agama Tammuz Persia, muncullah sesi kebaktian yang disertai atau diakhiri pula dengan perjamuan kudus atau komuni. Kelompok Kristen ini memahami secara literal tradisi trandsubtansi sebagaimana leluhur Hellenis dan penganut agama Tammuz mereka dalam memaknai ayat-ayat Injil mengenai “darah dan daging” Yesus pada roti dan anggur yang mereka konsumsi dalam komuni atau perjamuan kudus. Oleh sebab itu, perjamuan kudus atau komuni biasanya hanya boleh diikuti oleh mereka yang telah diinisiasi atau dibaptis. Tetapi, pada Abad Pertengahan, sejumlah tokoh Kristen Barat yang melahirkan Reformasi menolak memahami tradisi transsubstansi tersebut secara harafiah.

Selama ribuan tahun, umat Israil selalu mampu beradaptasi dan berkonvergensi dengan kebudayaan setempat di habitat baru yang mereka diami. Jauh sebelum Yesus dari Nazareth dan Philo dari Alexandria muncul dalam pentas sejarah Israil, sudah banyak orang Hellenis dan bangsa-bangsa lain yang berkonversi menjadi umat Israil, entah karena perkawinan, atau karena tertarik pada hukum adatnya (padanannya adalah fikih atau halakha). Bukti-bukti arkeologis telah menunjukkan hal ini di sepanjang wilayah Anatolia – yang kini disebut Turki.

Itulah sebabnya tidak mengherankan jika pada masa Kekristenan terjadi tradisi komuni transubstansi tersebut. Orang-orang Yahudi Abangan dari kalangan musta’ribah pada masa Muhammad SAW adalah mereka yang masih memberi persembahan ke “baetilus-baetilus” tempat altar dan pantheon dewa-dewi baik dewata impor maupun gramadewata (dewata lokal), persis kaum Yahudi Abangan pada masa kenabian Ezra, Hosea, Yoel, Amos, Yehezkiel, Yunus, dan lain-lain.

Itu sebabnya, Ka’bah merupakan tempat keramat yang berbeda dengan masjid atau bait salat, karena Ka’bah merupakan lokus “batu sakral” yang didirikan Ibrahim di wilayah Bakka atau Nabatea saat itu sebagaimana “pohon keramat” yang ditanam Ibrahim di Beersheba (Kej 21:33). Kemudian oleh musta’ribah dan musta’ribah yang menjadi Yahudi Abangan, berubah menjadi “baetilus” sebagaimana tetangga-tetangga mereka.

Tetapi, perjamuan kudus atau komuni bukanlah satu-satunya yang masih dipelihara umat Kristen Barat, Timur dan Oriental. Baik dengan memahami transsubstansi secara harafiah maupun tidak sama sekali seperti orang-orang Protestan.

Orang-orang Druze yang merupakan agama konvergensi antara kepercayaan kesukuan setempat dengan Syiah Ismailiyah dan lain-lain juga masih mempraktekkan komuni, demikian pula dengan kelompok Syiah Nusairiyah atau Alawite, dan berbagai kelompok Syiah Sufi lainnya. Bektashiyah, misalnya.

Di bekas wilayah Uni Sovyet dan kerajaan Rusia, pada sekitar abad ke-19 M muncul agama Yehowist atau Ilyinist yang mengkonvergensi tradisi Kristen Ortodoks Old Believers dengan Yudaisme dan Islam. Mereka sangat eksklusif dan biasanya sangat merahasiakan kelompok mereka karena mereka biasa mengalami diskriminasi dan persekusi. Namun, mentor saya yang merupakan seorang antropolog agama, telah berhasil mengobservasi ritual mereka. Komunitas ini memisahkan model minyan, kebaktian dan perjamuan kudus dengan jelas, menjalaninya dari Sabat sampai Minggu secara khusus. Hanya yang telah dibaptis yang boleh mengikuti misa komuni pada hari Minggu.

Maka, dapatlah dikatakan bahwa Kekristenan merupakan Israil Baru karena mereka telah menerima otoritas Yesus Kristus – apapun posisi teologis mereka mengenainya – dan yang paling penting sesungguhnya adalah fokus yang sebenarnya ditanamkan oleh Yesus Kristus maupun Muhammad SAW adalah memulihkan umat Israil dari “Manifest Destiny” atas wilayah Yerusalem dan sekitarnya serta dampak dari budaya merkantil yang melahirkan kolonialisme dan imperialisme yang terutama adalah mengejar “profit tiada batas” di dunia maupun akhirat, dan menggembeleng domba-domba yang tersesat maupun anak-anak Israil yang sejak masa Persia telah berdiaspora dan berasal dari kebangsaan yang beragam.

Baik Yesus Kristus maupun Muhammad SAW mengembalikan fokus umat Israil kepada Kisah Sinai, kepada Tabut Perjanjian, yang pesan utamanya: umat Israil sesungguhnya merupakan mereka yang menerima realitas adalah tauhid baik secara monisme* maupun tauhid adalah satu kemanusiaan, yaitu tauhid yang mengeluarkan dari belenggu tirani atau perbudakan dan dari kekerasan atau ketidakadilan, dan karena itu mengupayakan dan mewujudkan keselamatan, perdamaian, dan persaudaraan.

Maka, ini akan mengembalikan kita kepada “shekinah” atau “sakinah”. Dalam Albaqarah 248 kisah Tabut Perjanjian dengan sakinah tersebut dikokohkan kembali, begitu pula dalam At-Taubah 26, At-Taubah 40, Al-Fath 4, 18 dan 26, yang kesemuanya membahas bahwa ketika umat Israil sepenuhnya menerima kebenaran akan realitas tauhid ini, maka akan dianugrahi shekinah. (*tauhid di sini tidak sama dengan monoteisme karena dapat jatuh ke dalam henoteisme, tauhid Monofisit dan tauhid triteisme dalam Monofisit dan dalam Wahabi/Salafi).

Sakinah dan hikmah (shekinah dan hokmah) merupakan tanda-tanda ilahiah, ciri-ciri Roh Kudus yang “sedang bekerja”, karena kearifan melahirkan ketentraman dan ketentraman melingkupi kearifan. Ini bahkan tampak juga dalam Alquran, misalnya Albaqarah 269. Kata “hikmah” berkaitan dengan kata “hakim” sebagaimana disebut dalam Alquran mengingatkan kita pada pesan-pesan dalam Amsal, Kebijaksanaan Sulaiman dan Sirakh bahwa kearifan adalah hakim untuk menilai yang benar (haq) dan yang salah (bathil).

Jika 10 Perintah Allah yang diperoleh oleh Musa dan bani Israil di Sinai adalah Alfurqan (Criterion; Albaqarah 53), maka dengan kearifan-lah seseorang dapat mencermati dan menilai segala perbuatan dan fenomena apakah selaras atau bertentangan dengan Alfurqan tersebut, dan diri sendiri menyaring agar tetap memelihara 10 Titah Allah tersebut. (Q.s 36:1-2; 3:58, 10:1).

Bagaimana umat Israil dapat mengasah kearifan dan terpandu dalam kearifan?

Salah satunya melalui kitab-kitab kearifan para leluhur, yang ditransmisikan (secara rantai silsilah atau sanad) sebagaimana dikokohkan dalam Alquran bahwa hikmah itu antara lain diterima oleh Ibrahim, Daud, Yesus, Muhammad dan lain-lain dan ditransmisikan kepada keturunan atau ahlulbait mereka (Q.s 17, 2: 129, 2:231, 2:251; 3:81, 3:48; 4:54, 5:110, 31:12, 4:63, 3:58, 10:1, 31:2, 36:3, 43:4). Ini berarti di antara hikmah itu merujuk kepada Alkitab (tradisi Oriental) saat itu selain Alquran, dan bukan hadis-hadis yang ada saat ini.

Kini, keturunan atau ahlulbait mereka telah berada di berbagai bangsa, menganut berbagai mazhab agama dan pemikiran. Ini telah menggenapi nubuat yang diterima para leluhur (biasa disebut nabi dan rasul) sejak masa Babilonia, Persia, Yunani, sampai Romawi dan akhirnya pengulangan daur sejarah Israil itu (*). Lima milyar lebih populasi dunia dari sekitar 7,5 milyar jiwa kini telah menjadi umat Israil dengan segala rupa dan variannya – termasuk yang mengklaim agnostik dan ateis.

Jadi, tidaklah mengherankan apabila kota suci atau kota kudus, tempat suci atau tempat kudus, yang juga disebut sakral (sacred; keramat) lazim juga disebut sebagai kearifan dan damai. Ini karena di tempat yang sakral dan dalam aktivitas sakral seperti berdoa baik berjamaah maupun sendirian, kebaktian atau semah, dan komuni atau perjamuan kudus, diharapkan dan didambakan kehadiran sakinah dan pengertian akan hikmah – dan kehadiran maupun pengertian tersebut mewujudkan lelaku yang dapat menghadirkan kedamaian dan persaudaraan.

Begitulah, sekali pun suatu kota atau desa juga merupakan tempat kegiatan sekuler atau duniawi, ketika ia disebut kota kudus atau tanah suci, maka kearifan dituntut menjadi lelaku para penduduknya, sehingga akan menghadirkan kedamaian.

(*Daur sejarah Israil kedua: [1] Muhammad sebagai puncak era hakim-hakim kedua, Hasan ibn Thalib sebagai akhir era raja-raja, [2] Umayyah sebagai era Babilonia dengan persekusi dan kejatuhan kuil lagi pada masa Abbaddon alias Abdul Malik I, [3] Abbasiyah sebagai era Persia dengan kemampuan kosmopolit, koeksis dalam kebinekaan dan pencapaian sainsnya, [4] Ottoman sebagai era Yunani dengan nafsu kolonialisme-nya dan Pax Romana terwujud dalam Pan-Islamisme serta jatuhnya kuil kedua kali dimulai sejak 1841-1872, serta [5] masa pasca-kolonialisme Eropa yang kita sedang jalani saat ini sebagai era Romawi).

*JALAN MENUJU REKONSILIASI UMAT ISRAIL*
Sekarang, kita telah mengetahui perbedaan mengenai salat berjamah atau minyan dengan kebaktian atau semah dan dengan perjamuan kudus atau komuni. Bahwa di berbagai-bagai komunitas umat Israil dari Yahudi, Kristen, Islam, Sabian dan Bahai saat ini praktek-praktek ritus tersebut dipelihara.

Saat ini, kita melihat bagaimana umat Israil terbelah dalam memandang Haga Sophia di Istanbul.

Mehmed II merupakan kakek buyut Sulaiman Agung yang mengklaim gelar kaisar (sebagaimana Yunani) yang pertama dalam dinasti Ottoman karena keberhasilannya menaklukkan hampir seluruh wilayah bekas Yunani. Dialah orang yang memiliki andil dalam mengubah fungsi gereja Hagia Sophia menjadi masjid dan akhirnya Hagia Sophia itu pun menjadi masjid agung negara pertama – dikenal sebagai Masjid Agung Fatih. Oleh karena itu, era tahta Mehmed II dapat dianggap sebagai era umat Israil ini memulai daur era Yunani.

Ketika Hagia Sophia dialihfungsikan sebagai museum, hal itu berlangsung setelah Ottoman berakhir pada 1924, sesuai dengan nubuat dalam teks Wahyu – senada dengan pandangan historisisme Isaac Newton, Uriah Smith, dan Adam Clarke atas teks Daniel dan Wahyu – sehingga masa ini menandakan berakhirnya daur era Yunani dan dimulainya daur era Romawi.

Saat ini, Hagia Sophia telah dialihfungsikan lagi sebagai masjid. Ini mengingatkan saya bahwa menurut Buyruk Alfurqan secara historisisme, 1335 hari dalam Daniel 12 akan sebentar lagi tergenapi, karena 1260 hari telah digenapi pada 1924.

Ketika dulu Muhammad SAW hadir di pentas sejarah pada masa akhir era Romawi, ia berusaha merekonsiliasi umat Israil di wilayah Oriental – tak lama sesudah peristiwa mengerikan Dhu Nuwas dan Abrahah yang mengakibatkan pertumpahan darah antara umat Yahudi dengan Kristen. Dan, Hari Raya Sujud (Seged) masih diperingati juga oleh Beta Israel untuk mensyukuri berakhirnya konflik berdarah itu.

Namun, sayang sekali, setelah kematian Muhammad SAW, umat Israil malah ingin kembali ke era raja-raja seperti mereka meminta Samuel menahbiskan seorang raja bagi mereka. Sayangnya, tak ada seseorang seperti Daud dan Sulaiman pada masa yang singkat itu, sehingga raja-raja Umayyah berubah sebagai monster Babilonia.

Maka, pada saat-saat inilah merupakan masa-masa yang genting bagi umat Israil apakah mereka akan menyia-nyiakan kesempatan, dan mengulangi kesalahan yang sama dalam hal egosektarian, dalam hal “Manifest Destiny” dan dalam hal mengejar “profit yang tiada batas” itu?

Baik Yesus dalam Injil maupun Muhammad dalam Alquran telah menubuatkan kepada umat Israil bahwa mereka akan tak lagi beribadah dengan memandang suatu kiblat secara fisik, tetapi kelak generasi Israil mendatang akan mengerti bahwa ke mana pun mereka bersujud adalah menghadap kepada Allah. Artinya, generasi Israil itu akan dilahirkan dari generasi saat ini yang telah sedemikian terpolarisasi dan terpecah-belah.

Generasi inilah yang akan mampu melakukan rekonsiliasi, yang tak lagi memendam EENS (ekstra ekklesia nulla salus) secara terpendam dan mengakar, dan karena itulah yang akan mewujudkan kota damai sejahtera yang sesungguhnya, di mana di dalamnya tidak diperlukan lagi kuil-kuil fisik itu.

Apakah rekonsiliasi ini adalah tiadanya kebhinekaan agama dalam umat Israil lagi? Tentu saja itu secara natural tidaklah mungkin.

Sebagaimana yang saya amati, kelak kebhinekaan akan dirayakan karena generasi Israil itu sudah menyadari bahwa beragama dan berketuhanan bukanlah mengenai memenangkan klaim kebenaran mereka, tetapi mengenai lelaku dalam kearifan bagi satu kemanusiaan dan kerahayuan bumi. Lelaku yang dapat dilakukan dalam berbagai-bagai cara.

Sementara itu, dalam berdoa bersama, dalam berkumpul bersama untuk suatu kegiatan bersama, dan dalam perjamuan bersama, mereka menyadari berbeda-bedanya komunitas keagamaan adalah karena kebhinekaan kecendrungan, minat, hobi, dan kebutuhan mereka. Bukan lagi tentang klaim kebenaran soal surga, neraka, dan agama siapa yang paling benar.

Apakah ini utopia atau tidak? Entahlah.

Namun, apa yang mustahil dari melihat sebuah rumah ibadah dapat digunakan secara bersama-sama secara bergantian oleh komunitas-komunitas keagamaan setempat? Dan, apakah kelak masalah bila disebut sebagai masjid lagi, karena toh pada masa Muhammad pun orang Kristen Oriental salat (berdoa) di tempat yang disebut masjid?

Jika selama beberapa dekade terakhir telah berlangsung berbagai kebaktian ekumenikal, sejumlah gereja mengadakan komuni secara inklusif, doa bersama lintas iman telah kerap dilakukan umat Israil, dan pada masa pandemi pula umat Israil dilatih untuk melepaskan kemelekatan dari ritus-ritus bersama itu di kuil-kuil mereka, apa yang mustahil pada masa mendatang? Kita sudah melihat beberapa kota membangun rumah ibadah yang dapat digunakan bersama.

Jadi, apa yang dilakukan Erdogan saat ini akan menghasilkan penyebab bagi kejadian-kejadian penting berikutnya sesuai doa para leluhur Israil akan rekonsiliasi tersebut, sebagaimana dulu Fatih alias Mahmud II melakukannya.

Saya memprediksi seperti yang berlangsung pada 1914-1923 ketika Ottoman melakukan Genosida Armenia yang amat mengerikan, sehingga pada 1924 ia tumbang untuk selama-lamanya, maka dalam kurun waktu enam tahun perubahan besar akan terjadi. Ini juga dapat dilihat bagaimana proyek ambisius yang berakibat mengeringkan Sungai Efrat tengah berlangsung sejak 1990an.

Sementara itu, mereka yang memberi makan egosektarian akan mudah digiring oleh kuasa-kuasa kegelapan yang sejak masa Yesus dan Muhammad senantiasa berupaya untuk menggagalkan doa dan harapan para leluhur serta keturunan mereka yang sama-sama mengharapkannya.

Di manakah posisi Anda saat ini sebagai keturunan atau umat Israil (baik Muslim, Kristen, Yahudi, Sabian, Bahai atau yang lainnya) untuk menghadapi era baru tersebut?

Saya pikir, sebab itulah saya mengerti apa yang dimaksud oleh Bunda Alexandra, yang saya pikir telah mampu untuk tidak memberi makan egosektariannya sehingga dapat melihat dari perspektif lain. Meskipun saya seorang sarjana sejarah, lebih baik saya melihat Hagia Sophia dan Kuil Agung di Yerusalem menjadi tempat beribadah bersama seluruh umat Israil, daripada menjadi sebuah museum atau situs tontonan seperti Gobekli Tepe.

Jika sebuah situs sakral di Gobekli Tepe, Anatolia, yang sebegitu megah itu dapat ditinggalkan dan dilupakan selama 11600 tahun, sebuah situs megah tenggelam di dasar laut Jepang, dan banyak situs megalithik lainnya telah terkubur dalam ingatan peradaban manusia, maka apakah tidak mustahil bilamana itu dapat terjadi juga kepada semua masjid, gereja, sinagog dan kuil megah pada masa modern kita ini?

Apakah perselisihan kita saat ini dan segala egosektarian ini sungguh-sungguh bermakna bagi kemanusiaan, bagi alam raya, bagi peradaban kita?

Sumber : Status Facebook Syekhah Hefzibah
14 Juli 2020

#2026
#PengantinHefzibah

Tersimpan dalam https://dekalogisme.wordpress.com/…/haga-sophia-menuju-2026/

 

Thursday, July 16, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: