Hafalan Qur'an

ilustrasi
Oleh : Budi Santoso Purwokartiko
 
Suatu kali ada yang menghubungi saya lewat messenger. Meminta donasi. Lalu saya bertanya untuk kebutuhan apa. Dijawab "untuk membantu anak2 yg sedang belajar utk hafidz quran". Saya mulai kritis.
 
"Anak2 itu butuh ketrampilan mas bukan hafalan. Mereka harus dididik bekerja menghadapi dunia nyata.
Apa nggak sayang kalau diajari hafalan?"
"iya untuk mencegah agar quran tidak dipalsu."
"Oh jaman digital, komputer menyimpan naskah lebih baik daripada otak kita mas. Biarkan tersimpan secara digital naskah aslinya."
 
"Tapi....(saya nggak ingat lagi).
Biasanya ketika ada yg minta bantuan, saya akan bertanya untuk tujuan apa. Apakah programnya cukup logis untuk membantu masyarakat.
Dalam keseharian kita manfaat menghafal memang banyak. Apalagi penyanyi atau dalang, dia butuh hafal. Kyai atau ustadz juga begitu. Tapi tidak cuma hafal, dia harus juga paham. Sehingga ketika membicarakan topik tertentu akan tahu harus mengacu pada ayat mana. Meskipun Google bisa membantu dengan cepat.
 
Tetapi, hafalan itu sungguh kerjaan yang kurang produktif. Terhadap suatu teks, kita butuh paham dengan menganalisis, membandingkan , menyimpulkan dan menggunakannya untuk menciptakan atau melahirkan ide2 baru. Membaca dan memahami jauh lebih penting dari menghafal. Apalagi jika diikuti dengan melahirkan ide baru, itu baru kerja produktif. Jelas hafalan akan menempatkan orang seperti burung beo. Berbunyi tanpa tahu makna dan konteks apa yang diucapkan.
 
Memang benar hanya orang yang cerdas yang mampu menghafal hingga ribuan ayat. Tidak semua bisa. Dan setelah itu harus sering dipraktekkan, kalau enggak, akan hilang.
 
Yang jadi masalah, jika otaknya cerdas, mengapa hanya dimanfaatkan untuk menghafal. Mestinya bisa lebih dari itu, bisa melahirkan karya2 unggul, bermanfaat.
Hafalan bukan hasil karya, dia hanya kerja. Kita butuh hasil karya yang nyata dari kerja otak kita.
Era digital semakin mengurangi peran hafalan. Hal2 yg pada masa lampau dianggap sebagai 'kelebihan' akan tidak dipakai lagi. Tabel logaritma , akar dan pangkat sudah tidak ada lagi di lampiran buku matematika. Semua bisa dicari dengan cepat di kalkulator. Kalau untuk kepentingan sholat, kita tidak butuh hafal seluruh ayat atau surat. Beberapa surat cukup untuk menghadap Tuhan. Generasi unggul bukan generasi penghafal tetapi pengamal kebaikan sejati.
Tahun2 2000an awal di US, saya sering sholat tarawih dengan imam hafal quran. Dalam sebulan harus katam membaca quran lewat sholat terawih. Semalam 1 juz, kira2 begitu. Yang menarik, teman2 dari Arab yg kesehariannya berbahasa Arab cas cis cus cos...ternyata pada tidak hafal quran. Mereka ikut sholat sambil memegang quran kecil utk menyimak yang dibaca imam. Kita hanya butuh 1 yg hafal dan yang lain menyimak. Itu pun dibutuhkan hanya saat ramadan. Kalau tidak ada yang hafal, sholat terawih tetap jalan.
 
Mereka pun tidak pernah bicara soal menghafal quran. Tetapi rajin pengajian membahas makna suatu ayat.
Saya sempat ikut sampai beberapa minggu.
 
Di sini banyak sekolah/pesantren yang programnya menghafal quran. Saya tidak mengejek atau merendahkan. Saya salut dengan kemampuan menghafal itu. Yang saya bicarakan, untuk apa semua itu. Akankah kemampuan itu berguna menghadapi dunia kerja? Menjadi bekal bersaing?
 
Jangan kita asyik menghafal teks, orang lain memaknai, menjalankan, mencipta produk, melahirkan ide2 baru. Kita akan makin tertinggal hanya dengan menghafal. Karena kerja menghafal itu tidak produktif, tidak menghasilkan apa-apa. Mungkin perlu pada saat2 khusus pada kepentingan khusus. Tapi dia bukan tujuan akhir orang belajar.
 
Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko
Monday, September 28, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: