Habisi Radikalis Sekarang, Atau Menyesal Selamanya

Ilustrasi

Oleh : Panjath H.

Radikalisme agama itu sangat berbahaya. Tak perlu lagi banyak teori untuk memaparkannya. Banyak contoh di berbagai belahan dunia, dan baru-baru ini telah bikin heboh di Perancis: seorang guru dipenggal. Gilanya, setelah itu mereka meneror negeri itu dengan menggorok korban lain di beberapa gereja.

Suriah dan Irak adalah contoh yang masih baru soal bahaya radikalisme agama yang kebablasan ini. Bekasnya masih ada, yakni kerusakan dan kehancuran kota-kota dan peradaban. Sulit mengembalikan ini semua. Apalagi masyarakat setempat pasti sudah banyak yang merasa trauma.

"Untuk apa dibangun lagi gedung-gedung kalau nanti nanti hancur lagi gara-gara ulah radikalis?" Seperti itu mungkin isi hati banyak orang saat ini sehingga membiarkan saja kota-kota itu hancur jadi puing yang tidak berharga lagi. Ironis, padahal sebelumnya itu adalah perkotaan yang modern dengan segala fasilitas yang mendukung bagi kesejahteraan warga.

Memang bukan kaum radikal yang dalam hal ini kelompok ISIS semata yang membuat gedung-gedung itu luluh lantak tak berwujud lagi. Kehancuran itu disebabkan oleh pihak-pihak militer yang ingin mengusir para radikalis yang sengaja "ngumpet" dan berbaur dengan masyarakat umum.

Dan itu salah satu ciri khas golongan teror ini, yang tidak segan-segan menjadikan masyarakat umum sebagai tameng atau perlindungan. Untuk konteks Indonesia saat ini, mereka suka menyebar hoaks, fitnah dan memutar balik fakta, bahkan memelintir ayat demi kepentingan mereka.

Sebagaimana kita sudah sering bahas, agamalah yang menjadi "modal" radikalis itu. Mereka paham bahwa masih banyak orang yang bisa ditipu mentah-mentah "pakai" agama. Padahal agama itu tujuannya bukan seperti yang sering diajarkan pentolan radikalis itu. Agama menuntun manusia untuk hidup saling damai dengan sesamanya. Itulah esensi agama.

Tapi pimpinan radikalis itu menginginkan kekuasaan atau kejayaan dalam bentuk materi lainnya. Bahwa masih banyak orang yang bisa dibodohi atau dininabobokan dengan isu-isu agama, mereka memoles ajaran-ajaran itu dengan sedemikian rupa sehingga membuat banyak orang seperti terbuai dan tergiur janji-janji surga.

Banyak orang yang bersedia menjadi tumbal, meledakkan diri dengan bom karena percaya dan tergiur oleh iming-iming surga dan bidadari di surga kalau bisa membunuh banyak orang "kafir". Padahal kalau umat bisa berpikir dengan baik, mestinya bertanya-tanya dalam hati: kalau memang benar sorga dan bidadari itu bisa didapat hanya dengan cara meledakkan diri dengan bom, mengapa bukan mereka dan keluarganya lebih dulu?

Pertanyaan-pertanyaan sepele seperti itu mestinya terus terngiang di benak masyarakat supaya tidak mudah disesatkan oleh radikalis. Hal yang kira-kira sama bisa dipertanyakan oleh masyarakat yang saat ini sedang "tergila-gila" oleh sosok Rizieq Shihab karena dia disebut-sebut sebagai cucu atau keturunan nabi?

Nabi itu adalah manusia pilihan Tuhan untuk menyampaikan pesan ilahi kepada manusia ciptaan-Nya. Jadi, nabi itu adalah sosok yang mulia, dan jauh dari hal-hal yang sangat tercela. Maka ketika ada oknum yang mengaku-ngaku sebagai keturunan nabi, tetapi perilakunya sangat serampangan, masyarakat mestinya mulai berpikir cerdas.

Apakah layak seseorang yang "menjual" dirinya sebagai keturunan nabi namun tabiatnya "aneh"? Mendoakan orang lain itu ditimpa hal-hal yang buruk, seperti terkena penyakit parah yang tidak ada obatnya, susah hidupnya, pendek umurnya, dan sebagainya, sama sekali bukan doa yang benar. Hanya setan dan iblis yang menginginkan manusia itu celaka hidupnya.

Para nabi hidup ribuan tahun lalu, kenapa sekarang ada yang disebut sebagai cucu nabi? Lagipula ada banyak nabi di muka bumi ini sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab suci. Dan kebanyakan para nabi itu menikah dan berketurunan, seperti Ibrahim dalam Kitab suci. Dia dijanjikan Tuhan akan memiliki keturunan sebanyak pasir di laut dan bintang di langit.

Namun kok tidak ada orang yang mengaku-ngaku dan membangga-banggakan diri sebagai cucu Nabi Ibrahim? Hal-hal seperti inilah yang mestinya menjadi bahan perenungan banyak orang supaya tidak terbuai atau terhipnotis oleh sosok seseorang yang mengaku-ngaku sebagai keturunan apalagi cucu seorang nabi.

Dan yang pasti, jika seseorang itu adalah keturunan nabi, maka perilakunya paling tidak, atau sedikit-banyak harus meneladani nabi. Namun ketika seseorang yang mengaku cucu nabi itu hanya bikin onar dan gaduh, dari mulutnya selalu terlontar sumpah serapah dan caci-maki, kutuk dan istilah-istilah tak senonoh lainnya, apakah layak diakui sebagai keturunan nabi?

Lebih bahaya apalagi sosok ini kemudian diperalat para oknum politisi dan pengusaha hitam untuk kepentingan mereka sendiri. Yang menjadi korban tentu saja masyarakat lugu, simpatisan yang tidak mengerti apa-apa, selain hanya terpukau oleh sebutan sebagai cucu nabi yang disandang oknum itu. Lihat saja bagaimana mereka telah kehilangan akal sehat karena baliho bergambar "cucu nabi" itu pun dihormat atau dipuja.

Maka adalah sangat tepat ketika poster dan baliho itu diturunkan aparat, karena berbagai alasan. Namun yang krusial adalah untuk menyelamatkan masyarakat dari pembodohan dan penipuan oleh sosok yang menjual agama demi kepentingan dirinya, yang tidak ada kaitan dengan agama itu sendiri.

Maka selamatkanlah umat dengan menjauhkan mereka dari sosok-sosok yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Dan yang lebih penting adalah menghindarkan bangsa ini dari cengkeraman kaum radikalis agama yang kini seolah mendapat momen kembalinya Rizieq dengan segala kepongahannya itu.

Tetapi bola sekarang ada di tangan pihak yang berwenang, apakah ingin menyudahi permainan dedengkot radikalis yang ingin mengubah NKRI menjadi khilafah? Apalagi sudah terbukti jika paham itu tersebut hanya menciptakan kerusakan dan kemunduran peradaban?

Jadi, aparat dan negara, TNI dan polri dibantu satpol PP dan hansip, jangan memberi angin sedetik pun kepada ex-porn fugitive dan kelompoknya untuk bernapas dan mengonsolisasi diri. Sebab jika negara dan aparat lengah, sulit untuk kembali. Maka sekarang saatnya untuk menghabisi radikalis itu, atau akan menyesal selamanya?

Sumber : Status Facebook Panjath H

Sunday, November 29, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: