Habis Manis, Sepet Dilepeh

ilustrasi
Oleh : Karto Bugel
Caranya berpikir, selalu mencoba untuk mencari jalan keluar ketika prahara ekonomi, entah suami bangkrut atau bahkan PHK saat pandemi menimpa rumah tangganya. Bukan lari, apalagi mencari siapa salah dibalik cerita itu.
Menjual apapun yang berharga dan masih laku yang masih dia miliki demi selamat dan utuh keluarga. Apa saja yang dia punya tak lagi lebih berharga dibanding keluarga.
Ketika menikah telah disepakati, susah senang bersama disambut dengan senyum. Suami terlalu berat bekerja, cepat tangan kanan membantu sementara tangan kirinya tak lepas dari gendong si anak.
Dia mampu melakukan apapun demi masa depan dibangun. Semua jerih payahnya adalah pondasi rumah tangganya kelak dalam cita dan cintanya.
Perempuan...
Ketika menjadi sopir adalah peluang yang ada, senyum istri cukup sudah menjadi tanda bahwa dia mendukung. Kopi, sarapan hingga keperluan dijalan nanti telah disiapkan sang istri bahkan sebelum dia bangun.
Sore saat pulang, bukan tanya berapa didapat, sambutan ramah, kopi dan pijat mungil tangannya selalu hadir tanpa lelah.
Apapun yang dikerjakannya, besar sedikit hasil didapat, dia adalah hal utama dalam rumah tangga itu. Dia selalu didahulukan dalam setiap hal.
Laki-laki..!!
Dua puluh lima tahun kemudian ketika ekonomi rumah tangganya membaik, seringkali cerita berubah. Itulah apa yang kita saksikan saat ini.
Dia yang dulu bukan siapa-siapa tanpa dukungan istri, tak lagi melihat jejak jelas itu. Dia kaya, karena dia hebat. Dia terkenal, karena dia pintar. Hanya itu yang dia tahu.
Ingin nikah lagi, hanya itu yang sering menjadi angannya. Mencari dia yang lebih tepat dengan posisinya saat ini, hanya itu kebenaran yang muncul dalam benaknya.
"Maksudnya tokoh- hebat yang kebelet kawin lagi itu yak?"
Mereka memang terlihat dan tampil sebagai tokoh masyarakat, namun tak pernah menjadi sosok ideal tentang apa itu menjadi manusia, bahkan bagi orang-orang terdekatnya, anak istrinya sekali pun.
Mentalitas bombongan, arogan, kampungan hingga tak tahu diri, itu mungkin lebih tepat menggambarkan tentang siapa dan bagaimana mereka.
Memimpin rumah tangganya saja tak becus, kini mimpi liarnya ingin memimpin negara.
Siapa pun dia yang tega menelantarkan istri dan anaknya, pasti bukan ciri tepat seorang pemimpin. Hanya waktu sebagai pemisah jarak, dibuang dan digadaikan rakyatnya demi hasrat tak pernah puas, pasti akan terjadi, ketika model begini diberi kesempatan jadi pemimpin.
Tanya saja pada anak dan istrinya.
Sumber : Status Facebook Karto Bugel
Wednesday, January 6, 2021 - 10:30
Kategori Rubrik: