Habis Kampret, Terbitlah Matilapak

Oleh : Rudi S Kamri

Seperti dugaan saya dan banyak orang yang lain bahwa banyak orang kejang-kejang melihat pertemuan antara Jokowi dan Prabowo. Tentu mereka bukan kelompok kecebong, karena kelompok kecebong adalah pendukung murni dari Jokowi, sehingga pada saat beliau menghimbau agar tidak ada lagi istilah Cebong dan Kampret, maka para Cebongers pun tunduk dan secara sukarela bermetamorfosis menjadi kelompok Pancasila yang merah putih.

Tapi hal itu tidak dilakukan oleh sebagian besar kampret abal-abal yang sejatinya bukan pendukung murni Prabowo. Mereka seperti dugaan saya sebelumnya hanya menggunakan Prabowo sebagai simbol atau kendaraan untuk melampiaskan syahwat agenda terselubung mereka. Para kampret palsu pun langsung menampakkan wajah aslinya sebagai kaum MAnusia TIdak Legowo Anti Pancasila dan Anti Kerukunan (MATILAPAK).

 

Yang termasuk kelompok MATILAPAK ini diantaranya PA 212, ex HTI, kelompok Islam radikalis, mafia makelar demonstrasi, politisi gelandang, kelompok pecatan yang sakit hati dan beberapa orang pekok yang akal dan nalarnya keburu konslet permanen. Mereka dengan berbagai bahasa membuat narasi konyol menarik dukungan dari Prabowo. Mereka teriak-teriak akan berjuang dengan cara mereka sendiri. Pruuuuttt.

Mungkin langkah awal yang akan mereka lakukan adalah membuat audisi calon cukong yang akan membiayai kegiatan mereka. Karena bukan menjadi rahasia lagi bahwa moment turun ke jalan bagi sebagian dari mereka dianggap momentum seperti lebaran kedua, artinya THR turun lagi. Cuiiihhh

Dapat disimpulkan kaum MATILAPAK ini sama sekali tidak mempunyai jiwa nasionalis, tidak pancasilais dan mereka gagal nalar dalam berdemokrasi. Terutama kelompok ex HTI. Mereka yang memang pada dasarnya anti demokrasi mulai menampakkan wajah aslinya. 

Tapi sebaliknya momentum ini sangat bagus buat Jokowi. Pada saat yang tepat Pemerintah bisa dengan mudah menggulung kelompok anti Pancasila ini. Karena kelompok MATILAPAK ini saat ini telah kehilangan "legal standing" untuk melakukan aksi. Mereka saat ini tengah kehilangan pijakan untuk melangkah ke depan. Mereka mau protes apa lagi ? Protes umat Islam didzolimi sama sekali tidak ada dasarnya. Mau bilang rakyat menderita, realitanya sebagian rakyat Indonesia saat ini bahagia. Dan bahagia itu levelnya jauh di atas sejahtera. Buat apa sejahtera tapi tidak bahagia. 

Kalaupun ada yang tidak bahagia hanyalah kaum minoritas. Mereka tidak bahagia bukan karena tidak sejahtera tapi hatinya sedang terluka. Terluka karena kecewa. Kecewa ternyata jagoannya selalu kalah dan sekarang pasrah berserah. Apalagi saat melihat Jokowi dan Prabowo berpelukan mesra, hati mereka seperti teriris sembilu. Mereka nangis di sudut kamar sambil gigit bantal. Kehormatan mereka serasa terpental. Mereka patah hati. Mereka malu. Apalagi saat mereka melihat Prabowo memberi hormat. Kemaluan mereka tercekat. Dan bantalpun tinggal separo.

Amat mudah mengindentifikasi kelompok MATILAPAK ini. Sebagian mereka teriak-teriak histeris di lapak medsosnya. Mereka terhibur ada 200 orang yang memberikan like atas statusnya. Tapi mereka lupa ada 200 juta orang mentertawakan kebodohan menjadi. Aparat keamanan pun dengan mudah mengenali mereka. Pada saat ujaran mereka sudah melewati batas toleransi hukum, tinggal comot dan tinggal digantung seperti codot.

PR Presiden Jokowi adalah memperkuat sosok loyal dan netral dalam jajaran pimpinan aparat keamanan. Jangan biarkan lagi hadirnya sosok ambigu dan peragu yang di tubuh Polri dan TNI. Karena kita semua tahu 5 tahun ke depan banyak akan terjadi fenomena orang sedang gemar menabung. Menabung simpati. Menabung dukungan. Yang akan bisa mereka dipanen tahun 2024 nanti. Sosok kadal burik bin kutu kupret seperti ini jangan ada di kabinet Indonesia Kerja Jilid II apalagi di jajaran aparat keamanan. Presiden harus tanggap dan waspada dengan fenomena "orang gemar menabung" ini.

Bagi kaum MATILAPAK, selamat datang di negeri impian anak bangsa Indonesia. Bagi kami 5 tahun ke depan adalah mimpi indah yang akan menjadi kenyataan. Tapi saya tahu pasti, bagi kalian 5 tahun ke depan adalah mimpi buruk yang mencekam. 

Jalani - Nikmati - Sumpahin saja. Enak kok.
Mumpung masih bisa teriak.... meskipun hanya tertinggal serak. 

Salam SATU Indonesia
14072019

 

(Sumber: facebook Rudi S Kamri)

Sunday, July 14, 2019 - 23:00
Kategori Rubrik: