Habibie Sang Demokrat

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Itu yang terlintas di benak saya waktu duduk semeja makan dengan BJ Habibie.

Saya tidak kenal beliau. Kesempatan itu datang saat menghadiri jamuan perayaan sekian puluh tahun keberoperasian sebuah badan usaha Jerman di Indonesia. Saya diundang. Acaranya: Habibie Speech, Dinner, dan pergelaran orkestra.

Saat itu saya punya sebukit rasa curiga kepada presiden ketiga Indonesia. Kiprahnya di masa lalu, yang mengepalai serenceng urusan negeri ini, bikin saya mual. He was a super minister in President Soeharto's era. Dan sebagai orang Kristen saya sebal mendengar bisak-bisik di kalangan TNI mengisahkan pergesekan deBenisasi akibat campur-tangan Habibie memasukkan Feisal Tanjung ke arena. Beni Murdani kemudian tersingkir. So as Soeharto. Dan Habibie naik.

Kiprah Habibie sebagai Presiden lumayan mengesankan. Di pekan pertama dia bergerak ke Glodok, berpidato bebas di depan masyarakat Cina, bermaksud mengembalikan lagi kepercayaan para pemilik modal terhadap Indonesia. Itu lebih berat daripada perjuangan Jokowi meraih hati orang Padang dan Sunda.

Orang Cina diperkosa, ditindas, dilibas, dan dicekam ngeri. Itu fakta. Sebagian lari keluar negeri. Berdigit-digit angka terbang ke kawasan lain. Satu kaki Cina kaya berada di Singapura atau Hongkong, satu kaki lagi di Indonesia, siap hengkang kapan pun keadaan memburuk daripada yang sudah buruk.

Cina nanggung terbang ke Amerika. Cina nasionalis stay di Indonesia. Apa pun keadaannya, mereka siap hadapi. Cina miskin terpaksa tak bergerak. Mati, matilah, pikir mereka.

Dalam suasana duka dan luka, Habibie berbicara satu jam lebih. Beberapa stasiun televisi menyiarkan rekamannya. Saya tetap mual, tetap bercuriga.

Perlahan keadaan membaik. Bursa kembali beraktivitas. Habibie dengan berani membuka kebebasan pers, menerima laporan Saparinah Sadlli tentang perkosaan terhadap perempuan Cina, lalu mendirikan Komisi yang kelak bernama Komnas Perempuan.

Saya juga mendengar cerita tentang betapa semarak dia sambut beberapa pemuka Batak datang memberi laporan soal pencemaran Danau Toba. Beberapa bulan kemudian dia tandatangani perintah penutupan Indorayon.

Semua kemuliaan itu gak bikin saya bersimpati padanya. Sampai kemudian petinggi perusaan Jerman memberi saya kesempatan duduk semeja makan dengan Habibie.

Saya perhatikan mimiknya saat bercerita. Saya simak pilihan katanya. Saya tekuri bola matanya yang seakan ingin lompat ke kiri mau pun ke kanan. Saya tak luput mengikuti hentakan bahunya. Ya, terasa sungguh bahwa dia ingin membagi apapun yang ada padanya kepada semua orang. Di situ saya disentuh. Saya akui bahwa saya pernah tidak tahu bahwa saya tidak tahu. Itu bentuk lampau. Itu pengakuan.

Kurs membaik, consistently dari Rp. 16,000 ke Rp. 6,500. Bank Sentral Jerman memberi asistensi kepada BI. Harga-harga barang yang semula jungkir balik dalam hitungan jam lalu perlahan stabil. Bunga kredit, semula 64%, menurun hingga berada di kisaran 16%.

Tak ada yang mengira Indonesia bisa pulih secepat itu. Diam-diam, berseberangan dengan keluarga saya yang berharap PDIP dan Megawati menang dalam pemilu dan pilipres versi MPR, saya berharap Habibie terpilih lagi.

Itu berpadu dengan cerita ibu saya yang datang bersama ibu-ibu gereja ke rumah Habibie untuk membuat kebaktian kecil guna mendoakan Ainun. Saya tersentak. Pasangan suami-istri itu menerima kebaktian berselenggara di rumahnya, ikut mengaminkan doa-doa orang Kristen.

Saya memuji keterang-terangan Habibie untuk berpihak kepada kemajemukan Indonesia. Dia tidak main-main. Dari beberapa pendeta saya dengar cerita tentang bantuan Habibie kepada para peserta program studi doktoral pendeta Indonesia di Jerman.

Karena itu mata saya berkaca menyaksikan dia dinista dalam SU MPR 1999. Di situ saya lihat sekelompok manusia tidak tahu bahwa mereka tidak tahu. Itu bentuk present.

Dan itu mengerikan. Mereka mirip Somad, Zulkarnain, Gilbert Lumoindong, Pariaji, dan rombongan 212. They dont know that they don't know.

Indorayon berdiri lagi di era Megawati dengan menggunakan nama lain.

She doesn't know that she didn't know.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Friday, September 13, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: