Habib Rizieq dan Jalan Rekonsiliasi Damai

Oleh : Muhammad AS Hikam

Saya tdk tahu apakah ide yg pernah saya kemukakan dlm dialog di TV CNN, Senin malam (16/1/17) lalu, di 'tangkap' oleh Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab (HRS), sehingga kini beliau melakukan rapproachement dengan lawan2 politik beliau, termasuk mantan Presiden RI ke 5, Megawati; ormas PMKRI. dan juga GMBI. Ide yg saya maksud adalah melakukan resolusi konflik bukan dg jalan politik dan hukum, tetapi melalui upaya mencari titik temu dan perdamaian diantara pihak2 yg bertikai. Saat dialog itu, konteksnya adalah konflik antara FPI vs GMBI di Bandung dan bbrp daerah di Jabar. Ide tsb ditolak mentah2 oleh wakil FPI yg ikut dialog yaitu Novel Bamukmin (BM), dg alasan pihaknya tdk mungkin berdamai dg pihakbyg berbeda ideologi. FPI menuding GMBI terkontaminasi oleh komunisme dan fasisme ala Nazi; sedang bagi GNBI, FPI dianggap terkontaminasi oleh ISIS.

Tetapi anehnya ide rekonsiliasi dan mediasi itu kini mencuat ke permukaan dan dikemukakan oleh HRS. Pertanyaannya adalah apa sebab gagasan rekonsiliasi yg semula ditolak mentah2 itu kini justru dikemukakan sendiri oleh sang Imam Besar?

Saya tentu tak ingin mengklaim sebagai satu2nya orang yg punya gagasan mediasi dan rekonsiliasi. Bahkan saya juga tak berhak mengklaim bhw apa yg diusulkan oleh HRS adlh sama dg ide saya. Bisa jadi beliau dan pimpinan2 FPI kini menyadari bahwa konflik terbuka sebagai strategi dan taktik yg selama ini digunakan oleh ormas Islam tsb kini sedang menghadapi perlawanan dr berbagai penjuru.

HRS misalnya kini menghadapi berbagai tuntutan yg berasal dr banyak pihak: mulai dari putri mantan Presiden RI 1, Sukmawati Sukarnoputri ( SS), sampai seorang Hansip. Kalau tak keliru ada 4 laporan ke Bareskrim Polri terkait HRS yg berisi dugaan pelecehan thd BK, Pancasila, penistaan agama, dan pencemaran nama Hansip. Bisa jadi akan muncul lagi laporan2 yg seperti itu kalau kita perhatikan bhw ada berbagai pidato, statemen, dan ujaran HRS yg bisa jadi berpotensi dilaporkan!

Selain masalah pengaduan, HRS dan FPI kini juga menghadapi respon yg tegas dr aparat penegak hukum, khususnya Polri. Di bawah Kapolri M Tito Karnavian (MTK), jajaran Polri kini bersikap tegas dan berani thd ormas Islam yg selama sepuluh tahun belakangan ini terkesan tak bisa dihalangi kiprahnya. Bahkan ketika berbagai aksi penolakan thd FPI muncul di berbagai daerah, tetap saja HRS dan para pendukungnya bergeming. Salah satu penjelasan yg kerap kita baca di media dan analisa para pakar adalah karena historisitas munculnya FPI yg dekat dg para tokoh yg berasal dari korps baju coklat selain juga baju hijau.

Kini angin tambahnya sedang berubah. Polri mulai mengambil jarak sehingga Kapolda DKi misalnya, terang2an mengatakan FPI sebagai ormas intoleran. Kapolda Jabar yh menjadi bulan2an kritik HRS dan FPI pun tak kalah tegas melakukan respon dan tindakan gakkum thd para anggota ormas tsb yg diduga melakukan aksi kekerasan thd LSM GMBI. Bahkan, kendati tidak langsung, kita juga bisa membaca statemen Panglima TNI yg menyatakan bhw TNI siap menghadapi ormas anti Pancasila sebagai isyarat ketegasan utk bertindak thd pihak2 yg diduga menjadi bagian dr konflik2 di dalam masyarakat.

Karena itu, jalan pedang dan konfrontasi yg biasanya menjadi trade mark FPI dan bisa disimak dari pidato2 HRS, tampaknya harus diubah. HRS mulai melihat bahwa pihaknya bisa jadi akan menjadi lawan bersama, apalagi jika kelompok2 nasionalis seperti PDIP juga menunjukkan penolakan thd gerakan Islam politik yg diperankan FPI dan beberapa kelompok lainnya.

Saya kira, jika HRS dan FPI memang bermaksud baik dengan usul mediasi dan rekonsiliasi itu, tak ada salahnya utk dicoba dan ditanggapi positif oleh pihak2 lawan. Tentu saja ini bukan hal yg mudah dan saya juga memahami akan ada penolakan2 dr banyak pihak dlm masyarakat utk menggunakan jalan damai dan mediasi tsb. Namun kita tak usah terlalu bersyakwasangka sebelum mengupayakannya, demi menghindari konflik yg berlarut dan merugikan anak bangsa.

Kita lihat saja bagaimana perkembangannya kedepan....**

Sumber : facebook Muhammad AS Hikam

Thursday, January 19, 2017 - 09:30
Kategori Rubrik: