Habib, Gus, Ustadz, Cak Dan Gelar Lain

Ilustrasi

Oleh : Damar Wicaksono

Inflasi "habib", "gus", "ustadz" atau "ustadzah" atau gelar akademik berbasis ilmu agama atau apapun di depan tivi atau media massa atau media sosial harus dihentikan

Gus, sebutan untuk anak kyai dalam tradisi Nahdliyin, yang bertujuan awal merendah. Karena para anak kyai itu tak ingin terbebani dengan sebutan "kyai" atau "ulama". Padahal, keilmuan mereka sangat pantas disebut ulama.

Contohnya adalah Gus Dur dan Gus Mus. Keduanya kuliah di Al Azhar. Gus Mus punya gelar akademik pula. Banyak yang tak tahu Gus Mus bahkan lulusan Al Azhar. Tapi beliau tak merasa perlu mencantumkan gelarnya saat berdakwah

Bahkan sebagian anak kyai tak mau pula disebut "Gus". Mereka memilih sebutan "Cak" atau "Kang" saat berdakwah. Semata menunjukkan kezuhudan atau kerendahhatian. Cak Nur (Nurcholish Madjid) atau Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) misalnya.

Habib adalah gelar kehormatan untuk para sayid dan syarif atau keturunan Nabi Muhammad. "Kehormatan" itu diperoleh karena keilmuannya. Jadi tak semua sayid atau syarif mendapat atau berhak memakai gelar habib.

Bahkan sebagian sayid dan syarif itu malu memakai gelar habib, walo mereka sangat pantas. Contohnya Quraish Shihab. Shihab adalah salah satu fam Alawiyin keturunan Nabi yang bdrakar dari Hadramaut, Yaman. Kalo hobinya memaki atau fitnah, barangkali kita bisa stop menyebutnya habib

Ustad?
Bermakna umum guru. Karena "guru", maka sebaiknya disematkan kepada orang yang keilmuannya mumpuni. Setidaknya pernah belajar di pesantren sampai tamat. Bukan yang mantan komedian atau istri ustad tanpa jelas sanadnya

Stasiun tivi dan pengelolanya berperan besar untuk mencerdaskan publik

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Tuesday, December 5, 2017 - 14:00
Kategori Rubrik: