Habib Ali Al Jufry, Amien Rais dan Takfirisme Indonesia

Ilustrasi

Oleh : Muhammad Alwi

Habib Ali Al Jufry adalah ulama hadramaut yang cukup terkenal selain Habib Umar bin Hafidz yang sering ke Indonesia. Dia sekarang bertempat di UEA (Timur Tengah). Sebagai ulama yang pandangannya sejuk...beliau keliling dunia untuk dakwah dan Jum'at kemarin ke Tangerang.

Ada yang menarik dari Tausyiah Habib Ali Al Jufry untuk kita di Indonesia.

Jaga Negerimu jangan sampai terpecah-belah. Beliau juga mengatakan, hati-hati dengan kelompok ulama yang bersorban tetapi menjual agamanya demi kepentingannya, Ulama mengerti agama tetapi hobi provokasi dan memecah belah ummat. Mereka menghalalkan segala cara.

Banyak yang mengaku bela Islam tetapi sangat berpotensi menghancurkan negerimu. Hati-hati dengan penipu yang mengatas namakan Agama.

Dinegeri kami, di Timur Tengah merekalah yang menghancurkan dan meluluh lantankkan negeri. Dengan mengatasnamakan Bela Agama, Bela Islam bahkan bela yang lainnya kehancuran dan nyawa melayang dimana-mana.

Jagalah Negeri-mu.

Petuah ini seakan pas dengan kasus-kasus di negeri ini. Menggunakan masjid untuk kampanye politik kekuasaan dan provoksi. Mengutib ayat-ayat dan jargon-jargon agama demi kepentingan politik kekuasaan dan kelompoknya.

Dikotomi Partia Allah dan Partai Syaiton dalam kampanye politik-kekuasaan. Padahal yang diusungnya serta lawannya bisa jadi sama-sama partai Syaiton.

Berbicara Allah dan Syaiton boleh secara jelas dalam ayat kitab suci, tetapi kita sebagai manusia dengan semua kelemahannya, persepsi, kepentingan maka berfikir hitam-putih tidak bisa diterapkan.

Qur’an dalam surah Al-baqarah ayat 11-12:

Apabila dikatakan kepada mereka:“Janganlah kamu membuat bencana dan kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: ”Sesungguhnya kami orang-orang yang hanya membuat kebaikan”. Ketahuilah! Bahwa sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang sebenar-benarnya membuat bencana dan kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.

Diayat yang lain dikatakan 
Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS Al-Kahfi 103-104).

Mudah-mudahan kita tidak termasuk dari kedua ayat itu. Sebab catatan amal kita belum tahu diberikan dengan Tangan Kiri atau tangan Kanan. (QS. Al-Insyiqaaq: 7-9, juga QS. Al-Haqqoh: 25-29)

Dakwah itu boleh dan baik, dakwah serta berjuang itu boleh dan baik bahkan ditempat tertentu wajib, tetapi .....MERAWAT AKAL ITU SANGAT PENTING......??

# Saat kita tahu bahwa ada 2 calon misalnya Prabowo dan Jokowi. Maka kita tahu dua-duanya bukan ulama dan Islami. Bisahkah didikotomi Partai Allah dan Partai Syaiton?

# Saat dikelompok tertentu banyak ulama-ulama dan dikelompok kita juga banyak ulama-ulama (ada yang baik dan juga tidak). Maka berfikir dikotomis dan takfirisme (mengklaim saya benar kamu salah...pasti) tidak bisa dilakukan.

# Saat banyak kelakuan partai-parti yang Islami (korup) dan yang tidak Islami (Korup), maka memilih yang paling sedikit korupnya is oke...tetapi mendikotomis saya baik kamu jahat, saya Islami dan kamu kafir....itu Takfirisme.

Disinilah peran ulama-ulama moderat dan sejuk serta tidak terkooptasi oleh permainan politik wajib memberikan petuah, pencerahan, ancangan cara berfikir dengan gaiden akal dan nash. Memberikan arahan-arahan yang jelas. Sehingga Agama tidak diperah, sehingga ayat-ayat tidak dijadikan tunggangan politis serta politisasi agama dan masjid.

Mari selamatkan negeri dengan berbagi diskusi dan informasi....demi peningkatan kesadaran diri anak Negeri.

Wallahu A'lam bi Al Shawab

Sumber : Status Facebook Muhammad Alwi

Tuesday, April 17, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: