Gus Sholah

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Suasana batiniyah Nahdliyin di Pilpres Langsung Perdana 2004 terbelah dua, separuh pilih Wiranto-Gus Sholah. Separuh lagi pilih Megawati-Hasyim Mujadi. Ditengah suasana seperti ini Letjen yang bingung ketika dijadikan menteri pertambangan oleh Presiden Gus Dur mendapat Bolmun (bola muntah). Naik lah nama keren SBY. Seperti nama berikut Jokowi. Bangsa ini doyan nama singkatan.

Para pengamat politik Nasional keluaran kampus Indonesia yang landasan berfikirnya materialis empiris saat itu ramai menilai, NU pecah. Padahal ini pengamatan yang sok tahu. Dalam dimensi puncak begini, NU akan merujuk kepada Kiai Khos. Dan Kiai Khos selalu tak kelihatan. Dimensi tersembunyi dari keberadaan waliyullah yang bertugas menjaga kelanjutan Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Sisi mistisisme NU sangat kuat bahkan dibanding ilmu kalam (teologi) dalam tauhid. Sedikit diajarkan mantiq Sulamul Munaoroq sebagai, salah satu tradisi masyyaiyah (paripatetik) untuk santri-santri tua.

Keluarga yang kakaknya jadi Presiden dan adiknya Nyapres hanya keluarga Gus Dur. Gus Sholah tampil memberi keseimbangan. NU harus tetap utuh karena peran penjaga gawang untuk bangsa dan negara ini harus tetap kuat. Bahkan ketika di Pilpres 2009 dan 2014 tak ada simbol tokoh NU, tidap apa-apa. Politiknya menganut politik kebangsaan, bukan semata politik praktis. NU tak mau memandang politik dengan kaca-mata kalah-menang.

Hubungan dengan kaum nasionalis harus tetap erat. NU sangat tahu kenapa harus muncul istilah santri dan abangan. Abangan dinisbatkan kepada nama Syeikh Lemah Abang atau Syeikh Siti Jenar yang walau kisah hidupnya dihujat tetap melekat dihati rakyat kecil Nusantara. Dan NU juga perlu menjaga hubungan dengan TNI, karena pada saat perang kemerdekaan di 10 November Surabaya peperangan dikendalikan langsung oleh NU. Tentara kita saat itu belum berumur sebulan.

Dalam kiprahnya Gus Sholah lebih banyak melakukan gerakan sunyi. Ia seorang insinyur yang tahu persis bagaimana membuat urutan. Ia tak menggebu-gebu. Ia tampak datar mengikuti perkembangan sementara pemikiran umat. Dalam hal ini ia kebalikan dari model Gus Dur yang melompat melampaui era.

Gus Sholah bisa seperti berada di kanan, di waktu yang sama ia tetap Nahdliyin sejati. Ketika Gus Dur di Forum Demokrasi Gus Sholah bersedia mendampingi BJ Habinie di ICMI. Gus Sholah nyaman-nyaman saja ketika harus berada di bawah bayang-bayang nama besar abangnya : Gus Dur.

Ke-insinyuran Gus Sholah bagian tak terpisahkan dari isyarat kakek dan dan ayahandanya bahwa, kaum Nahdliyin harus maju dengan menekuni ilmu di segala bidang tanpa harus kehilangan identitas dan tradisinya. Ada dokter Umar Wahid.

Sang Penyeimbang itu telah pergi. Kita dalam kehilangan besar Tokoh Nasional yang sejuk. Banyak hikmat bisa diambil dari sosok Ir Shalahudin Wahid ini.

Semoga Allah memberi maghfirah. Menerima semua amal baiknya. Memaafkan keluputannya. Teruntuk perjalanan jiwanya mari kita hadiahkan bacaan Alfatihah sinareng sholawat.

(sebuah memori)

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Monday, February 3, 2020 - 12:30
Kategori Rubrik: