Gus Sholah In Memoriam

Oleh: Dina Sulaeman

Indonesia kembali kehilangan ulama besar. Kiai Haji Sholahuddin Wahid atau dikenal sebagai Gus Sholah wafat tadi malam. Beliau adalah adik kandung Gus Dur dan cucu dari Mbah Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

Saya beruntung pernah sekali berjumpa langsung dengan beliau dalam acara yang digelar aktivis NU ITB Bandung (27 Januari 2017), berjudul "Pengajian Umum dan Bedah buku HTI, Gagal Paham Khilafah". Buku yang dibedah itu adalah karya Makmun Rasyid. [1]


 
Dalam acara tsb, saya membahas kiprah Hizbut Tahrir di Suriah dan menyimpulkan bahwa elit HT gagal dalam mengindentifikasi mana musuh, mana lawan di Suriah (cita-cita awal HT kan membebaskan Palestina, kini mereka malah hendak menghancurkan front terdepan perlawanan terhadap Israel). Dan karena HT adalah organisasi transnasional, "kebijakan" HT di Suriah juga diimpor ke Indonesia. Tak heran bila HTI sejak awal konflik Suriah sangat berisik menyerukan "jihad" mendirikan khilafah di Suriah, termasuk dengan cara menyebarkan banyak hoax soal Assad.

Mereka mengabaikan fakta bahwa Suriah ikut dalam 3 kali perang Arab-Israel (1967, 1973,1982) dan menjadi negara terbaik yang melayani pengungsi Palestina. Suriah juga menjadi salah satu pendukung utama milisi perjuangan kemerdekaan Palestina. Suriah juga sejak awal menolak tunduk pada dominasi AS. Tak heran bila AS juga sejak 1950-an sudah berupaya keras untuk menggulingkan pemerintahan Suriah. [2] 

Dalam acara itu, alm. Gus Sholah menyampaikan argumen bahwa NKRI sebenarnya sudah merupakan pemerintahan yang Islami. Kalau ada kekurangan di sana-sini, tentu harus diperbaiki, bukannya malah "diruntuhkan" demi membentuk sebuah pemerintahan "khilafah" ala HTI.

Ada pesan beliau yang saya cantumkan dalam buku saya Salju di Aleppo.

Menurut Gus Sholah, ada kaidah fiqih dalam Islam, yaitu daf'ul mafaasid muqaddamun 'ala jalbil mashaalih (mencegah kerusakan harus lebih diprioritaskan dibanding menarik kemaslahatan). Memicu perang sektarian, kudeta, penggulingan pemerintahan yang terpilih secara sah, sudah dipastikan akan menimbulkan kerusakan, penderitaan, kematian, dan berbagai kesengsaraan lainnya. 

Mencegah kerusakan yang sedemikian mengerikan harus lebih didahulukan daripada menciptakan sesuatu yang "diprediksi baik" (mendirikan khilafah di Indonesia). 

Mencegah kerusakan yang sedemikian mengerikan harus lebih didahulukan daripada menciptakan sesuatu yang "diprediksi baik" (mendirikan khilafah di Indonesia). 

Suriah sudah menjadi bukti bagi kita atas kebenaran kaidah fikih ini.


 

**
Innalillaahi wa inna ilaihi roojiuun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Alfaatihah ma'ash shalawat.

-------------------------
[1]Rekaman live streaming acara diskusi tsb:
https://www.facebook.com/santrionlinenet/videos/1858375341047546/

[2] https://ic-mes.org/politics/as-versus-arab-di-suriah-1/

Catatan saya atas acara tsb:
HTI, Gagal Paham Suriah (1) https://dinasulaeman.wordpress.com/2017/04/04/hti-gagal-paham-suriah-1/
HTI, Gagal Paham Suriah (2) 
https://dinasulaeman.wordpress.com/2017/04/05/hti-gagal-paham-suriah-2/

 
(Sumber: Facebook Dina Sulaeman)
Friday, February 7, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: