Gus Sholah : Khilafah Hanya Menyulut Konflik

Ilustrasi

RedaksiIndonesia-Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Solahuddin Wahid menilai Pancasila sebagai ideologi terbaik yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Menurutnya, Pancasila bisa mengakomodir segala perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

“Nasionalisme kita mengikuti ajaran Ki Hadjar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, yakni nasionalisme yang tidak berdasarkan pada primordialisme. Sebuah konsep nasionalisme yang beridiri di atas semua perbedaan dan itu bisa diwujudkan dengan Pancasila,” kata pria yang akrab disapa Gus Sholah itu sebagaimana rilis yang diterima Proklamasi.co.id pada Rabu (8/6/2017).

Ia menyoroti adanya kelompok-kelonpok tertentu seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang ingin mengganti Pancasila dengan khilafah. Menurutnya, hal itu bertentangan dengan prinsip berbangsa, bernegara dan beragama.

“Bagi saya bicara khilafah tidak masalah, termasuk wacana di dalamnya. Tapi mendirikan khilafah di Indonesia adalah tidak boleh karena bertabrakan dengan prinsip berbangsa, bernegara dan beragama,” ujarnya.

Ia menyebut tak ada jaminan dengan ditegakkannya khilafah Indonesia akan menjadi negara kuat dan sejahtera. Justru sebaliknya, yang terjadi adalah pertumpahan darah seperti halnya yang terjadi di Syiria.

“Untuk mendirikan khilafah di Indonesia meskipun ditopang dengan kekuatan yang kuat dari luar negeri, apakah ada jaminan bisa menghasilkan negara yang baik dan kuat karena pasti menghasilkan konflik, perang. Kebaikan-kebaikan yang yang akan muncul dengan adanya khilafah belum tentu tercapai karena mungkin akan mirip-mirip dengan negara lain seperti Syiria yang penuh konflik dan peperangan,” paparnya.

Ia melanjutkan, para pendiri bangsa tidak pernah berbicara khilafah. Karena jauh sebelum Indonesia menjadi negara-bangsa, konsep khilafah sudah bubar. Tidak ada kata khilafah dalam perumusan negara-bangsa oleh para pendiri bangsa, yang ada perbedaan dalam menyusun dasar negara: Berdasarkan Pancasila atau berdasarkan Islam. Secara bulat disepakati dasar negara kita adalah Pancasila.

“Kalau Indonesia berdasarkan Islam, kelompok Nasrani akan menolak untuk bergabung dengan NKRI. Rembuk para pendiri negara bersepakat menjadikan sila pertama sebagai ketuhanan yang maha esa, bukan berdasarkan syariat Islam,” ujarnya.

Baca: Kapolri: Khilafah Bertentangan dengan Pancasila

Terkait HTI yang ingin mengganti Pancasila dengan konsep khilafah karena Pancasila dinilai tidak berhasil menyelesaikan persoalan yang ada, Gus Sholah mengatakan bukan Pancasila-nya yang salah. Melainkan karena ketidakmampuan kita membuat nagara yang baik, mendidik rakyat yang baik dan membuat ekonomi yang kuat.

“Persoalan kebangsaan yang belum terselesaikan melalui konsep negara Pancasila tidak serta merta harus mengganti konsep/dasar negara dengan khilafah,” ujar Gus Sholah.

“Kemampuan kita dalam mengelola negara yang kurang, bukan terletak pada konsep/falsafah negara yang kita sepakati. jadi ketidakmampuan itu yang harus dioptimalkan lebih baik lagi, bukan kemudian diganti falsafah negaranya, lebi-lebih diganti dengan sistem khilafah,” imbuhnya.

Sekali lagi, Gus Sholah mengatakan, tak ada jaminan mengganti Pancasila dengan khilafah akan menyelesaikan persoalan bangsa saat ini. Tapi yang jelas khilafah hanya akan menyulut terjadinya konflik.

“Kita ganti khilafah pun hari ini belum tentu bisa menyelesaikan semua persoalan kebangsaan. Yang jelas mendirikan negara khilafah sekarang hanya akan menyulut konflik seperti yang terjadi di beberapa negara di Timur Tengah,” ujarnya.

Terakhir, Gus Sholah mengkritik para pendukung khilafah yang menyebut tidak ada kedaulatan selain kedaulatan Allah. Menurutnya, konsep seperti itu hanya terjadi pada masa Rosulullah melalui ayat-ayat Al Quran yang diterimanya sebagai wahyu.

“Nah, untuk pemerintahan setelah Rasulullah itu murni kedaulatan manusia berdasarkan tafsiran-tafsirannya terhadap ayat-ayat Al Quran,” pungkasnya.

Sumber " SuaraIslam.com

Sunday, September 16, 2018 - 16:00
Kategori Rubrik: