Gus Dur dan Pesan Ibunya

Oleh: Sunardian Wirodono

 

“Dur!” suatu ketika Ibu Sholehah memanggil anak sulungnya, Abdurrahman Ad-Dhakil. Waktu itu sang Ibu tengah mengandung anak keenam, yang bungsu. “Kamu mau berjanji pada Ibu?”

Abdurrahman Ad-Dhakil, alias Gus Dur, terdiam. Tapi kepalanya mengangguk.

 

 

“Cita-cita ayahmu memajukan pesantren,” lanjut Ibu Sholehah. “Tapi kini ayahmu telah dipanggil Allah. Kamu yang harus mewujudkannya nanti. Kamu jangan mengecewakan almarhum ayahmu. Janji, ya, Dur?”

Gus Dur tak bisa berkata apa-apa. Ia membalas pelukan Ibunya.

Ketika itu, entah apa yang dikatakan Gus Dur dalam hati. Tapi benar, Gus Dur adalah bagian penting gerakan memajukan, atau memodernisasi pesantren. Bukan hanya secara manajemen, juga dalam sistem pendidikan, beserta humor-humornya. Meski untuk soal humor, hampir kebanyakan kyai pesantren, sebelum Gus Dur, umumnya penghumor yang baik. Humor di pesantren menunjukkan tingkat kecerdasan, sekaligus religiusitas mereka.

Formalisme dalam agama, apalagi dalam spirit wahabisme, membuat Islam berwajah serius, kehilangan humor, juga kadang akal sehat. Menjadi berwajah agak aneh, kadang pemarah, sebagai manifestasi bawah sadar inferiority complex.

Dalam sebuah tulisannya, Gus Dur menyatakan: Pesantren ibarat kisah perang Mahabharata (dalam versi Jawa). Mahabharata versi India menyebut Pandawa golongan putih Kurawa golongan hitam. Perbedaannya jelas, benar dan salah.

Sementara dalam pandangan Gus Dur, Pandawa adalah gambaran manusia-manusia yang sudah puncak, Kurawa yang sedang berproses menuju puncak. Pesantren tak ubahnya seperti Mahabarata. Kurawa sebagai santri, Pandawa adalah Kyai, Bharatayuda adalah masjid, medan perang antara Kiyai dan Santri.

Perang yang dimaksud bukan untuk memusnahkan, melainkan membantu santri untuk menjadi Kiyai. Setidaknya di kemudian hari, santri akan mampu membantu Kurawa-Kurawa lain bertransformasi menjadi Pandawa.

Dalam proses transformasi itu, karenanya Gus Dur tak mendendam dan membenci, bahkan dengan yang memusuhi. Kehidupan adalah proses, bukan sesuatu yang final. Pandangan Gus Dur atas rakyat, seperti pandangan Kiyai pada santrinya. Demikian pula pandangan pada yang memusuhinya. Selalu mengusahakan terciptanya keadilan.

Jika pun Gus Dur menentang, bahkan melawan, karena sikap dan perilaku orang yang mengharuskan Gus Dur menentangnya. Khususnya mereka yang mengoyak kemanusiaan. Maka, dalam haul ke-9 Gus Dur di Ciganjur, Jaksel, kemarin, ‘yang lebih penting dari politik ialah kemanusiaan’.

Apakah capres dan timnya, juga sampeyan, masih ingat pesan kemanusiaan Gus Dur, yang meninggal 30 Desember 2009 lalu? Intoleransi = anti kemanusiaan!

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Saturday, December 22, 2018 - 13:30
Kategori Rubrik: