Gus Dur Dan Kebangkita Negara China

ilustrasi

Oleh : Muhammad Guntur Romli

Sejak tahun 90-an Gus Dur sudah memprediski kekuatan Negara China. Saat anak bungsunya Inayah konsultasi mau pilih jurusan kuliah di UI, Gus Dur menyarankan masuk 'Sastra China'. Kenapa China? Gus Dur menjawab 'China akan menjadi negara besar dengan kekuatan ekoniminya'. Prediksi Gus Dur benar, seperti halnya prediksi dia Jokowi akan menjadi Presiden dan Kiai Said Aqil menjadi Ketua Umum PBNU.

Kini China menjadi negara besar dengan pertumbungan ekonominya. Bahkan China sudah 'tos-tosan' dengan Amerika Serikat dalam Perang Dagang. Kalau Rusia hanya mampu melayani Amerika Serikat dalam perlombaan yg tidak produktif: lomba senjata. China mendesak AS dalam perang ekonomi.

AS terpojok menghadapi serbuan ekonomi China yg dihadapi dgn jurus-jurus bertahan saja: proteksi pasar dalam negeri, naikkan pajak impor, boikot hingga tuduhan yg menyeret dunia intelejen. Misalnya tuduhan AS pada produk Huawei yg dianggap alat pengintai dari Negara China, karena sebenarnya produk Apple mulai tersingkir oleh kecanggihan Huawei, sekaligus harganya. Meskipun juga, Apple memiliki pabrik di China untuk menekan harga, karena biaya buruh di AS sangat mahal.

Jangankan AS, dunia sudah lama mengalami ketergantungan dengan produk-produk China, mulai barang-barang murahan, dari mainan anak-anak, alat-alat rumah tangga hingga paling canggih seperti satelit, pesawat ruang angkasa. Produk makanan yg murah hingga perkembangan pengobatan yg paling canggih, cangkok organ hingga rekayasa genetika.

Bagaimana dengan kita? Sudah lama Gus Dur mengingatkan kebangkitan China, semestinya bisa saling belajar. Kan ada juga yg disebut-sebut hadis, uthlubil ilma walaw bis-shin (carilah ilmu walaupun sampai ke China). Saya kira, AS terlambat menghadapi China karena selama ini meremehkan. Produk-produk China dianggap murahan (betul yang abal-abal dan murahan, tapi tahukah anda berapa banyak perusahaan khususnya telekomunikasi dan IT yg membutuhkan produksi massal, pabrik-pabrik mereka dibangun di China untuk menekan harga dengan biaya buruh yg murah).

Tapi yang aneh tetap beberapa golongan di kita, yang masih bersikap munafik terhadap Negara China. Dari tuduhan Komunis, Atheis (China memang dikuasai satu parpol saja: Partai Komunis, dan elit-elit politik China tidak peduli pada konsep Tuhan dan Agama) hingga impor dari China yg dianggap sebagai momok yang menakutkan tapi di sisi lain tetap tergantung pada Negara China. Misalnya pendukung Anies Baswedan dari kelompok radikal yang teriak-teriak Komunis, Atheis, Pro Aseng dll ternyata, Anies juga tergantung pada Negara China soal mengatasi polusi udara dengan mengimpor bus listriknya. Bahkan Anies pun mengimpor bawang putih dari China. Tapi pendukungnya tidak ada yg teriak-teriak: Anies Antek Aseng, Anies Pro Aseng, Anies Boneka Aseng.

Impor dari China itu hanya solusi sementara, jangka panjang saya yakin hadis itu masih menemukan relevansinya: Belajarlah walaupun sampai ke Negeri China.

Kalau kita mau jadi produktif dan kreatif tentu saja harus belajar, kalau cuma mau jadi konsumen dan pasif, yaa dengan membeli dan impor dari China saja selama ini dengan bersikap munafik: teriak-teriak anti Aseng tapi sangat tergantung bahkan menjual produk Aseng itu.

Sumber : Status Facebook Mohamad Guntur Romli

Monday, August 5, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: