Guru, Mursyid dan Kehidupan

ilustrasi

Oleh : Gayatri Muthari

Bagiku ga ada itu pindah agama kalau masih meyakini Yang Maha Misteri... Dan, bagiku orang kepo yg masih bertanya pada orang tuaku apakah aku (masih) salat dan menanyakan agamaku padahal sering membaca status facebookku adalah orang orang yg maqam agamanya masih awam, masih ikut jalan spiritual orang lain, masih belum merdeka, masih belum mandiri. Aku memaklumi mereka, tetapi kalau aku ga luahkan dalam tulisan, aku yg bakalan stress tau... 

***
Aku merumuskan sendiri Dekalogisme (yg kuanut). Aku menginovasi kalender keagamaan. Aku merevisi banyak dari pengetahuan keagamaan yg kuterima dan kubaca dari kecil. Aku mereformasi tarekat yg aku awalnya pun diinisiasi sebagai awam. Aku memiliki pemaknaan dan pemahamanku sendiri untuk jalan spiritual yg kutempuh. Aku menulis sastra dan berupaya merintis hal hal yg kuanggap penting bagi trah tumerahku kelak.

Guru guruku hanya mengantarku ke gerbang, seperti ibu yg melahirkanku dan ayah yg menggendongku sampai aku bisa berjalan sendiri. Para mursyid hanya membimbing, seperti guru guru yg mengajarku baca, tulis dan berhitung.

Liberation itu, kemerdekaan itu, adalah anugrah. Mandiri itu menyenangkan karena sadar menanggung sendiri semua karma (perbuatan) di dunia dan setelah kehidupan ini. Mereka yg eling, mengerti: pengetahuan adalah pengalaman, dan memiliki informasi adalah untuk menyintas hidup, bukan pengetahuan.

Agama bagiku adalah bagaimana seseorang atau sekelompok orang menerima realitas atau meyakini suatu realitas. Ada yg meyakini / menerima realitas yg lalu menjadi gnostik, ada yg ateis, ada yg politeis, ada yg deis, monoteis, henoteis, dll. Ada yg ikut leluhur sepenuhnya, ada yg ikut kelompok, dan ada yg memiliki agamanya sendiri misalnya seperti yg ateis dan agnostik. Sains adalah tentang menemukan dan atau (mencoba) menyingkap realitas yg misteri. Kandungan dalam air dan oksigen, virus yg tak kasat mata, atau hormon di balik emosi yg bergejolak. Teknologi adalah tentang mempermudah kehidupan, tentang penciptaan dan inovasi alat alat untuk sains dan juga untuk agama dijalankan. Inilah kehidupan!

Aku sadar kehidupan penuh tantangan... kebutuhan, rasa takut, amarah, sukacita, sakit, sakit hati, kesedihan, kebencian, kehilangan, ketakberdayaan, kemelekatan, ego, cinta, hasrat, impian dan harapan, dst... semua ini adalah keseharian yg dihadapi setiap orang. Tetapi, meyakini dan menerima realitas secara mandiri, merdeka dan penuh rasa tanggung jawab : kurasa hanya sedikit orang berani, sanggup dan mau menjalaninya.

Aku bersyukur Sang Maha Misteri menganugrahiku semua hidayah dan rahmat ini. Alhamdulillah, puji Tuhan!

Sumber : Status Facebook Gayatri Muthari

Friday, February 28, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: