Guru Bintang Paling Fenomenal

ilustrasi

Oleh : Baharuddin.

Guru Bintang yang saya maksud dalam tulisan ini adalah seorang pejabat Wali Kota Metropolitan ke 2 di Indonesia setelah Kota Jakarta. Beliau adalah Ibu Tri Rismaharini. Alhamdulullah Tim kami dari JACI dapat bertemu dengan orang nomor satu di kota surabaya ini. Saat itu kami di undang oleh pemda Kota Surabaya, sebagai salah satu narasumber untuk sebuah acara seminar memperingati hari pendidikan nasional.

Pada momentum acara tersebut, kami dari lembaga Pendidikan JACI memberikan Anugerah kepada ibu Risma sebagai "Guru Bintang Indonesia" dan sekaligus menyerahkan sebuah buku yang paling fenomenal dengan judul : "Belajar Matematika Semudah Membalikan Telapak Tangan" karya Bahruddin MD dan Dede Supriyadi. Buku itu diserahkan sebagi simbol dimulainya pencanangan program mencetak Sejuta Anak Bintang Indonesia, di Surabaya. (nampak dalam foto Ibu Risma menerima sebuah buku dari Pakbahar).

Pertanyaannya mengapa kami menganugerahkan Piagam Guru Bintang kepada ibu Risma. ?

Pertama, beliau terpilih menjadi Walikota bukan karena beliau orang partai, atau bukan juga beliau pengusaha atau beliau orang ormas. Justru beliau adalah orang pegawai pemda biasa di Dinas Pertamanan dan Kebersihan di kotanya. Tapi dengan hasil kerja dan prestasinya yang luar biasa akhirnya beliau diusung oleh partai, dan berbagai ormas keagamaan, budaya dll. Sehingga beliau mampu menjabat Walikota 2 priode dengan kinerja yang sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan perolehan piagam, sertifikat dan penghargaan lebih dari 50 penghargaan dari berbagai institusi dalam maupun luar negeri. Luar biasa.. !

Kedua, beliau sangat peduli dengan lingkungan dan rakyatnya. Surabaya yang memiliki cuaca panas nampak terasa sejuk dibawah kepemimpinan beliau.

Ketiga, beliau adalah pemimpin yang mendekati kreteria yang ditetapkan oleh islam, yakni tabligh, amanah, fatonah dan sidik.

Kesimpulan saya: Tri Rismaharini adalah sebuah fenomena luar biasa!. Walaupun tak ada yang luar biasa dari tampak luarnya. Tubuhnya tidak semampai seperti Syahrini, tidak juga secantik Ibu Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany.

Tubuh Risma kekar berbalut jilbab dan jarinya tidak lentik bak penari, melainkan bulat-kuat seperti jari-jemari ibu-ibu petani yang biasa memegang pacul, ini saya perhatikan ketika Ibu Risma bersalaman dengan saya ketika usai menyerahkan buku Metode Jari Aljabar.

Yang saya kenal melalui media, Dia juga tidak pandai bersilat lidah seperti Farhat Abbas, bahkan tidak pandai bicara, apalagi bicara diplomatis seperti anggota DPR. Dia bukan politisi, atau pengacara. Atau pandai bernego bak pengusaha. Tidak..!

Dia hanya seorang arsitek dan mantan Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan di Kota Surabaya, tipikal PNS dan birokrat yang kebetulan mengurus taman dan sampah Surabaya. Itu saja..!

Tetapi dia tahu betul apa yang dikatakannya dan bisa mempertanggung jawabkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Inilah contoh konkret dari ”satunya kata dengan perbuatan”.

Kesimpulan yang lain yang bisa saya sampaikan disini adalah bahwa Ibu Risma sangat religius. Religiusitasnya sangat berbeda dari religiusitas Wali Kota Bengkulu Helmi Harun, yang :menjanjikan umrah dan haji gratis serta hadiah mobil Kijang Innova dan Honda CRV buat masyarakat yang paling rajin sholat subuh berjamaah di masjid.

Religiusitas Risma nampak dari intuisinya yang kuat, yang menurut Risma sendiri merupakan petunjuk Tuhannya. Tuhan setiap hari memberitahu kemana dia harus pergi hari itu, ke barat atau ke utara, maka dia pun pergi ke arah itu, dan selalu dia menemukan warganya yang sedang bermasalah.

Seperti anak telantar di pinggir jalan yang membutuhkan bantuan Dinas Sosial, pelacur berumur 60 tahun yang masih praktek dengan bayaran Rp1.000-2.000, (lokalisasi prostitusi pun akhirnya di hapus dan dijadikan centra kerajinan masyarakat surabaya). Atau banjir yang ketika ditelusuri penyebabnya adalah pagar orang yang membuat air mampat, maka spontan dia suruh bongkar pagar itu.

Di suatu acara talkshow, ketika dia ditanya oleh Najwa, ”Masih tegakah Ibu mengundurkan diri sebagai wali kota, walaupun sudah menerima 51 penghargaan dan calon wali kota terbaik dunia?". Beliau menjawab :"Apa yang saya harus katakan kepada warga Surabaya?” Pecahlah tangis Risma. Dia kasihan kepada jutaan warga Surabaya yang masih perlu bantuannya. Tetapi dia juga tidak mau, sebagai wali kota, mengetahui adanya warganya yang masih menderita dan dia tidak berbuat apa-apa.

”Nanti kalau saya dipanggil dan ditanya Tuhan (dia lebih banyak menggunakan istilah ‘Tuhan’ daripada ‘Allah’) dan saya tidak bisa menjawab, saya tidak akan masuk surga. Saya tidak mau tidak masuk surga!” Alangkah religiusnya, walaupun tidak sepotong ayat pun keluar dari bibirnya.

Risma yang hanya ibu rumah tangga dan senang keluar makan malam dengan suami dan anak-anaknya, jelas jauh religius daripada ustaz-ustaz kondang yang memasang tarif ceramahnya

Tetapi ketika acara ”Mata Najwa” direkam, tampaknya tekanan untuk tidak mundur belum terlalu kuat, dan ketika ditanya oleh Najwa Shihab, Risma masih jelas-jelas menyatakan bahwa dia tidak berani untuk berjanji kepada rakyat Surabaya untuk tidak mundur. Mengapa begitu? Risma sendiri menyatakan bahwa dalam bekerja dia selalu melibatkan emosinya. Begitu dia..!

Tri Rismaharini pun akhirnya menjabat 2 periode. Selamat buat Guru Bintang Indonesia, guru yang patut digugu dan ditiru. Guru yang telah banyak memberikan semangat, motifasi dan inspirasi buat kita semua. Selamat menjalankan tugas hingga akhir jabatan. Selamat guruku yang paling fenomenal. (Brd - JA).

Sumber : Status facebook Baharuddin

Thursday, January 16, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: