Gundik

 

Oleh: Mentari R Sandiastri

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah pergundikan adalah suatu praktik di masyarakat yang berupa ikatan hubungan di luar perkawinan antara seorang perempuan (disebut gundik) dan seorang laki-laki dengan alasan tertentu. 

Selama beberapa hari terakhir, kata berkonotasi hina tersebut menjadi salah satu topik yang ramai dibicarakan oleh warganet Indonesia di media sosial. Apa pasal? Seorang petinggi salah satu perusahaan milik negara yang telah dipecat secara tidak hormat akibat tindakan yang melanggar hukum diduga menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang bekerja di perusahaan tersebut. 

 

Tidak hanya itu, si gundik juga disebut-sebut sering memanfaatkan hubungannya dengan sang petinggi untuk berbuat semena-mena terhadap rekan sejawatnya. Sejak kasus ini mencuat, banyak pegawai yang lain mulai 'come forward' dan mengklaim bahwa mereka merupakan korban kekejaman si gundik, yang dibiarkan merajalela oleh kekasihnya.

Tak heran banyak warganet yang murka dengan kabar tersebut, mengingat masyarakat Indonesia yang memang sangat sensitif terhadap hal-hal yang dianggap merusak citra pernikahan. Berselingkuh dan menjadi selingkuhan, 'especially the latter', dianggap sebagai dosa yang tak termaafkan. Kalaupun si pelaku sudah meminta maaf kepada orang-orang yang terkena dampak langsung, penghakiman dari masyarakat tak akan berhenti. 

Lihat saja seorang musisi kenamaan menikahi penyanyi yang dulu bergabung dalam band milik mantan istri musisi tersebut. Kejadiannya sudah bertahun-tahun yang lalu, namun tetap membekas dalam ingatan masyarakat. Sang musisi dan istri keduanya pun hingga kini memiliki imej yang cenderung negatif.

Apakah perselingkuhan termasuk ranah pribadi? Bisa ya, bisa tidak. Dalam kasus sang bos pecatan dan gundiknya, ada dugaan kuat bahwa hubungan mereka dijadikan alat untuk berbuat semena- mena terhadap banyak pegawai di perusahaan tersebut. Ada pegawai yang mengaku dimutasi ke luar Jawa karena berani menolak permintaan si gundik. Senior-senior si gundik dibuat tak berdaya karena berbagai ancaman yang menanti apabila mereka berani menegur si gundik, seperti dimutasi atau dinonaktifkan. Sulit untuk berargumen bahwa kasus ini masuk ke ranah pribadi, karena sudah ada efek negatif yang secara luas dirasakan oleh perusahaan tersebut.

Di sisi lain, fokus masyarakat yang kini lebih banyak tertuju terhadap perselingkuhan sang bos pecatan dengan gundiknya membuat kita hampir melupakan akar dari berbagai rumor yang kini muncul: tindakan sang bos pecatan yang melanggar hukum. Ia menggunakan fasilitas perusahaan dan memanfaatkan pegawai untuk kepentingan pribadinya. Selain itu, ia juga siap menjadikan orang yang tidak bersalah sebagai tumbal.

Sejak ia menjabat, memang sudah banyak keluhan terkait dengan citra perusahaan yang makin nyeleneh serta penurunan kualitas layanan/produk. Pada awal tahun ini, ia juga terbukti memanipulasi laporan keuangan perusahaan. Seharusnya pemerintah langsung bertindak tegas saat itu, karena penyelewengan ini dapat mengancam nasib salah satu perusahaan milik negara yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. 

Sayangnya, tidak ada tindakan tegas yang diambil pada saat itu, meskipun pada akhirnya sang bos besar pun jatuh dengan cara yang sangat memalukan. Lebih lanjut, ada kemungkinan ia akan mendekam di penjara karena tindakannya yang melanggar hukum.

Saya tidak heran dan cukup memaklumi melihat banyaknya orang yang mengutuk si gundik, bahkan sampai mengungkit- ungkit gosip bahwa ia menggunakan ‘uang negara’ untuk bermewah-mewah. Berhubung ini perusahaan milik negara, wajar saja banyak orang yang merasa tidak ikhlas pajaknya dipakai untuk membiayai gaya hidup si gundik. Namun, saya cukup khawatir karena makin sedikit orang—setidaknya di media sosial—yang membicarakan penyalahgunaan kekuasaan si bos pecatan, termasuk berbagai hal yang merugikan perusahaan seperti manipulasi laporan keuangan dan tindakan yang akhirnya menjatuhkan dirinya. 

Membiarkan selingkuhan berbuat semena-mena sampai merugikan orang lain memang tidak bisa dibenarkan, tapi 'this is hardly the worst part of the whole story'. Apakah memang lebih mudah bagi kita untuk mengutuk perselingkuhan dan operasi plastik daripada tindakan yang melanggar hukum dan mengancam nasib perusahaan milik negara? Entahlah.

Kisah sang bos pecatan dan gundiknya tidak akan segera menemui ending. Akun media sosial anonim yang mengupas cerita ini makin gencar mempreteli banyak orang yang diduga terlibat dalam kebobrokan yang terjadi di perusahaan selama setahun belakangan, termasuk orang-orang yang mungkin sebetulnya tidak bersalah. 

Warganet Indonesia menyambut antusias arus informasi ini, yang sesungguhnya agak mengherankan mengingat rumor-rumor yang bersifat pribadi dan tidak berhubungan langsung dengan pelanggaran hukum sang bos pecatan tersebut tidak didasari bukti yang kuat dan hanya bermodal ‘katanya’. Then again, yang namanya gosip memang digosok makin sip.

Kita hanya bisa berharap bahwa kasus ini akan ditindak sebagaimana mestinya dengan bukti-bukti yang memang kuat. Sang bos pecatan yang sudah terbukti melanggar hukum harus menerima ganjarannya. Orang-orang yang betul-betul menjadi korban kezaliman selama ia menjabat harus mendapat keadilan. Orang-orang yang tidak bersalah tapi terseret dalam kasus ini harus dibersihkan namanya. SEMOGA

 

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)
Thursday, December 12, 2019 - 15:45
Kategori Rubrik: