Gunakan Smartphone lebih Smart

Ilustrasi

Oleh : Joko Santoso

Saya masih menggunakan Facebook, What’sApp dan Instagram, tapi kini lebih banyak menghabiskan waktu bertani sayur dan beternak jangkrik di kota kecil lereng Gunung Sindoro.

Hidup sepertinya lebih lega dan menyenangkan karena tidak dituntut memberi perhatian terus-menerus pada hal-hal yang tidak penting dan tidak dibutuhkan. Tidak tersandera oleh kebutuhan semu media-sosial.

Bagi banyak orang, smartphone telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Dari bangun tidur hingga berangkat tidur. Kemajuan teknologi digital telah memberi kita banyak kemudahan dan kenyamanan.

Dengan satu-dua sentuhan di layar smartphone kita bisa melakukan banyak hal: bersosialisasi (bersilaturahmi) tanpa kendala jarak, membeli donat tanpa ke warung, memesan ojek atau hotel, membeli tiket, dan mentransfer uang tanpa beranjak dari tempat duduk.

Dibantu oleh keluasan cakupan wi-fi dan teknologi powerbank, kita bisa melakukan semua itu hampir seketika serta kapan saja. Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari sepekan. Tanpa libur.

Tapi, benarkah teknologi, telpon genggam, internet, dan media sosial membuat kita lebih bahagia, produktif, sejahtera dan manusiawi?

Dengan kelimpahruahan informasi dalam genggaman, benarkah kita menjadi lebih berpengetahuan dan arif dalam bersikap atau bertindak?

Apakah waktu luang yang dibebaskan oleh kenyamanan dan kemudahan teknologi menjadi lebih berkualitas sehingga hidup kita lebih bermakna?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kini mengemuka bahkan di Lembah Silikon, pusat dari semua kemajuan teknologi digital, tempat Google dan Facebook berawal untuk kemudian menguasai dunia.

Obsesi pada dunia digital menguras kocek kita. Di beberapa keluarga, anggaran untuk membeli pulsa kini sama atau lebih besar dari anggaran kebutuhan dasar seperti makan. Belum lagi perlombaan berburu smartphone model mutakhir dengan fitur-fitur yang kian canggih.

Tapi, kerugian uang yang kita obral untuk kenyamanan belaka, bukan kebutuhan, mungkin tak seberapa dibanding kerugian akibat dampak negatif “kecanduan smartphone”.

Menurut sebuah survai, rata-rata kita 2.600 kali menyentuh layar smartphone setiap hari, artinya sejuta kali setahun. Rata-rata. Mereka yang lebih agresif bisa menyentuh, swipe and scroll, dan mengetik, lebih 5.000 kali sehari.

Sebagian besar sentuhan, menurut survai tadi, adalah mengakses aplikasi-aplikasi milik Mark Zuckerberg: Facebook, Instagram, Messenger dan What’sApp. Aplikasi-aplikasi Google ada di posisi nomor dua. Dan jenis aplikasi yang paling banyak dipakai adalah game, belanja online serta media sosial.

Perusahaan seperti Facebook dan Google menangguk untung besar dari iklan yang ditunjang oleh seberapa sering kita menggunakan aplikasi mereka; seberapa banyak dan sering kita menyentuh smartphone.

Kecanduan smartphone dan media sosial bukanlah tanpa sengaja, melainkan “by design”. Apple, Google dan Facebook, menghabiskan banyak anggaran untuk riset perilaku konsumen. Mereka berlomba menghasilkan “persuasive-design”, gadget dan pola interaksi media sosial yang mengikat konsumen, agar sebanyak dan sesering mungkin mengakses aplikasi mereka. Kecanduan internet dan media sosial adalah hasilnya.

Justin Rosenstein, salah satu perancang Gchat dan penemu tombol “like” di Facebook, kini berbalik arah. Dia keluar dari Facebook dan mempromosikan penggunaan teknologi digital secara lebih proporsional. Rosenstein mengharamkan Snapchat untuk dirinya sendiri, menyebutnya serupa dengan heroin, membatasi penggunaan Facebook dan memilih iPhone yang tidak bisa mengunduh aplikasi apapun.

Khawatir akan dampak psikologis penggunaan media sosial, banyak inovator Lembah Silikon kini juga memasukkan anak mereka ke sekolah tanpa-smartphone.

Apa yang salah dari smartphone dan media sosial? Model bisnis Facebook dan Google menuntut sentuhan dan perhatian pengguna aplikasi. Ini memunculkan istilah baru “attention-based economy”; ekonomi yang dibangkitkan oleh “perhatian” para pengguna, bahkan jika cuma memencet tombol “like” di Facebook.

Ketika smartphone dan media sosial menghabiskan terlalu banyak perhatian, sebagian orang kini merasakan rusaknya hubungan personal bahkan dengan orang terdekat: anak yang terlantar atau suami-istri yang menjauh secara emosional.

“Attention-based economy” mendorong orang untuk terus-menerus menengok dan menyentuh smartphone, mengalihkan perhatian (distraction) dari soal kongkrit dan mendesak di depan mata. Orang mengalami “continous distraction and partial attention” yang menghambatnya untuk fokus dan kerja produktif.

Banyak orang teralihkan perhatian mereka seketika dan setiap saat. Waktu luang lebih banyak yang dibebaskan oleh kemudahan teknologi dihabiskan untuk perhatian-perhatian yang tidak berkualitas.

James Williams, ahli strategi bisnis di Google yang kini “memberontak”, meramalkan dampak negatif yang lebih jauh. Media sosial potensial merusak bangunan demokrasi.

Demokrasi menuntut “informed-citizen”, warga negara yang melek pengetahuan, untuk bisa mengontrol penguasa. Tapi, meski menyediakan banyak sekali informasi hampir seketika, media sosial menghambat kita mencapai pengetahuan mendalam tentang sesuatu karena perhatian yang terpecah-pecah.

Bahaya media sosial bukan pertama-tama terletak pada begitu banyak “hoax”, informasi atau berita bohong. Tapi, pada kecenderungannya untuk menyedot serpihan perhatian kita, terus-menerus, setiap saat, dan sepanjang waktu.

Saya tidak anti teknologi. Saya ikut merancang koran online pertama di Indonesia, membuat website pertama dengan “HTML-code” paling primitif, dan pengguna media sosial paling awal ketika America Online dan Compuserve masih berjaya.

Tapi, seperti Rosenstein dan Williams, saya kini memilih untuk menahan diri. Banyak teknologi baru diciptakan untuk kemaslahatan manusia, tapi sepanjang sejarah kita juga menyaksikan banyak efek samping yang tidak dikehendaki.***

Sumber : Status Facebook Joko Santoso

Tuesday, October 24, 2017 - 13:00
Kategori Rubrik: