Gubuk Kakek Pardi dan PKM Tanah Abang

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Disamping kantor ada kebun yang cukup luas. Ada 700 batang pohon jati jenis jati emas Cordia subcordata (Cordia sebestena) yang berderet disana.

Tepat dibawah pada bagian yang menjorok ada beberapa rumpun bambu dari jenis bambu tali dan bambu wulung sejenis bambu berwarna hitam. Ada sungai Pesanggrahan mengalir di bawah rumpun bambu itu, airnya masih cukup jernih.

Tepat diantara tepi sungai dan rumpun bambu ada sebuah rumah milik kakek Pardi. Rumah atau lebih tepatnya gubuk milik kakek Pardi terbuat dari bambu, pekerjaannya meraut batang bambu men-jadikan dia mudah untuk membuat rumah dari bambu pula.

Rumah itu cukup luas berukuran 6 X 5 meter, tepat berada di pinggir kali Pesanggrahan, menghadap air. Untuk mencegah banjir, kakek Pardi membuat tanggul, masih dari batang bambu. Batas antara beranda dan tepi sungai di buatlah tanggul, dan ditimbun dengan tanah. Sejak sore, hujan turun lebat.Tapi kakek Pardi justru bersantai saja di Mushola dekat rumahnya.

Ia begitu yakin tanggul yang dipasangnya di depan beranda rumahnya akan mampu menahan banjir.Namun apa lacur, ternyata banjir menerjang rumah kakek Pardi justru menghanyutkan bagian belakang rumahnya. Bagian yang selama ini diyakini paling aman oleh kakek Pardi. Sejenak apa yang terjadi pada kakek Pardi seperti kondisi sekarang.

Saat ini Frekuensi Publik dipenuhi pemberitaan yang serba heboh dan mengejutkan. Satu hal besar menurut saya sedang terjadi di negeri ini, entah apa. Tapi rentetan kehebohan ini seperti disengaja. Kita dibuat terlena, ikut larut menghujat, mengkritik, memaki dan geram pada kehebohan demi kehebohan yang muncul.

Sementara itu tanpa sadar kita seperti kakek Pardi, yang membentengi beranda depan rumah, sedang di belakang rumah kita justru erosi besar sedang terjadi menggerogoti belakang rumah kita dan hanyut bersama banjir. Nalar hukum dan logika politik kita seperti halnya tanggul yang dipasang oleh kakek Pardi. Kita begitu yakin banjir akan melalui beranda depan rumah, dan kita tenang saja karena kita telah membangun tanggul itu begitu kuat.

Asyik kita terlena, rupanya skenario banjir besar yang di mainkan para ‘’Perampok ‘’ negeri ini jauh melampaui logika yang kita yakini. Tanggul yang kita pasang diberanda tetap kokoh, tetapi belakang rumah kita habis digerus.

Sedikit saja meme lucu, komentar nyentrik tokoh ‘’ Bi narti ’’, atau " PKL Tanah Abang yang berubah jadi PKM ” atau bahkan “lips balm” menjadi alat ampuh membuat kita terlena. Di samping gaya cengengesan pemimpin yang kerap salah ucap yang kemudian menjadi headline berita.

Skenario banjir ‘’perampokan’’ dimainkan begitu rapih di kemas elok didukung media. Ah sudahlah, "banjir besar" yang membuat lalai itu bisa tokoh, bisa isu peristiwa, bisa juga Tanggul banjir dan hal lain yang berserak.

Dan tanggul nalar logika kita sekuat apapun tidak akan bisa mem¬bendungnya karena kita telah di¬buat terlena. Seperti kakek Pardi dan rumahnya. Sudah cukup kakek Pardi yang tergerus rumahnya, kita boleh terusik dengan isu yang berkembang. Tetapi pikiran dan energi kita jangan ikut terkuras habis mengurusi isu tersebut. Kewaspadaan dan nalar kritis harus tetap terjaga. Kita harus tetap bereaksi, bersikap dan tapi jangan terlena. Banyak yang harus dibenahi. Selamat merawat energi peduli.

Salam Waras

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Sunday, December 31, 2017 - 17:30
Kategori Rubrik: